Sabtu, 26 Agustus 2017

Dari dulu Hingga Nanti, NU Tak Pernah Meninggalkan Palestina

MusliModerat.net - Suara Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) serak-sendu hampir menangis. Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2013-2015 ini membacakan puisi "Orang Palestina, Begitulah Namaku" karya Harun Hashim al-Rashid. Di larik “Lalu mereka menginjak-injak namaku, menginjak-injak badanku,” suaranya makin tersengal. Di satu titik, menjelang puisi berakhir, ia meneteskan air mata. 

Puisi yang dibacakan Gus Mus itu mengisahkan kepedihan orang-orang Palestina yang terampas dan terusir dari negerinya sendiri. Bersama aktor kawakan Slamet Rahardjo Djarot, Gus Mus mendeklamasikan puisi tersebut secara bilingual. Gus Mus membaca versi bahasa Arab, Slamet kebagian terjemahan bahasa Indonesianya.

Malam Jumat lalu (24/8) di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Gus Mus tampil bersama tokoh-tokoh dan para penyair lain membawakan puisi-puisi sastrawan Palestina. Di antara mereka yang tampil adalah Renny Djajoesman, Joko Pinurbo, Abdul Hadi WM, Mahfud M.D., Taufik Ismail, dan Jamal D. Rahman. 

Gus Mus adalah penggagas acara bertajuk "Doa untuk Palestina: Malam Pembacaan Puisi-Puisi Palestina" ini. Awalnya, ia hanya menyampaikan informasi soal acara itu kepada beberapa tokoh dan penyair yang ia kenal. Ia tidak menyangka mereka menyambut baik. Kata Gus Mus, kehadiran para tokoh dan penyair menandakan mereka memiliki satu rasa kepada Palestina. 

“Kita simpati kepada saudara kita yang perjuangannya sama,” ujarnya seperti dilansir NU Online.

Pembacaan puisi itu sebenarnya ingin membangkitkan lagi acara serupa yang diselenggarakan 35 tahun lampau sekaligus menggalang solidaritas masyarakat Indonesia untuk Palestina. Sebulan lalu, tentara Israel bentrok dengan demonstran Palestina yang menentang penggunaan detektor logam kepada warga yang hendak menunaikan salat Jumat di Masjid al-Aqsa. 
Pada 1982, atas inisiatif Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Dewan Kesenian Jakarta mengadakan "Malam Doa Palestina" yang juga menampilkan pembacaan puisi. Ia mengusulkan agar acara tersebut diisi dengan pembacaan puisi-puisi karya penyair Palestina seperti Nizar Qabbani dan Mahmoud Darwish. Di acara itu, Gus Mus untuk pertama kali membacakan puisi di depan umum.

“Gus Mus menjadi penyair karena Palestina,” tandas Ulil Abshar-Abdalla, cendekiawan NU yang juga ketua panitia acara, pada pidato pembukaan. “Gus Mus membacakan puisi 35 tahun yang lalu di Taman Ismail Marzuki.” 

Sebagaimana dikisahkan oleh Husein Muhammad dalam Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015), Gus Mus mengenang bagaimana "kariernya" sebagai penyair bermula dari acara itu. “Saya diminta Gus Dur untuk membaca puisi di TIM. Padahal, saya hanya orang desa dan santri sarungan yang tidak mengerti sastra dan puisi, kok diminta tampil di Ibu Kota?” kenangnya. Gus Dur waktu itu menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta. 


Meski awalnya sempat tegang lantaran ia baru merasakan pembacaan puisi di muka umum, apalagi bertemu dengan banyak penyair hebat, Gus Mus mendapat giliran pertama membaca. Sesampainya di TIM, ia bertemu dengan penyair-penyair hebat, salah satunya Subagio Sastrowardoyo. 

Sang penyair sedang tekun membaca atau menghafal puisi-puisi di sebuah sudut di ruangan itu. Para penyair itu rencananya akan membaca puisinya terlebih dahulu, sedangkan Gus Mus tampil belakangan. Namun, salah seorang penyair usul agar puisi berbahasa Arab dibacakan duluan. Gus Mus-lah yang harus melakukannya.

"Tentu saja, dada saya berdegup. Ada rasa gugup dan cemas,” tuturnya.

Setelah malam itu, ia makin gandrung kepada puisi dan label penyair seperti makin absah disandangnya. 

“Sejak itu, orang menyebut saya penyair."

"Doa untuk Palestina" tahun ini diselenggarakan lewat kerja sama beberapa lembaga yang berafiliasi dengan NU: GP Ansor, Wahid Foundation, Gusdurian, Nutizen, dan NU Online. Bagi Ulil, “Acara ini adalah hasil kerja para santri. Penggagas dan pelaksananya adalah santri. Penggagasnya Gus Mus, santri senior. Penyelenggaranya santri-santri Gusdurian, santri dari Rembang, dan santri lainnya.”

Acara ini juga ingin menonjolkan Palestina dari sisi yang yang tidak banyak terungkap dalam wacana solidaritas Palestina di Indonesia. Biasanya, Palestina dibicarakan lewat pawai-pawai besar dan acara kolosal. Namun, acara ini kata Ulil tidak hanya membicarakan darah yang mengalir, pendudukan Israel, dan penderitaan masyarakat Palestina, tetapi juga orang-orang yang menciptakan dan memproduksi puisi-puisi yang indah. 

"Banyak orang lupa bahwa banyak penyair hebat lahir di Palestina,” lanjutnya. 

Sebagai organisasi Islam, NU memang terkesan lamat-lamat saja dalam mengkampanyekan solidaritas Palestina. Meski sebenarnya selama bertahun-tahun mereka tetap memperjuangkan Palestina dengan caranya sendiri. Lewat acara ini, setidaknya NU mulai kencang lagi dalam menyuarakan isu Palestina. 

Qunut Nazilah untuk Palestina

Sejak delapan puluh tahun lalu, Nahdlatul Ulama sebenarnya sudah vokal menyuarakan nasib Palestina. Seperti dikisahkan Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013), Hoofdbestuur Nahdlatul Ulama mengeluarkan seruan kepada semua organisasi Islam di Hindia Belanda pada 1938. 

Isinya: mendorong ormas-ormas Islam agar bersikap tegas terhadap apa yang dilakukan orang-orang Yahudi dan bahu-membahu menolong Palestina untuk memerdekakan diri dari kaum Zionis. Bila dibaca dari perspektif dekolonisasi, ini merupakan ungkapan yang agresif pada saat itu, mengingat Belanda masih berkuasa di sini.

NU juga membentuk Palestine Fonds (Dana Palestina) untuk mengumpulkan sumbangan dari seluruh Hindia Belanda dan menjadikan tanggal 27 Rajab (peringatan Isra Mi’raj) sebagai “Pekan Rajabiyah” untuk mendorong pembebasan Palestina. 

Yang menarik, NU menginstruksikan kepada seluruh warga nahdliyin dan umat Islam agar membaca Qunut Nazilah pada setiap salat wajib yang ditujukan kepada Palestina. Qunut Nazilah adalah doa khusus yang diselipkan setelah rukuk apabila terjadi situasi genting atau terjadi bencana. 

Dalam menyikapi situasi di Palestina, Qunut Nazilah mempunyai makna politik sebagai tanda dukungan terhadap kemerdekaan bangsa Palestina sekaligus bentuk protes terhadap kesewenang-wenangan Israel. 

Pemerintah kolonial paham kandungan politis dari doa tersebut dan khawatir ia bisa mengganggu ketertiban. Mereka pun melarang NU melakukannya. Gara-gara itu, Ketua Hoofdbestuur Nahdlatul Ulama Mahfudz Shiddiq sempat dipanggil oleh pejabat Hoofdparket (Kejaksaan) untuk dimintai keterangan. 

Rais Akbar NU Hasyim Asy’ari kemudian melakukan klarifikasi pada saat Muktamar 1939 dilaksanakan. Pada pidato pembukaan, ia menyatakan Qunut Nazilah warga NU bukan untuk menghina umat lain seperti yang dituduhkan, tapi semata-mata kewajiban sebagai sesama umat Islam untuk menunjukkan solidaritasnya. Hal itu adalah perintah Nabi Muhammad kepada tiap umatnya ketika menghadapi bencana.

Sejak saat itu, NU gigih memperjuangkan Palestina sampai tiba masanya ketika cucu Sang Rais Akbar memimpin organisasi ini.

Gus Dur Mempertimbangkan Win-Win Solution

Sejak Gus Dur memimpin NU pada 1984, isu Palestina sebenarnya mendapat porsi besar di tubuh kaum nahdiyin. Sebelum menjabat Ketua Umum PBNU, Gus Dur memang dikenal sebagai salah satu tokoh Indonesia yang aktif menyuarakan isu-isu pembebasan Palestina. Acara pembacaan puisi di TIM pada 1982 yang digagas Gus Dur adalah salah satu buktinya. 

Kesan pro-Palestina Gus Dur memang agak tertutupi oleh langkah-langkah kontroversialnya yang memicu tuduhan bahwa ia pro-Israel. Gus Dur pernah menjadi anggota The Peres Center for Peace and Innovation, yayasan perdamaian yang didirikan oleh bekas presiden Israel Shimon Peres. Pada awal 1990-an, Gus Dur juga melontarkan pernyataan bahwa suatu hari Indonesia harus mengakui negara Israel dan membuka hubungan diplomatik dengannya. 

Tapi toh itu tidak pernah mengurangi sedikit pun solidaritas Gus Dur terhadap Palestina. Djohan Effendi menceritakan dalam Damai Bersama Gus Dur (2012) bahwa Gus Dur tersentuh hatinya ketika berkunjung ke Israel dan menemui rakyat di kedua kubu yang bertikai. Ia bertemu dengan orang Yahudi dan warga Palestina, yang Islam maupun Kristen. 

Kedua pihak sebenarnya menginginkan perdamaian. Mereka mengatakan pada Gus Dur: “Hanya mereka yang berada dalam keadaan perang yang tahu persis apa makna damai.” Dari situlah Gus Dur mulai mewacanakan perlunya win-win solution bagi Palestina dan Israel. 

Inilah yang kemudian menjadi landasan kebijakan PBNU masa Gus Dur dalam menyikapi konflik Palestina-Israel. Solusi moderat ini memang terkesan mendua dan tidak tegas bagi kalangan Islam yang lantang menyuarakan Israel harus enyah sama sekali dari tanah Palestina. Namun, dengan pertimbangan realitas politik dan faktor kemanusiaan, Gus Dur lebih memilih jalan tengah.
NU Tak Pernah Meninggalkan Palestina

Konsisten Memperjuangkan Palestina

Setelah masa Gus Dur lewat, NU tetap konsisten memperjuangkan Palestina. Tak terhitung jumlah pernyataan, press release, dan seruan yang datang dari PBNU soal nasib Palestina.

Namun, yang paling menonjol adalah isu Palestina ini menjadi salah satu keputusan muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015. Komisi Rekomendasi Muktamar secara khusus merumuskan rekomendasi konkret yang harus dilakukan oleh pihak-pihak terkait baik PBNU, pemerintah, maupun lembaga internasional seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan PBB. 

Secara tegas, PBNU juga mendukung kemerdekaan Palestina. Ini sekaligus menjadi amanat dan sikap resmi PBNU dalam menyikapi konflik Israel-Palestina. 

Sehari setelah insiden detektor logam meletus (26/7), Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menyerukan agar negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB harus memberi perlindungan secepatnya kepada Palestina. Baginya, perlindungan tersebut bisa menepis anggapan miring bahwa PBB cenderung mengabaikan Palestina. 

PBNU sendiri melakukan tindakan nyata dengan membentuk Komite Kemanusiaan dan Kemerdekaan Palestina (K3P) untuk membantu menangani krisis kemanusiaan di sana. “Tugas K3P ini selain memperjuangkan keselamatan dan hak rakyat Palestina, juga menggalang solidaritas dunia untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Palestina,” terang Helmy.

Lewat pernyataan tersebut, Helmy juga mengaskan sekali lagi posisi NU dalam menyikapi konflik Israel-Palestina bahwa apa yang terjadi di tanah para nabi itu bukan pertikaian agama, melainkan persolalan kemanusiaan. 

Katanya: “Kami memandang apa yang terjadi di Palestina adalah krisis kemanusiaan. Maka yang digalang komite ini bukan hanya sebatas ukhuwah Islamiyah tapi lebih dari itu adalah ukhuwah insaniyah, persaudaraan kemanusiaan.”


Dan malam kemarin NU berhasil menunjukkan solidaritas kepada Palestina, tak melulu dengan pawai dan demonstrasi yang tipikal. Para santri NU yang bergiat di acara "Doa untuk Palestina" melakukannya dengan jalan yang bisa dipahami secara universal dan lewat medium yang paling menggetarkan: puisi.

Sumber : tirto.id

Advertisement