Senin, 03 Juli 2017

Sulitnya Mencari Kelemahan Kinerja Presiden Jokowi

Dishare dari Tulisan Deny Siregar

MusliModerat.net - Sampai sekarang, para haters Jokowi sulit sekali mencari kelemahan kinerja Jokowi..
Mereka terus mencari pada sisi mana bisa menyerang kebijakan Jokowi.
Biasanya isu paling hangat utk menyerang kepala negara adalah pada isu kebutuhan dasar, seperti BBM. Kenaikan dan kelangkaan BBM adalah cara paling ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin, karena dampaknya sangat luas.
Sayang sekali, sejak subsidi BBM dicabut dan Petral dibubarkan, sampai sekarang kita tidak melihat lagi budaya antre di pom-pom bensin seperti masa lalu. Isu BBM hilang dengan sendirinya dan kita malah memasuki budaya baru membeli pertalite atau pertamax untuk kendaraan non subsidi.
Dulu pertamax sepi, sekarang malah antri. Sudah pada malu kendaraan pribadi pake premium kecuali untuk yang masih pas2an.
Mau menyerang di isu pangan, sudah tidak bisa lagi. Lebaran barusan menunjukkan kemampuan kinerja menteri Jokowi mengamankan pasokan dan harga pangan sehingga tidak meroket lagi.
Mau menyerang dari sisi korupsi juga sulit. Menteri Jokowi sampai sekarang masih bersih dari korupsi. Dan Jokowi juga tidak sibuk pencitraan di televisi dengan jargon "katakan tidak pada korupsi" yang jelas2 pencitraan memualkan karena yang terjadi malah sebaliknya.
Jokowi malah mendapat apresiasi positif karena berhasil memulangkan uang ribuan triliun rupiah lewat tax amnesty.
Rupiah melemah terhadap dollar ? Maaf, itu berita tahun kapan ya..
Belum lagi pembangunan infrastruktur dimana-mana dari sabang sampai merauke yang menaikkan penghargaan masyarakat kepada Jokowi di saat mudik ini.
Apa lagi ?
Dari sisi keluarga, tidak ada satupun anak Jokowi yang memanfaatkan posisi bapaknya. Cacat sedikit ada di kasus suap pajak yang melibatkan adik iparnya, tapi itu jauh dari keterlibatan Jokowi dan sudah diserahkan pada KPK.
Dongeng "boneka partai" lenyap begitu saja, karena akhirnya orang tahu bahwa tidak ada yang bisa mengendalikan Jokowi, tidak juga ibu Mega. Jokowi hanya menerima masukan tapi keputusan tetap dia yang pegang.
Masalah PKI sudah dia "gebuk" dan diamini Panglima TNI. Mau apalagi ?
Kesal karena tidak ada yang bisa buat bahan gorengan, akhirnya para haters pun mengintip hal-hal kecil seperti kancing jas, dasi Jokowi sampai sepatu Jokowi karena harganya 2 jutaan.
Dua juta saja ??
Bahkan kalau Jokowi mau beli Aldo Brue yang hanya untuk diinjek saja harganya belasan juta dia mampu, karena dia punya perusahaan meubel besar bernilai belasan miliar rupiah.
Tapi toh tidak. Dua juta untuk sepatu sport ber-merk, wajarlah. Masak Jokowi harus ke taman puring beli yang kw 3 harga 300 rebuan ?
Mencret gak bisa serang Jokowi, sekarang tas ibu Iriana diserang pula karena harganya - menurut kabar - puluhan juta rupiah. Model ibu Iriana sih bukan model tante Atut atau Inces Syahrini yang tas Hermes-nya bisa harga semiliaran.
Lagian kawe supernya ada tuh harga sejutaan. Tapi masak bu Iriana harus tereak2, "Ini kaweee lohhh.." Gengsi dongg..
Dari kesibukan para haters selalu menyerang hal-hal kecil dan remeh kepada Jokowi dan keluarga, baru bisa kita lihat bahwa mereka sebenarnya tidak "mengkritik" seperti apa yang selama ini mereka klaim. Karena kritik itu sifatnya kepada kebijakan.
Kalau serangan kepada hal remeh dan personal, itu sudah pada tahapan dengki. Karena orang dengki tidak pernah melihat sedikitpun sisi baik dari orang yang dia tidak suka. Mereka adalah "pencari kesalahan" sejati.
Kesederhanaan Jokowi dan keluarganya meminimalkan fitnah terhadap keluarga mereka. Dan orang pun akhirnya paham bahwa itu fitnah yang mengada2.
Untunglah Jokowi bukan "tukang prihatin" yang harus curhat lewat tweet meng-counter hal remeh seperti itu. Atau bu Iriana harus ngamuk di IG karena malu tas kawe-nya terbongkar. Mereka malah santai jalan-jalan tidak ambil pusing dengan nyinyiran para gorilla yang terus menerus bersuara minta kurma.
Dari sini sebenarnya kita bisa mengambil pelajaran penting, bahwa tidak semua isu harus ditanggapi. Menanggapi sesuatu yang tidak penting sama saja dengan menjadikan diri kita sebagai orang yang tidak penting.
Biarkan saja, anggap saja kolor bekas lewat ngambang di kali..
Jokowi mungkin belajar pada secangkir kopi. Ia hitam dan tidak menarik dipandang, tapi tidak seorangpun meragukan bahwa ia adalah pemberi nikmat di banyak lidah orang.
Seruputtt..
Advertisement

Advertisement