Yang Mengancam Indonesia saat ini Teroris Mbah Amien, Bukan PKI

Foto: Detik
MusliModerat.net - Ketika pulang kampung kemarin, saya sempatkan bertanya pada keponakan saya, “Kamu mau berangkat ke Filipina?” Dengan jelas layaknya gestur militer pada umumnya, ia menjawab, “Iya, sebentar lagi”. Dari situ saya paham, situasi di sana sudah tak terkendali.
Sejak awal Filipina memang terlalu percaya diri. Padahal kemampuan militernya sangat memprihatinkan. Persis sebelum para teroris Maute memproklamirkan diri berbaiat pada ISIS, kerjasama militernya dengan Amerika disudahi secara sepihak. Filipina merasa dimanfaatkan, mereka tak bisa mandiri. Memang serba kebetulan, tak lama setelah “bercerai” itu, teroris menyerang dan menguasai Marawi.
Namun bagi saya itu bukan kebetulan.
Tidak ada hal kebetulan dalam politik. Semua by design, atau setidaknya telah diperkirakan. Menguatnya kekuatan teroris di Filipina adalah bagian dari bergesernya peta politik terorisme global. Timur Tengah sudah tidak menarik. Yang masih percaya terorisme lahir dari ruang kosong adalah bodoh. Terorisme adalah senjata paling efektif untuk merusak, menguasai dan pura-pura memperbaiki suatu wilayah konflik sesudahnya. Perangnya adalah bisnis, pengendaliannya juga bisnis, bahkan masa pemulihannya adalah bisnis terbesar.
Duterte sudah menegaskan, satu-satunya yang mampu dengan efektif membantu negaranya adalah tentara Indonesia. Kenapa begitu? Indonesia sangat berpengalaman soal perang hutan. Dan perlu dicatat, organ militer di sekitar Asia Tenggara, rata-rata gurunya adalah Indonesia. Termasuk Vietnam yang memusingkan Amerika dengan perang gerilyanya itu. Indonesia pula, seperti yang terlihat dari kedekatan Kivlan Zein saat pembebasan sandera tempo hari, adalah pelatih para organ militan di Mindanao itu.
Jadi terang sudah, ejekan Duterte terhadap tentara Amerika dan pujiannya untuk tentara Indonesia tidak dibuat-buat. Ia tahu persis kekuatan itu. Sayangnya ia terlambat meminta. Kondisi sudah semakin rawan. Tanpa disadari, banyak pihak telah ikut bermain. Mustahil teroris itu mampu mempersenjatai diri dan bertahan dari gempuran tentara Filipina tanpa campur tangan banyak kepentingan asing.
Indonesia sebenarnya harus sudah bersiap-siaga. Bibit terorisme sudah bercokol lama. Baru saja ratusan simpatisan ISIS ditangkap di Turki. Ini bukan isapan jempol. Mereka benar-benar telah tinggal bersama kita. Diam dan menunggu. Kita tak bisa mengendusnya. Nama mereka tak tercantum dalam daftar teroris. Ideologi dan semangat mereka saja yang sama. Merekalah sel tidur (sleeper cell) itu.
Maka yang diperlukan sekarang adalah tindakan preventif. Anasir-anasir jahat itu harus dicegah sejak dini. Semua hal yang membahayakan Pancasila dan keutuhan bangunan NKRI harus diwaspadai. Pemerintah sudah benar dengan menginisiasi Perppu ormas anti Pancasila. Karena hanya itu tali pengikat bangsa ini. Sekali ia putus, segala perbedaan akan meruncing. Kita akan dengan mudah dipecah-belah.
Sementara itu, orang-orang sok intelek pamer kebodohan di sekitar kita. Mereka bicara demokrasi, HAM, ketatanegaraan, untuk membela intruder (pengacau). Padahal jika negara memanggil, orang seperti ini juga tak berani mengangkat senjata. Mereka bahkan mungkin terkencing di celana. Di saat damai, mereka sibuk pasang muka, mencari panggung. Orang-orang yang jelas anti Pancasila, anti keberagaman, mereka bela atas nama kebebasan berpendapat. Padahal tidak ada kebebasan mutlak, kebebasan harus dibatasi agar tidak membahayakan kebebasan yang lain.

Amien Rais adalah salah satu contoh, bagaimana bintang yang sudah redup bertingkah konyol di depan media. HTI yang jelas menghendaki bubarnya NKRI dibela mati-matian. Dengan sesat penalaran ia menunjuk komunis sebagai kambing hitam. Bahwa, Pemerintah melindungi PKI dan memusuhi ormas Islam (HTI). Ini tudingan berbahaya. Persis seperti yang dikehendaki para pengacau itu. Isu ini akan dibesar-besarkan. Hantu yang sudah tidak ada itu digembar-gemborkan seperti strategi Nazi. Hal dusta yang terus disuarakan agar dipercaya sebagai kenyataan.
Orang-orang yang membenci Pemerintah akan mengambil kesempatan untuk ikut meniup api propaganda itu. Mereka tidak berhitung cermat, sekali para pengacau itu diberi peluang, kebebasan mereka akan terenggut selamanya. Itulah yang terjadi dengan Taliban di Afganistan. Akhirnya semua orang menjadi korban. Padahal awalnya mereka hanya ingin pemerintah korup segera berganti. Namun yang mereka dapat yang jauh lebih buruk.
Saat teroris berkuasa, semua hal yang mengancam adalah musuh, termasuk orang-orang kritis. Mereka yang pertama kali dihabisi. Tidak ada lagi pengadilan, hak kebebabasan berpendapat. Semua diberangus, rata tanah. Barangkali inikah yang diinginkan orang-orang seperti Amien Rais itu? Mereka benci Pemerintah, bukan karena korup, justru karena getol memerangi korupsi. Maka mereka menempuh jalan pintas. Berharap para pengacau itu akan memberikan tampuk kekuasaan pada mereka. Atau setidaknya mengikutkan mereka dalam pemerintahan yang baru.
Di masa genting ini kita hanya bisa berharap pada orang-orang waras yang mencintai NKRI. Betapapun ada perbedaan pandangan dengan rezim penguasa, para patriot tetap akan mengedepankan keutuhan NKRI. Mereka yang membelot, atau mendukung teroris dan pengacau adalah musuh dalam selimut. Di saat damai bertingkah sok jagoan, giliran Negara genting lari atau sembunyi layaknya pengecut.
Saya tentu khawatir dengan situasi ini. Keponakan saya berada di medan tempur untuk menyelamatkan negara lain. Namun saya sadar patologi terorisme yang mulai mendekat ini harus segera diamputasi. Menyelamatkan Filipina berarti mencegah teroris masuk ke Indonesia. Memotong kepala mereka agar sleepers cell di sini tidak bangkit. Dengan situasi seperti ini, bagaimana tidak saya jengkel dengan manusia semacam Amien Rais itu. Ia profesor, intelek, tapi bertingkah seperti orang dungu. Sibuk membuat framing dan propaganda tak bermutu.
Rasanya saya ingin berteriak keras-keras di telinganya, “Ancaman kita hari ini adalah teroris, Mbah Amien, bukan PKI!”
Tulisan Kajitow Elkayeni pada Seword


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: