Jumat, 18 Agustus 2017

Orasi Kebangsaan Pesantren Lirboyo, Tasyakuran Kemerdekaan Indonesia

Orasi Kebangsaan
Dalam Tasyakuran Kemerdekaan Republik Indonesia Yang Ke 72
Yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Lirboyo
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله الذى هدانا على دين الإسلام والإيمان وأنعم علينا فتح بلدتنا الإندونيسى والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا ومولانا محمد صلّى الله عليه وسلّم وعلى آله وصحبه أجمعين, أمّا بعد
Yang kami muliakan, segenap pengasuh, masyayikh dan dzurriyyah Pondok Pesantren Lirboyo,
Yang kami hormati, segenap pengurus – pengajar Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien,
Para santri sekalian yang berbahagia.

Awwalan, marilah kita menghaturkan puji syukur Alhamdulillah ke hadlirat Allah SWT atas segala takdir-Nya, sehingga pada kesempatan malam hari ini kita dapat berkumpul di aula Al-Muktamar untuk bersama-sama mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat agung-Nya kepada bangsa Indonesia yang berupa Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 silam, sekaligus untuk bersama-sama mengungkapkan terimakasih yang tiada terhingga kepada para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Kita semua berkumpul di sini untuk berdoa dan memohon kepada Allah SWT, agar darma bakti para pahlawan diterima oleh Allah SWT serta semoga Indonesia terus dan senantiasa merdeka dalam segala hal, aaamiiin.
Selanjutnya, sholawat beserta salam, semoga senantiasa tercurahkan ke haribaan Junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang selalu kita harapkan syafa’atnya, terutama syafa’at udhmanya kelak di hari qiyamat. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya, aaamiiin.
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi berbagai masalah, seperti banyaknya kasus korupsi, pengangguran, penganiayaan terhadap TKI/TKW, tawuran pelajar dan yang paling mengerikan adalah menurunnya jiwa nasionalisme. Budaya barat dianggap lebih modern sehingga melupakan budaya sendiri. Kemerosotan nilai luhur bangsa terjadi hampir pada semua generasi muda, baik di kota maupun di desa. Sebenarnya yang terjadi bukanlah penurunan semangat nasionalisme, tapi penurunan jumlah kaum muda yang peka terhadap kesadaran nasionalisme.

Hadirin yang berbahagia,
Ketika sekelompok kaum muda meributkan soal selebritis yang sedang terkena kasus perceraian atau tentang konser grup musik idola atau tentang gaya hidup yang modern, maka kedatangan kaum muda lainnya yang membawa topik nasionalisme kadang dikatakan tidak gaul, sok pintar dan topiknya dianggap terlalu berat untuk dipikirkan. Ketika kaum muda ini berusaha untuk memupuk semangat nasionalismenya agar tidak luntur, berbagai media justru memberondong dengan info-info hiburan dan sinetron-sinetron yang bahkan tak ada kontribusinya terhadap kemaslahatan publik. Belum lagi desakan ekonomi keluarga yang menuntut kaum muda untuk memperbaiki derajat hidup keluarganya yang merana. Bagaimana mau memikirkan tentang nasionalisme sedangkan isi perut untuk hari esok saja masih tak tentu wujudnya. Yang tak kalah tragisnya, kaum muda yang berasal dari kalangan berada juga sudah terlalu sibuk memenuhi tuntutan orang tuanya untuk membantu memikirkan tentang masa depan usaha keluarganya, sehingga tak ada lagi waktu untuk memikirkan tentang semangat nasionalisme.
Hadirin yang berbahagia,
Ketika orang tua, kalangan pendidik, pejabat dan pemerintah menunjukkan gejala yang memprihatinkan tentang kesadaran nasionalismenya, maka kaum muda kebingungan karena kehilangan figur nasionalis. Semakin sedikit sosok yang bisa menjadi contoh nyata untuk diteladani dalam membangkitkan kesadaran nasionalisme itu. Apa yang bisa ditiru ketika kekayaan tambang dan sumber minyak Indonesia yang begitu melimpah ruah, justru diserahkan kapada pihak asing untuk dikelola? Bagaimana mungkin kesadaran nasionalisme itu bisa terbentuk ketika pejabat negara yang seharusnya adalah seorang abdi negara dan pelayan masyarakat justru sibuk berupaya untuk meningkatkan citra diri dan memperkaya diri sendiri? Bagaimana bisa berpegang teguh pada nilai-nilai luhur bangsa ketika para pemimpin justru sibuk mencari massa? Bagaimana bisa menghargai jasa para pahlawan ketika pelajaran Sejarah, Pancasila dan Kewarganegaraan dianggap sebagai ilmu sampingan yang nilainya tak berharga dibandingkan pelajaran Ujian Nasional? Bukankah itu semua menjadikan kita semakin mengalami krisis nasionalisme?
Hadirin yang berbahagia,
Sudah saatnya kita berbenah diri. Kita sebagai generasi muda wajib menumbuhkan jiwa nasionalisme yang sudah mulai pudar ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar jiwa nasionalisme ini tetap menyala bahkan membakar semangat. Kita sebagai seorang santri jangan hanya berpangku tangan, bergeraklah!!, mempenglah!!. Kalau bukan kita yang mencintai negeri ini, siapa lagi? Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang paling kecil, mulailah hari ini!

Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti,
Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah SWT. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah SWT untuk memiliki Bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih adalah harga diri Bangsa, kehormatan Bangsa. Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri Bangsa dan pada sang saka Merah Putih.

Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, tetapi diwujudkan setiap saat yang pada umumnya ditandai dengan pengibaran sang saka Merah Putih. Betapa pentingnya cinta tanah air, salah satu contohnya dengan menghormati Bendera Merah Putih. Meskipun menjahit atau membikin merah putih itu gampang, namun banyak darah yang mengucur, banyak pengorbanan yang penuh rasa sakit demi menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Bendera Merah Putih. Sehingga sebagai bangsa Indonesia, kita harus mempunyai penghormatan yang luar biasa kepada Merah Putih, harus menyucinya dan merawatnya dengan penuh perasaan cinta.
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Yang memperjuangkan Bangsa ini adalah para ulama, kiai dan pejuang muslim yang tak sempat dianugerahi bintang gerilya. Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti kesatuan Bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah. Wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan Negara ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.
Melihat dari sikap dan perilaku para elit, termasuk juga masyarakatnya yang tidak pernah rukun, selalu ribut dalam perbedaan dan khilafiyah, itu juga menjadi pertanda bahwa semangat nasionalisme sekarang ini semakin menurun. Segala sesuatu selalu dipolitisir dan dihubung-hubungkan, yang akhirnya hanya saling menyalahkan. sehingga, Indonesia hanya dijadikan lintasan saja oleh bangsa lain. Kita tidak ingin masalah khilafiyah ini dibesar-besarkan, yang ujung-ujungnya hanya menjadikan Indonesia negara yang selalu jadi tontonan. Padahal dengan segala potensinya, Indonesia mampu menjadi negara yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu tugas umat Islam, lebih-lebih para santri, agar Indonesia bisa maju dan sejajar dengan negara-negara lain.
Hadirin sekalian yang berbahagia,

Umat Islam seharusnya memasang gambar-gambar para pahlawan, khususnya pahlawan Islam, seperti Pangeran Diponegoro, juga gambar-gambar para wali, termasuk pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini dilakukan agar setiap warga yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan yang ada di gambar itu, semangat untuk membela negara, semangat untuk memerdekakan Negara dan semangat kepahlawanannya. Bukan bermaksud syirik maupun menyekutukan Tuhan dengan gambar-gambar itu, tetapi semangat yang dimiliki para pahlawan itulah untuk dikenang dan diamalkan di era sekarang ini, bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Mereka yang sudah syahid, tidak tinggal diam untuk bangsa dan generasi penerusnya.
Hadirin sekalian yang berbahagia,

Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, menjadi ideologi negara, memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI, karena Pancasila dimiliki oleh semua pihak. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan. Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik, maka tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air dan bangsa. Dan itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.
Aliran-aliran di luar Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang meresahkan, mereka adalah kelompok Islam yang menolak Pancasila dan menganggap pemerintah tidak sah. Untuk mengatasi kelompok Islam seperti ini perlu ditekankan pentingnya sosialisasi ajaran Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Jangan sampai anak seorang tokoh NU, menjadi anggota Islam radikal.
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Demikian Orasi Kebangsaan yang bisa kami sampaikan, semoga dapat menjadi penggugah dan pendorong kita untuk terus bersemangat meneruskan perjuangan para pendahulu. Apabila ada kekhilafan dan kekurangannya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
والله الموفّق إلى أقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Lirboyo16 Agustus 2017
Artikel Ini dimuat di Aswajamuda.com -
Advertisement

Advertisement