Jumat, 11 Agustus 2017

Di Purbalingga, Dua Madin Mati Karena “Full Day School”

Suasana Lailatul Ijtima': Suasana malam lailatul ijtima' di Kantor PWNU Jateng Jl. Dr Cipto Semarang, Rabu (9/8/17) malam tampak dari atas. Foto: Munif Ibnu.
Semarang, muslimoderat.net – Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh menyatakan, di Jawa Tengah sudah puluhan Madrasah Diniyah (Madin) yang gulung tikar karena “full day school”. Santri madin sudah tak ada yang mengaji semenjak beberapa sekolah formal menerapkan sekolah hingga jam empat sore.
“Di Kabupaten Purbalingga sudah ada dua Madin yang mati. Di Lampung juga ada madrasah yang muridnya tinggal dua. (Madrasah) ini simbol NU. Kalau (madrasah) mati, NU mati,” kata Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shadaqoh pada malam lailatul ijtima’ di Kantor PWNU Jateng Jl. Dr Cipto Semarang, Rabu (9/8/17) malam.
Pada malam pertemuan rutinan PWNU kali ini sangat istimewa karena dihadiri pengamat NU dari Australia, Prof Greg Barton. Penulis buku Biografi Gus Dur ini hadir di PWNU Jateng karena bersamaan dengan kegiatan di Akpol Semarang.
Hadir pula Wakil Ketua Tanfidziyah Najahan Musyafak, Sekretaris Tanfidziyah KH Mohamad Arja Imroni beserta seluruh jajaran Lajnah dan Banom. Hadir pula Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman serta para mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari kampus UIN Walisongo, IKIP PGRI, Unnes, dan Undip Semarang.
Kiai Ubed, sapaan akrabnya, meyakini jika di Indonesia tidak ada NU, NKRI akan bubar. Sementara saat ini NU sedang terancam kehilangan generasi karena Madin diberangus melalui Permendikbud No. 23 Tahun 2017. Ia yakin, jika Madin gulung tikar, maka pesantren pun demikian. Jika pesantren mati, maka matilah NU.
Pesantren Mati
“Tantangan yang sangat berat bagi NU matinya Madin. Kalau madrasah mati, pesantren juga akan mati. Karena kesadaran awal untuk ke pesantren mulanya dari Madin. Sementara pesantren itu daya tampungnya terbatas,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Tlogosari Semarang ini.
Kiai Ubed menambahkan, kekuatan Indonsia terletak pada sisi spiritualitasnya. Negara yang sangat luas dan beragam permasalahan, namun Indonesia masih tetap kokoh berdiri. Karena itu, ia mengajak kepada jamaah Nahdliyin untuk berdoa semoga NU dan Indonesia mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapi.
“Bangsa kita memiliki sisi spiritualitas yang tinggi. Melebihi bangsa-bangsa di Arab sana. Negara ini memliki masalah yang sangat kompeks. Mari kita renungkan dan bandingkan antara kekuatan senajata negara kita dan luasnya negara ini serta masalahnya, apakah sebanding,” paparnya.
Pada akhir wejangannya, Kiai Ubed meninggung Perpu No. 2 Tahun 2017 tentang Ormas. Menurut Kiai Ubed, warga NU harus tetap waspada karena ideologi HTI masih tetap eksis meskipun organisasinya dibubarkan.
“Perpu No. 2 Tahun 2017 sebagai kulitnya saja. Alirannya dilarang, tapi sel-selnya masih tetap eksis. Sekolah, masjid dan boarding school itu masih jalan. Jangan anggap dengan adanya Perpu itu kemudian HTI itu mati. Kita jangan tenang tenang saja,” tandasnya. [Ceprudin/005]
Sumber : NUjateng.com
Advertisement

Advertisement