Jumat, 11 Agustus 2017

Buya Syafii Maarif: Kelompok Intoleran Lahir dari Politik

MusliModerat.net - Rasa nasionalisme bangsa Indonesia sedang mendapat ujian. Sebagian kelompok masyarakat mencoba melawan arus kebangsaan dengan menggoyang dasar-dasar filosofi bangsa dan bertingkah laku bak hidup dalam kondisi perang.
Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Ahmad Syafii Maarif yakin bahwa munculnya kelompok-kelompok intoleran di negara ini cenderung berakar dari kepentingan politik atau demi syahwat kekuasaan, para politisi memanfaatkan kehadiran kelompok intoleran dan radikal ini untuk meraih suara. “Politisi menjual agama dan Tuhan demi kepentingan sendiri, bukan umat.”
Maka, hadiah terbesar yang diharapkan bangsa ini dalam perayaan ke-72 tahun Indonesia merdeka adalah sadarnya para politikus untuk tidak lagi memanfaatkan kelompok intoleran dan radikal.
“Bangsa ini harus segera siuman. Para politisi sadar,” kata dia.
Kondisi ini juga diperlemah sikap pemerintah yang lambat merespon berbagai polemik yang merugikan bangsa Indonesia, karena belum terwujudnya keadilan ekonomi dan sosial di seluruh wilayah itulah yang memicu rasa frustasi bangsa. Kedua, munculnya pemahaman yang salah akan budaya Arab.

Oleh sebagian kecil umat muslim di Indonesia, budaya Arab yang masuk, dianggap sebagai ajaran Islam. Padahal, orang yang mengerti bahasa Arab belum tentu paham tentang Islam dan tidak semua orang Arab menyetujui tindakan intoleran dan radikal.
“Hati-hati dengan Arabisme yang salah jalan,” lanjutnya.
Dia mengatakan Islam sebagai agama harus dibedakan dengan budaya Arab. Celakanya, bagi orang Indonesia, semua yang berbau Arab, justru dianggab suci dan pasti bagus. Padahal, masyarakat Arab yang masih ‘normal’, justru banyak yang memilih pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Mereka tidak tahan dengan situasi politik di negaranya. Mereka justru pergi ke negara-negara yang bukan mayoritas Muslim, untuk mendapatkan kedamaian.
"Apalagi sekarang kawasan Arab sedang guncang. Bangsa Arab dalam kondisi kalah total dalam persaingan pembangunan peradaban dan kehidupan manusia. Dunia Arab kalah dalam perlombaan ideologi, ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, dan perekonomian dunia," kata dia.

Pria yang akrab dipanggil Buya Syafii ini menyampaikan sebuah ungkapan yang memperlihatkan keprihatinan mendalam adanya rekayasa beriman yang hanya didasarkan pada keinginan berkuasa manusia. "Tuhan sudah dibajak, padahal jelas bahwa Islam adalah agama yang paling toleran dan tertuang jelas di surat Yunus ayat 99,"
Banyak ayat-ayat Alquran yang salah ditafsirkan. Ironisnya, penafsiran yang salah itu digunakan untuk 'meracuni' orang lain agar mengikuti ideologi kekerasan ala kelompok radikal.
"Coba saja cari di Alquran, apakah islam mengajarkan teror? Tidak ada. Memahami Alquran itu harus dilihat secara keseluruhan karena di sana ada benang merah, bukan dengan pemahaman yang dangkal dan sepenggal-sepenggal," lanjutnya.
Menurutnya, Alquran lebih dulu mengajarkan tentang keragaman umat manusia dibandingkan dengan Bhinneka Tunggal Ika digaungkan di Indonesia oleh Mpu Tantular sekitar abad ke-14. Karena itu tidak ada alasan bagi bangsa Indonesia untuk mempersoalkan perbedaan.

Pendiri Maarif Institute ini menegaskan bangsa Indonesia harus kembali kepada sejarah. Harus bisa meniru apa yang pernah dilakukan Soekarno-Hatta. "Ada baiknya baca kembali dua buku penting, yaitu pidato Hatta 1927 berjudul Indonesia Merdeka, juga buku Indonesia Menggugat yang ditulis Soekarno pada 1930," kata dia.
"Bangsa Indonesia bisa bertahan hingga ribuan tahun jika muncul negarawan di semua bidang, baik tingkat desa maupun nasional, karena ada perbedaan mendasar antara politikus dan negarawan. Politikus mengikuti kebutuhan jangka pendek dan pragmatis, sedangkan negarawan ialah sosok yang memikirkan bangsa dan negara untuk ribuan tahun mendatang," tutupnya.



Sumber: Suara Pembaruan
Advertisement

Advertisement