Senin, 07 Agustus 2017

Ribuan warga NU tolak 5 hari sekolah di alun-alun Purwokerto



Warga NU demo di alun-alun Purwokerto. ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Muslimoderat.net - Ribuan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyumas memadati alun-alun Purwokerto, menolak dan menuntut pembatalan kebijakan 5 hari sekolah, Senin (7/8). Kebijakan yang diatur dalam Permendikbud no 23 tahun 2017 tersebut dianggap menimbulkan keributan dalam pendidikan dan secara nyata merugikan lebih dari 70 ribu Madrasah Diniyah (Madin), dan ratusan taman pendidikan Al-Quran (TPQ)

Koordinator aksi Taufiq Hidayat mengatakan, Permendikbud terkait lima hari sekolah dianggap memberangus pelajaran nilai spiritual, yang jadi bagian tradisi pendidikan keagamaan ribuan santri. Kebijakan tersebut hanya mementingkan kognitif dan mengesampingkan pembelajaran moral keagamaan. Dalam jangka panjang, kebijakan ini akan menghancurkan kepribadian anak bangsa.

"Pondok pesantren terancam gulung tikar. Juga kegiatan agama. Anak-anak tak lagi berpikir pelajaran agama karena lelah belajar, padahal sore hari sudah jadi bagian tradisi NU untuk belajar agama," kata Taufiq dalam orasinya.

Presiden Komunitas Nahdiyin Banyumas Agus Maryono mengatakan, ribuan keluarga besar NU Banyumas tumpah ruah di alun-alun Purwokerto untuk membela harkat martabat NU. Protes ribuan warga NU semata-mata untuk menjaga pendidikan, lembaga pendidikan milik NU yang tumbuh subur di Indonesia. Lembaga NU saat ini ditegaskan Agus tengah diusik oleh kebijakan tersebut.

"Telah banyak protes. Akan tetapi tidak pernah didengarkan. Maka kami turun ke jalan. Warga NU Banyumas dengan tegas menolak, meminta Presiden Jokowi untuk menegur menteri. Jika menteri tetap tak mendengar kami minta Menteri Muhajir Effendi dicopot," tegas Agus dalam orasinya. [cob]
Sumber: Merdeka.com
Advertisement

Advertisement