Senin, 24 Juli 2017

Qunut Nazilah, Hizib Nasar dan Shalawat Nariyah dari NU Untuk Mendoakan Palestina

MusliModerat.net - Akhir-akhir ini, konflik Israel – Palestina kembali menyeruak. Tentara zionis Israel melarang umat Muslim melaksanakan sholat Jumat di masjid Al-Aqsa. Tentu saja hal ini mengundang gelombang aksi protes. Beberapa orang meninggal dunia, baik dari Palestina maupun tentara zionis, akibat hal tersebut.
Perbuatan semena-mena zionis tersebut, mengundang kecaman dunia. Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj mengutuk atas tindakan Israel itu dan mendesak Pemerintah Indonesia untuk berperan aktif menyelesaikan konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun itu. Selain itu, PBNU juga menginstruksikan kepada semua warga Nahdliyin untuk menggemakan Sholawat Nariyah dan Hizib Nasr guna mendoakan warga Palestina dari tindakan imperialisme Israel.
Komitmen NU untuk mendukung kemerdekaan Palestina, bukanlah tindakan spontanitas belaka. Tapi, ini telah menjadi keputusan resmi organisasi untuk menolak segala macam bentuk penjajahan dan mendukung kemerdekaan Palestina. Bahkan, dukungan tersebut, diberikan oleh Nahdlatul Ulama, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pada 19 Ramadlan 1957 H atau bertepatan tanggal 12 November 1938, PBNU, dibawah kepemimpinan KH. Machfud Shiddiq mengedarkan seruan untuk bersikap tegas atas apa yang dilakukan oleh zionis kepada rakyat Palestina. Edaran tersebut, dikirim kepada semua partai dan ormas Islam di Indonesia kala itu, seperti halnya Muhammadiyah, PSII, Al-Irsyad dan lain sebagainya.
Dalam surat edaran yang dikeluarkan selang beberapa saat seusai berlangsungnya Muktamar Alam Islam di Kairo, Mesir (7 Oktober 1938) yang menolak berdirinya negara Israel di Palestina itu, juga menyerukan untuk menggalang “Palestina Fond”. Dana tersebut, guna membantu masyarakat di sana untuk memperingan penderitaan.
Namun, yang menggemparkan dari keputusan PBNU saat itu, bukanlah surat edaran tersebut. Akan tetapi, instruksi PBNU kepada semua Pengurus Cabang NU untuk mengadakan Pekan Rajabiyah dan membaca Qunut Nazilah pada tiap-tiap sholat fardlu.
Pekan Rajabiyah sendiri adalah pekan penting dikalangan Nahdlatul Ulama. Pada bulan Rajab, selain memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad juga memperingati hari lahir NU yang jatuh tepat pada 16 Rajab. Dalam hari-hari itu, diinstruksikan untuk juga melakukan aksi solidaritas yang ditujukan kepada para pejuang Palestina.
Instruksi tersebut, mendapat respon keras dari pemerintah kolonial. Pada 29 Januari 1939, KH. Machfud Shiddiq sebagai Ketua PBNU dipanggil oleh Regent atau Bupati Surabaya. Ia diperintahkan oleh Hoofdparket atau semacam Jaksa Agung, untuk membatalkan instruksi pembacaan Qunut Nazilah maupun Pekan Rajabiyah.
Tentu saja, larangan tersebut tak diindahkan oleh warga NU. Mereka tetap membaca doa qunut disetiap sholat fardlu, meski harus melirihkannya agar tak terendus tentara kolonial. Begitulah dengan “Pekan Rajabiyah” tetap dilaksanakan diberbagai tempat. Bahkan, pada saat Muktamar ke-14 NU di Magelang pada 16 Juli 1939, menjadi puncak dari “Pekan Rajabiyah”.
Kecaman penjajah Belanda tak digubris oleh NU. Bahkan, sikap tegas NU itu, mendapat dukungan dari sesama Ormas Islam lainnya di Indonesia. Seperti halnya yang ditunjukkan oleh H. Agoes Salim sebagai Pengurus Besar PSII Penyadar masa itu. Ia menulis pembelaan atas kebijakan NU tersebut dalam surat kabar Tjaja Timoer.
Pantas saja, Belanda merasa terancam dengan instruksi NU untuk melakukan pembacaan Qunut Nazilah itu. Selain karena sesama penjajah dengan Inggris yang membidani lahirnya Israel, Belanda juga takut karena doa tersebut, bisa memunculkan semangat perlawanan orang-orang Indonesia terhadap penjajah.
Saat itu, Qunut Nazilah yang diinstruksikan oleh PBNU diseragamkan. Semua Cabang NU membacanya dengan redaksi yang sama. Demikian terjemah Qunut Nazilah instruksi PBNU kala itu, sebagaimana yang dicatat oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren:
“Ya Allah, turunkan kutukan-Mu kepada musuh-musuh saudara kami bangsa Palestina yang tengah memperjuangkan kemerdekaan mereka. Kutuki pula orang-orang kafir yang membantu musuh-musuh kami, mereka yang menindas saudara-saudara kami, mereka yang membunuh para pejuang Palestina dan mereka yang menghalang-halangi perjuangan kami, mereka yang berusaha untuk memadamkan cahaya agama kami, pecahkan persatuan mereka, goncangkan segala rencana dan kebulatan mereka, turunkanlah kepada mereka siksa-Mu yang tidak mungkin bisa ditangkis oleh mereka, karena mereka terdiri dari orang-orang yang durhaka dan aniaya.
Ya Allah, tolonglah kami dan para pejuang rakyat Palestina, lenyapkan penderitaan mereka, dan kuatkan perjuangan mereka. Semoga tetap sejahtera Nabi Muhammad tercinta, segenap keluarga dan handai tolannya.”
Mari kita doakan kembali, semoga saudara-saudara kita di Palestina segera bisa hidup damai, lepas dari segala macam bentuk kedzaliman, lebih-lebih dari imperialisme zionis. Amin. (Ayung Notonegoro)
Advertisement

Advertisement