Senin, 18 September 2017

Adu Kesaktian GP Ansor vs Pemuda PKI di Lapangan Sepak Bola

MusliModerat.net - Kaum santri NU yang tergabung dalam GP Ansor bertemu dengan Pemuda Rakyat di sebuah pertandingan sepak bola. Adu kesaktian bukan adu lihai mengolah bola. 

Gus Yahya Staquf, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin Rembang menulis kisah Kiai Muslih Zuhdi di Teronggosong.com, sebuah komunitas berbagi kisah lucu, unik, antik, termasuk mistik di berbagai pesantren.

Di Rembang menjelang Gestapu, 30 September 1965 banyak diadakan lomba sepak bola. Lucunya ketrampilan mengoah si kulit bundar tidaklah terlalu penting. Keahlian menggasak kaki lawan lebih diutamakan. Lebih-lebih apabila yang bertanding adalah kesebelasan Gerakan Pemuda Ansor, organ pemuda underbow Nahdlatul Ulama (NU), melawan Pemuda Rakyat, organ pemuda underbow Partai Komunis Indonesia (PKI).

Waktu itu ada dukun sakti tokoh PKI namanya Mbah Sumo. Dia andalan Pemuda Rakyat. Di pihak lain, GP Ansor pun punya beking yang nggegirisi (menakutkan) yaitu Kiyai Abdul Wahab Husain. Dalam setiap "pertandingan persahabatan", dua orang itu bertindak layaknya manajer kesebelasan masing-masing. Keduanyalah aktor sepak bola layaknya Sir Alex Fergusson, Manchester United, saat timnya bertemu Roberto Mancini, Manchester City. 

Sebelum bertanding, Kiai Wahab membagikan air suwukan (air yang sudah didoakan) agar diminum pemain-pemainnya. Berbekal suwukan itu, mereka bertanding dengan gagah berani. Pemuda Rakyat pun kian jeri karena tampaknya bola tak lagi terlalu penting buat anak-anak Ansor itu. Kaki lawanlah sasaran utama mereka. Wasit tak berdaya. Memegang peluit saja tak berani dia. Nyalinya terbang sejak tendangan bola yang pertama, karena ia merasa Kiiai Wahab terus-terusan memelototinya. 

Pertandingan terpaksa bubar sebelum waktunya karena seorang pemain Ansor menggasak tiang gawang lawan hingga roboh.

Anehnya, anak-anak Ansor itu berkemas sambil meringis-ringis menahan nyeri. Yang menggasak gawang tadi malah mengerang-erang tak bisa berdiri. 

"Kok suwuknya kurang manjur, 'Yai?" mereka mengeluh pada Kiai Wahab. "Atau kami kurang syarat? Atau terlanjur banyak maksiat?".

Kiiai Wahab nyengir.

"Lha wong tadi itu memang suwuk kendel (biar berani) kok, bukan suwuk kebal..."

Sontak saja para santri Ansor itu nyengir. 

Advertisement

Advertisement