Jumat, 11 Agustus 2017

Mencerdaskan Ustadz-ustadz Selebriti yang Ngawur dalam Berfatwa

Oleh Faried Wijdan

MusliModerat.net - Beberapa pekan terakhir, sejumlah ustadz  penceramah di TV dikritik oleh masyarakat internet (netizen) karena materi-materi ceramah yang dianggap kontroversial dan ‘waton’ alias ‘ngasal’. Pembahasan ‘Ustadz-ustadz TV’ tersebut sudah terlampau meluas karena beberapa di antaranya membahas soal ilmu kesehatan hingga ekonomi.
 
Ada yang menyebut bahwa ibu-ibu yang melahirkan dengan metoda bedah cesar memiliki gangguan jin di tubuhnya. Ada juga yang bilang bahwa satu alasan perempuan susah punya anak karena 'sering pakai pembalut dan sepatu hak tinggi.' Ada yang sembrono menyebutkan bahwa 'pesta seks' sebagai nikmat yang diberikan Allah di surga. 

Jauh sebelumnya seorang penceramah perempuan menyebut dalam sebuah ceramahnya, bahwa orang-orang yang gemar bermain gadget adalah orang 'autis' , yang langsung diprotes oleh komunitas peduli autisme.

Menurut kamus Bahasa Arab Al-Mu’jamul Wasith arti dari ustadz adalah pendidik atau orang yang memiliki keahlian dalam suatu bidang dan mengajarkannya kepada orang lain. Ustadz dalam bahasa Arab (yang berarti guru/profesor) di Indonesia dikacaukan dengan ARTIS yang bertablig (berdakwah).
 
Padahal, secara terminologi ustadz itu profesor, kelasnya satu derajat di bawah Syaikh: orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan (man balagha rutbatal fadli), karena selain pandai (alim) dalam masalah agama, mereka mengamalkan ilmu itu untuk dirinya sendiri dan mengajarkan kepada murid-muridnya.
 
Ustadz itu seharusnya akrab dengan kejujuran dan kerendahan hati bukan dusta dan kesombongan. Kesombongan ialah mengatakan sesuatu yang tidak ia tahu, menyatakan ini itu salah dan tidak ada dasarnya. Ustadz itu tugas pokok dan fungsinya menyampaikan risalah langit, bukan risalah pasar. 

Kanjeng Nabi Saw. dalam hadisnya memberikan warning (peringatan dini) kepada umatnya agar berhati-hati terhadap Ruwaibidhah. Ciri-ciri Ruwaibidah adalah ‘berlagak alim dan fakih, berlagak suka menyalah-nyalahkan cara beragama sesamanya, dan ‘latah’ menyesat-nyesatkan liyan tanpa ilmu’, serampangan dan waton menghukumi persoalan fikih.
 
Motivator cum penulis buku-buku Megasbestseller, Dr. ‘Aidh al-Qarni — menyebut orang semacam ini disebut sebagai: al-Ahmaq (orang bodoh). Mereka bodoh namun tidak sadar akan kebodohannya. ‘Ahmaq’ bisa juga berarti al-ghurur, penipuan. Orang dungu disebut ahmaq karena kalau Anda tidak berhati-hati, maka akan tertipu olehnya. Anda mengiranya pandai, tenyata tidak pandai. Mereka adalah golongan “laa yadri wa laa yadri annahu laa yadri“; yaitu orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu.
 
Sudah bodoh tapi tidak tahu akan kebodohannya sendiri. Pangkal penyakitnya ialah tidak tahu diri, suka mengagumi diri sendiri (ujub) dan merasa diri sendiri selalu benar, yang lain jahiliyah dan salah. Para Ruwaibidhah selalu mencitrakan diri sebagai seorang pakar, paling otoritatif dalam semua bidang, doyan berdusta atas nama kebenaran sehingga ‘membius’ banyak muqallid (pengikut) yang kebanyakan tidak kritis dan ogah mencek ulang setiap informasi yang didapat. Adapun lawan kata dari ahmaq bukanlah pintar atau mahir, melainkan haunan (rendah hati) dan tahu diri. Tahu diri itu tidak berbicara suatu persoalan, yang dia tidak tahu, bukan keahliannya. Tahu diri adalah pangkal kearifan.
 
Akhirul kalimat, Ibnu Syubrumah pernah ditanya, “Apa batasan dungu?” Dia menjawab, “Tidak ada batasannya.” Orang ahmaq diketahui melalui: berbicara tanpa pertimbangan, tanpa ilmu. Bila akal seseorang sempurna maka dia sedikit berbicara, bila akal seseorang kurang maka dia banyak berbicara. Ali ibn Musa al-Ridla, bersabda al-Masih Alaihissalam: “Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah; kemudian aku obati orang dungu namun aku tidak mampu menyembuhkannya!”.

Maka beliau pun ditanya, “Wahai ruh Allah, siapa orang dungu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kagum kepada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) baginya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya.”

Dalam Kitab Faidhul Qodir Syarah Al-Jami' Ash-Shoghir, karya Imam Abdurrouf Al-Munawi, juz VI, h. 369 disinggung bahwa ciri-siri ulama su’, adalah ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia tahu.

Penulis pernah belajar di Madrasah Diniyah Al-Huda, Petak, Susukan, Kabupaten Semarang.

Sumber: NU Online
Advertisement

Advertisement