Rabu, 06 September 2017

Bahasa Jawa Mendunia, Pedagang di Arab Saudi Banyak yang Berbahasa Jawa

MusliModerat.net -  Tahun ini, lebih dari 200 ribu warga Indonesia ke Arab Saudi untuk berhaji. Di luar itu, puluhan hingga ratusan ribu jemaah umrah datang bergelombang sepanjang tahun. Tak heran, jika pedagang oleh-oleh Saudi, akrab dengan warga Indonesia. Bahkan bisa teriak: "Murah. murah! Seket ewu (limapuluh ribu), selawe (duapuluh lima)".

Di Madinah, sentrum aktivitas jemaah Indonesia adalah sekitar Masjid Nabawi. Bukan cuma aktivitas ibadah, melainkan belanja. Ada banyak toko kecil atau pedagang kaki lima. Jangan khawatir, meski pedagang berwajah Asia Selatan (India, Bangladesh, dan Pakistan), mereka bisa bahasa Indonesia. Minimal kata-kata yang berkaitan dengan harga barang.

"Ini satu sepuluh Riyal. Tiga selawe," kata seorang pedagang berwajah India sambil memegang tasbih. Dia menyebut nama kayu bahan pembuat tasbih yang menurutnya memang mahal.


Ibu-ibu yang berada di toko itu menunjukkan raut kaget, kemudian tertawa. Tentu bukan tawa mengejek, melainkan merasa aneh dengan pengucapan 'selawe', kata dalam bahasa Jawa yang berarti duapuluh lima. 

"Blajar soko ndi ki uwong? (Belajar bahasa Jawa dari mana orang ini)," kata ibu yang kebetulan berasal dari Jawa. Dia berlalu sambil tersenyum dan berbincang dengan satu temannya.

Kadang gaya pedagang membuat jemaah jadi kepo. Saat menawar dengan bahasa Inggris, "How much?", jawabannya justru bahasa Indonesia. "Satu lima Riyal," kata pedagang begitu mengetahui calon pembelinya berasal dari Indonesia.

Di Mekah yang berjarak 450-an kilometer dari Madinah, fenomena serupa terjadi. Hanya saja, letak pusat perbelanjaan atau toko tersebar di berbagai sudut kota. Biasanya di dekat hotel atau pemondokan jemaah Indonesia, ada toko Indonesia. Mereka menjual barang-barang ala Tanah Air seperti mie, sabun, cemilan, dan lain-lain.

Di Jeddah yang berjarak 90-an kilometer dari Mekah malah lebih banyak lagi. Maklum kota tersebut merupakan pusat perdagangan. Jumlah toko bertuliskan 'murah' bejibun. Produknya, terutama oleh-oleh, juga sangat variatif. Mulai dari gantungan kunci, kurma hingga karpet.

Selain toko atau pusat perbelanjaaan, ada juga pedagang mobile yang mengadu untung di masjid. Di Masjid Qisas Jeddah misalnya. Seperti terlihat pada Selasa (5/9/2017), beberapa pedagang 'merayu' jemaah Indonesia.

"Murah, murah! Limapuluh ribu, seket ewu. Boleh pakai rupiah," kata pedagang arloji. 

Sejumlah jemaah yang tuntas melaksanakan salat Asar, berkerumun. Berdasarkan label, arloji tersebut produk China. Mirip-mirip—atau mungkin sama, barang yang dijual di Pasar Senen, Jakarta. Satu dua jemaah tak surut langkah: merogoh kocek dan mengeluarkan uang Rupiah. Jam tangan itu pun berpindah tangan.

Di masjid yang letaknya berseberangan dengan Departemen Luar Negeri Kerajaan Saudi tersebut juga ada pedagang sandal dan parfum. Barang-barang itu laku. Parfum dijual seharga 5 Riyal atau setara Rp 17 ribu. Sementara labelnya bertuliskan 35 Riyal.

Bagi yang pernah haji atau umrah, tentu tak asing dengan suasana itu. Nah, bagi yang belum dan hendak berhaji atau umrah, jangan khawatir saat berbelanja oleh-oleh usai ibadah. Sekali waktu mungkin ketemu pedagang yang bisa mengucapkan kata dalam bahasa Jawa, Padang, atau Sulawesi. Siap-siap tertawa, logat dan pengucapan mereka memang terasa janggal. 
(try/dkp/detikcom)