Ternyata Gema Haji Ditakuti Barat

thawaf-rukun-haji-dan-sunnah-sunnahnya
Setiap ibadah dalam Islam memiliki efek sosial: salat, puasa, haji, dan ibadah lainnya. Efek itu bervariasi. Ada yang individual, atau mungkin komunal, ada pula yang bersifat keumatan, yang mengatasi batas-batas negara. Yang terakhir, inilah efek sosial haji.
Haji, seperti dikatakan Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitabnya Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuh, adalah ibadah yang membuat keder bangsa Barat. Sebab, mereka sangat paham akan hikmah atau efek potensial haji untuk memperkuat kebersatuan dan solidaritas umat Islam di seluruh dunia.
Al-Jurjawi barangkali tak terlalu berlebihan. Mari kita simak kata-kata Gubernur Jenderal Raffles dalam bukunya, History of Java, “Setiap orang Arab dari Mekah, begitu pula orang-orang Jawa yang pulang dari haji, segera dianggap sebagai orang-orang suci, sementara orang-orang awam sering menyimpulkan bahwa mereka memiliki kekuatan gaib. Karena itu, mudah bagi mereka untuk membangkitkan gerakan perlawanan dalam negara dan mereka menjadi instrumen paling berbahaya di tangan para pejabat yang menentang otoritas Hindia Belanda.” Selanjutnya Gubernur Jenderal kala Inggris menjajah Nusantara itu menulis, “The Mohamedan priests have almost invariably been found most active in every case of insurrection (Para pastur Islam – maksudnya para kiai, haji dan orang Arab–hampir selalu didapati paling aktif dalam setiap kasus pemberontakan).”
Kenyataannya memang demikian. Misalnya, pemberontakan petani di Cilegon (1888 M), yang telah menghebohkan seluruh Hindia Belanda itu, dipimpin oleh Haji Wasid. Begitupun dengan pemberontakan di Sidoarjo dan Yogyakarta, yang meletus pada waktu bersamaan.
Perang Paderi di Sumatera Barat pun mula-mula dipicu oleh Trio Haji yang baru pulang dari Mekah. Mereka tergugah melihat berbagai pelanggaran syariat yang terjadi di daerahnya: sabung ayam, mabuk-mabukan dan semacamnya. Dari mula-mula perang melawan maksiat, lalu berkembang menjadi perang melawan penjajah.
Begitu takutnya pada “pak Haji”, sampai-sampai para pejabat kolonial tidak mau mengangkat anak seorang bupati sebagai pengganti sang bapak karena mereka telah bertitel haji. cahayanabawy.com


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: