Jumat, 11 Agustus 2017

Surat Terbuka dari Ustad Kampung Teruntuk Bapak Muhadjir Effendy

MusliModerat.net - Surat Cinta untuk Bapak Muhadjir Effendy

Ini adalah salah satu sudut gedung Madrasah di kampung kami. Siswanya sekarang sekitar 400 anak.
Luas tanahnya mungkin sekitar 4.000 m2...
Ini status tanahnya adalah wakaf. Bangunannya juga didominasi infaq, jariyah dan swadaya warga, tidak dibangunkan pemerintah.
Bayangkan saja, seumpama ada 7 ribu madrasah sejenis, maka akan ada tanah wakaf selebar 28 juta meter persegi di muka bumi pertiwi ini. Ini kalau hanya 7ribu.
Itu tanah nggak bisa lagi diutak-atik. Boro-boro dijual, disewakan atau dibikin kandang ayam juga nggak boleh.
Kalau semua sekolah menjalankan FDS, gedung itu semua akan pensiun dini, Pak. Padahal ini harta wakaf. Mau diapakan coba? Secara akhirat, ini BAHAYA BESAR, Pak...
Selain tanah wakaf, berapa triliyun uang yang dibikin gedung akan mangkrak sia-sia seperti nasib Hambalang?.
Kalau hambalang itu uang negara, Pak. Nggak begitu berkeringat banyak. Jika madrasah, banyak yang bersumber dari iuran peluh keringat warga.
Bahkan ada yang melakukan dengan model 'jimpitan', setiap sore atau apa lalu ada yang memungut dari 500 rupiah atau berapa, dikumpulkan.
Ini perjuangan sangat hebat yang bisa bokin kualat. Demi apa mereka? Demi agama Islam, Pak... Bukan pesanan ataupun kekuasaan.
Nggak hanya uang, mereka juga rela kerja bakti, ro'an tanpa bayaran. Sekali lagi, demi agama semata, Pak..
Ngeri kan perjuangan orang kampung itu, Pak?
Mengapa FDS ditolak?
Andai saja pendidikan Diniyah itu digabung dengan sekolah pagi secara materi, pertanyaan sederhana saya, berapa jumlah sekolah pagi yang menggunakan satu gedung sama dengan yang digunakana pada sekolah sore?
Jawabnya, tidak banyak.
Lalu, gedung yang hasil dari wakaf orang tua kita yang sudah pada wafat, termasuk mungkin wakafnya ayah ibu Bapak Mentri, tanah dan bangunannya yang mangkrak itu mau dikemanain, Pak?
Buat rumah sakit? Haram hukumnya
Buat kandang kambing, juga haram.
Dikembalikan pada ahli waris lalu dibikin kos-kosan juga haram.
Andai Bapak itu termasuk wakif yang sudah memberikan secara ikhlas legowo atas tanah yang Bapak darmabaktikan untuk amal jariyah kelak, sedang Bapak sekarang sudah istirahat di sana, kira-kira apa harapan yang Bapak cita-citakan atas wakafan itu dari alam sana? Bkankah ingin selalu dapat aliran pahala? Ini dalilnya shahih tanpa ada selisih pendapat lho, Pak.
Atau pula, jika Bapak merupakan salah satu warga yang kurang mampu, lalu demi supaya bisa menyumbang, Bapak rela menjadi tukang mengambil jimpitan di kala matahari akan tenggelam, di saat badan terselimut rasa capai kerja seharian, lalu mengambil di kaleng setiap teras rumah warga, satu per satu, dikumpulkan sehingga cukup untuk menambah biaya pembangunan.
Atau pula, andai Bapak adalah orang yang rela tidak dibayar. Di setiap pukul 14.00, sepulang dari sawah sebelum dzuhur, kemudian berangkat untuk ikut membangun bangunan itu secara swadaya hingga akhirnya ada secercah harapan, anak Bapak kelak jika besar bisa menimba ilmu dengan murah di gedung yang mana Bapak adalah orang yang ikut andil mendirikan itu.
Bagaimana perasaan Bapak jika ada keputusan pemerintah yang pada akhirnya menjadikan asa Bapak sepuluh tahun silam tiba-tiba sirna?.
Ah, sudahlah, ...
Saya tidak kuat meneruskan..
Saya takut, Bapak sedang bermain api.
Harta wakaf itu sudah 'pure' milik ALLAH. Tidak ada lagi manusia yang boleh mengkalim. Dijual lagi tidak boleh, dikembalikanpun juga haram.
Namun, hari ini, tanah-tanah wakaf itu, teramcam.
Semua di tangan Bapak.
Bapak sedang bermain api.
Para Kiai ingin menyelamatkan Bapak dari marabahaya itu, namun, sadarkah Bapak dengan penyelamatan itu?
Sekali lagi, tanah wakaf terancam.
Diancam oleh satu dua orang.
Jika benar tutup, saya kira orang itu sedang melawan Tuhan.
Kam berharap, dan kami doakan Bapak selamat dalam berkegiatan, amin.

Debu terompah
Ahmad Mundzir
Advertisement

Advertisement