Sabtu, 26 Agustus 2017

Tiga Kunci Rahasia Kewalian Kiai Hamid Pasuruan

MusliModerat.net - Setidaknya ada tiga kunci rahasia “kehebatan” Kiai Hamid. Ketiga hal itu sangat sulit dan tak banyak dipunyai orang lain, namun perlu diteladani – karena beliau menjumputnya dari junjungan beliau, Rasulullah s.a.w. (Sudah tentu ketiga hal ini dalam diri Rasulullah s.a.w. jauh lebih dahsyat.)

Pertama, seperti dikatakan Kiai Syadid Kencong, beliau pas dengan siapa saja. Ibarat sepatu, beliau pas untuk dipakai siapa saja. Tidak terasa kekecilan, apalagi kesempitan, tidak pula terasa kebesaran. Siapa saja yang bertemu dengan beliau, dia merasa pas. Merasa nyaman. Dan bisa mengambil pelajaran. Coba, betapa sulitnya untuk bisa seperti itu. Ada orang yang pas dengan siapa saja karena sikap munafiknya. Bermuka dua. Ibarat sepatu, dia bisa berubah-ubah ukuran – terkadang membesar, terkadang mengecil. Tetapi Kiai Hamid jauh dari hal demikian. Beliau tetap konsisten dengan kewara’an dan kesalehan beliau, tapi beliau bisa pas dengan siapa saja. Biasanya, ada kiai-kiai yang pas dengan orang miskin saja, tapi orang kaya tidak merasa nyaman. Atau sebaliknya, orang kaya merasa pas, orang miskin merasa disepelekan. Kiai Hamid tidak demikian. Orang kaya, orang miskin, pejabat, orang biasa, semuanya merasa cocok dengan beliau. Baik dia santri, ustaz, kiai, habaib, maupun orang awam, semua merasa pas bila bertemu dengan Kiai Hamid.
Ada yang lebih spesial lagi. Terkadang yang datang lebih dari satu orang. Entah tiga orang atau lebih. Mereka datang dengan maksud berbeda-beda. Lalu Kiai berkata singkat kepada mereka. Mungkin berupa perlambang, mungkin nasihat, mungkin cerita, atau lainnya, dan mereka semua merasa terlayani. Merasa hasil maksudnya.
Keistimewaan Kiai Hamid yang bisa pas dengan siapa saja ini barangkali berkaitan dengan sifat-sifat beliau sebagai berikut:

  1. Kecondongan beliau untuk berkhidmat, melayani. Beliau melayani seluruh anggota keluarga. Kalau ada yang butuh sesuatu, beliau bantu. Kalau ada yang tertimpa musibah, beliau hibur. Beliau perhatikan, dan beliau besarkan hatinya. “Aku sekarang menjadi bapak kalian,” kata beliau kepada Ustaz Sholeh Ahmad Sahal, ketika ditinggal wafat ayahandanya. “Kalau ada perlu, kapanpun kamu boleh datang padaku.” Bahkan tidak hanya anggota keluarga, kepada siapapun beliau siap membantu, menghibur dan menerima pengaduan. Hampir semua orang yang membawa dagangan ke tempat beliau, beliau beli barangnya, meski beliau tidak butuh. Beliau lalu membagikannya pada orang lain. Beliau suka direpoti tapi tidak suka merepotkan.
  2. Kecenderungan beliau untuk selalu membuat nyaman orang lain. Beliau tidak membuat orang lain panik atau tegang. Kalau ada yang terlanjur panic atau tegang, beliau kendurkan syarafnya. Entah dengan melucu atau kata-kata yang meneduhkan. Pembawaan beliau yang tidak kaku membuat orang nyaman. Anak, istri, menantu, saudara, pembantu, santri, tetangga, atau siapapun, dibuat nyaman di dekat beliau. Beliau mendidik tanpa membuat tegang. Misalnya, mengajari qashidah kepada cucu beliau sambil bermain. Beliau mendakwahi orang juga tanpa membuat yang didakwahi tegang. Bahkan, terkadang dia tidak merasa kalau sedang didakwahi, tapi pesan itu sudah merasuk ke dalam hatinya.
  3. Beliau tidak membeda-bedakan antara satu dan lain orang. Bahkan cintanya kepada orang miskin luar biasa. Kalau diberi makanan oleh orang miskin, beliau memakannya hingga habis walaupun si pemberi tidak melihat. Dan jika ada tamu, semua kebagian perhatian beliau. Semua ditanyai, semua merasa dihargai.
  4. Beliau selalu berkomunikasi dengan hati, bukan akal, apalagi nafsu.

Hal kedua yang khas, dan sulit dipunyai orang lain ialah, beliau nyaris tidak mengenal kata gengsi. Beliau – meminjam kata-kata anak sekarang — tidak pernah “jaim”, jaga image, atau jaga penampilan. Karena seorang kiai maka penampilan harus berwibawa, dibuat-buat, dan semacamnya. Beliau apa adanya. Terkadang orang yang tidak pernah mengenal wajah beliau terkecoh. Tidak mengira bahwa orang yang ada di dekatnya adalah orang yang namanya sudah demikian beken di seantero Jawa, bahkan hingga ke lain pulau. Beliau pernah lari bertelanjang kaki guna memberi tahu kuli bahwa ada orang yang sedang membutuhkan tenaganya untuk mengangkat barang mebel.
Akhirnya, last but not least, yang sangat spesial pada diri Kiai Hamid adalah, beliau tidak mau menggunjingkan orang lain (ghibah). Ini terdengar sangat sederhana, tapi tidak banyak orang yang dapat mengamalkannya. Bergunjing adalah perbuatan tercela yang paling sulit dihindari, termasuk oleh kiai sekalipun.
Bergunjing timbul dari rasa benci. Beliau tidak punya rasa benci pada orang lain. Bergunjing juga bisa menerbitkan rasa benci atau iri kepada orang lain. Bisa pula meninbulkan rasa sombong, ujub. Karena itu beliau menghindari bergunjing. Beliau ada orang membicarakan orang lain di hadapan beliau, beliau segera mengalihkan topik pembicaraan. Atau, beliau akan meninggalkan majelis itu.  Hamid Ahmad/cahayanabawy.com
Advertisement

Advertisement