Jumat, 07 Juli 2017

[Syaikh Ali Jum’ah] Tiga Derajat Manusia dan Cara Tobatnya

Muslimoderat.net - Para ulama pendidik jiwa (Ahlullah) membagi manusia menjadi tiga golongan derajat, berdasarkan hubungan mereka dengan Allah, yaitu: `Awām (umum), Khawāsh (khusus), dan Khawāsh al-khawāsh (spesial). 
Berikut pendekatannya:
1. Golongan pertama, `awām, seperti orang yang berdiri menghadap laut, melihat laut dengan mata kepala sendiri, mendengar raung keributan ombak. Hingga ia ingin mencicipi bagaimana rasanya air laut dan ia kemudian merasakan asinnya air laut. Dari sini, ia tahu laut dan luasya.
2. Golongan kedua, khawāsh, bagaikan orang yang mengarungi lautan dari suatu pantai hingga berhasil sampai pada seberang laut. Tanpa ragu, dia adalah orang yang mengetahui laut; dia tahu tepi laut, dia hidup di tengah kegaduhan ombaknya, dia tahu keadaan laut di tengah sampai ujung laut.
3. Golongan ketiga, khawāsh al-khawāsh, seperti orang yang mengarungi lautan dari ujung ke ujung, kemudan ia melaut kembali ke tempat awal ia berlayar. Di tengah perjalanan pulangnya ia menangkap ikan, bahkan menyelami laut untuk berusaha mendapatkan mutiara dan marjan. Lalu ia sampai ke tepi dengan selamat.
Jadi ada tiga derajat manusia yang berbeda dalam tingkatan melihat kebenaran Allah Yang Maha Benar. Pertama: `awām melihatnya dengan `ilm al-yaqīn, kedua: khawāsh, melihatnya dengan haq al-yaqīn dan ketiga, khawāsh al-khawāsh, melihatnya dengan `ain al-yaqīn
Ada catatan penting, bahwa khawāsh al-khawāsh adalah derajat para al-shiddiqīn dan al-muqarrabīn. Ini adalah derajat warisan kenabian yang diwariskan oleh para Nabi. Maka derajatnya mirip dengan derajat para Nabi, karena khawāsh al-khawāsh menyerupai para nabi dalam tingkah laku.

Setiap golongan memiliki kemampuan dan cara tobat masing-masing.
A. Tobat Golongan `Awām
Golongan `awām, bertobat dengan cara meninggalkan maksiat, baik maksiat dalam syahwat, kesenangan duniawi, atau pun kebutuhan manusiawi. Golongan `awām harus menyapih dirinya dari maksiat.
Syarat diterimanya tobat `awām adalah:
1. Melepas diri dari dosa
2. Berniat untuk tidak melakukannya lagi selamanya
3. Menyesal atas perbuatan yang dilakukannya
4. Jika dosa itu berhubungan dengan hak manusia maka dia harus menggantinya atau mengembalikannya.
B. Tobat Golongan Khawāsh.
Golongan ini telah menjaukan diri dari perbuatan dosa, baik dosa kecil maupun besar. Maka tobat nya berupa sikap zuhud, yaitu dengan meninggalkan semua hal yang membuat keruh dan mengotori hubungannya dengan Allah, meskipun hukum asal perbuatan ini mubah, seperti banyak makan, minum dan lain-lain. Sebenarnya hal yang ia tinggalkan ini adalah hal-hal mubah dan tidak menjadikannya jatuh dalam dosa, tetapi dia menjauhinya karena dia ingin lebih dicintai Allah Yang berfirman dalam hadis qudsi:
(وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، وإن سألني لأعطينه، ولئن استعاذني لأعيذنه)
"Dan hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara-perkara sunah sampai Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk menggenggam dan kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Dan jika dia meminta kepada-Ku, niscaya akan aku berikan. Dan jika dia meminta perlindungan dari-Ku, niscaya akan aku lindungi".
Dari sini, kita tahu bahwa al-`awām bertobat dari dosa dan maksiat, sedangkan al-khawāsh bertobat dari hal-hal mubah sampai mereka bisa dekat dengan Allah.
C. Tobat Golongan Khawāsh al- Khawāsh
Khawāsh al- Khawāsh bertobat kepada Allah dari semua yang selain Allah, karena khawāsh al- Khawāsh melakukan sesuatu hanya karena melaksanakan perintah Allah.
Untuk mempermudah memahami karakter khawāsh al- Khawāsh, mari kita perhatikan contoh perbandingan berikut ini:
Apa reaksi seseorang saat mengetahui kematian anaknya? Apa yang mendasari reaksinya?
Jawabannya berbeda sesuai perbedaan derajat:
* Golongan `awām langsung menangis karena anaknya wafat. Dia pasti sedih berpisah dengan anaknya, namun dia berusaha tetap tegar dan bersabar. Dia harus bersabar sejak awal musibah.
* Sementara reaksi al-khawāsh bisa kita lihat dalam reaksi Abu Bakar Al-Syibli -rahimahullah-, saat mendapat kabar kematian anaknya ia langsung tertawa bahagia, padahal tertawa saat terkena musibah tentu bukanlah hal yang wajar. Ini karena dia tahu bahwa ada pahala dari Allah untuknya. Dia melihat ada kemuliaan di balik kematian anaknya dan ada anugerah di balik musibah ini. Dia teringat bahwa anaknya akan menolongnya masuk surga saat hari kiamat nanti. Hal ini membuat hatinya gembira hingga ia tertawa. Ini semua karena hatinya sangat bergantung pada Allah.
* Sedangkan reaksi khawāsh al-khawāsh dapat kita contoh pada Rasulullah -shallallāhu `alahi wasallam- (bahkan sebenarnya Rasulullah lebih dari itu), karena keadaan khawāsh al-khawāsh mirip dengan keadaan Rasulullah. Lihatlah apa reaksi Rasulullah ketika Ibrahim putra Rasulullah wafat? Ya, Rasulullah menangis. Kenapa menangis? Karena Allah memerintah Rasul-Nya untuk menangis pada kondisi ini. Dengan kematian Ibrahim seolah Allah berkata pada Rasul-Nya: Menangislah, karena menangis adalah reaksi paling sempurna bagimu pada situasi ini. Ya, hati Rasulullah tetap sabar dan bergantung pada Allah. Ini tercermin dalam sabda beliau kala itu:
"Mataku menangis, dan hatiku sedih, namun aku tak akan mengatakan perkataan yang membuat murka Allah".

• Maulana Syaikh Ali Jum’ah
Advertisement

Advertisement