Senin, 03 Juli 2017

Neta S Pane: Aksi ISIS di Marawi Jadi Penyemangat Teroris di Indonesia

MusliModerat.net - Aksi serangan kelompok teroris di Indonesia  kembali gencar, mulai dari aksi bom bunuh hingga serangan dengan senjata tajam. Sasarannya sama, yakni polisi yang tengah bertugas karena dianggap sebagai musuh terbesar.
Presidium Indonesia Police Watch (IPW) , Neta S Pane  mengaku  prihatin dengan keadaan semacam ini. Terlebih, aksi terbarunya,  yakni serangan di Polda Sumatera Utara dan ancaman di Polda Banten.
"Sepertinya kasus serangan ISIS (Negara Islam Irak dan Syria) di Marawi, Filipina seakan menjadi energi baru bagi kelompok radikal di Indonesia untuk menebar teror," kata dia kepada JawaPos.com, Rabu (28/6).
Ilustrasi
Ilustrasi (AFP)
Apalagi kata dia, kantong-kantong radikalisme di Indonesia cukup banyak, sehingga operasi pembersihan dan penangkapan harus terus menerus dilakukan Polri. "Tujuannya agar tidak ada celah atau peluang bagi para teroris untuk berkembang atau menciptakan konflik Marawi di Indonesia," sambung dia.
Neta menambahkan, sekarang ini  sedang musim mudik dan banyak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) pulang ke Tanah Air. Bukan mustahil, kata dia momentum ini digunakan para kelompok radikal yang sudah bergabung dengan ISIS kembali untuk menebar teror.
Selain itu, tekanan yang dilakukan pemerintah Filipina usai konflik di Marawi patut diwaspadai karena bukan mustahil akibat tekanan itu kelompok radikal mencari perlindungan ke Indonesia. "Apalagi dalam kelompok radikal yang melakukan serangan di Marawi itu terdapat cukup banyak orang Indonesia," ulas dia.
Tindakan penangkapan terhadap 41 orang terduga teroris pasca-bom Kampung Melayu menurutnya masih merupakan bagian kecil dari rencana global kelompok radikal untuk menebar teror di Indonesia. "Jangan sampai kelompok teror merasa menang terhadap Polri dan kembali melakukan serangan bom kepada aparat keamanan," papar dia.
Selain itu menurut dia, jangan sampai kelompok teror yang ada di Indonesia bisa membangun poros perlawanan dengan kelompok teror yang berhasil melakukan serangan di Maraw. Sebab itu IPW memberi apresiasi pada kapolri yang telah memerintahkan anggotanya untuk terus menerus membersihkan kelompok teror.
"Kalau ditanya apakah penangkapan terhadap puluhan itu sudah sesuai sasaran? Jawabannya tentu saja belum. Sebab jumlah anggota dan sebaran kelompok teror sangat fluktuatif sesuai dengan peluang dan pengaruh global," terangnya.
Sebab itu Polri kata dia jangan memberi sedikit pun ruang  bagi kelompok teror untuk bisa melakukan konsolidasi. Sayangnya menurut Neta, sebagian anggota Polri masih suka ceroboh dan tidak profesional. "Contohnya di dalam kasus di pos polisi di Surabaya misalnya, kapolrestabesnya menemukan anggotanya yang sedang piket pada tidur," tambahnya.
"Bayangkan jika teroris yang muncul seperti yang terjadi di Polda Sumut tentu akan ada lagi polisi yang terbunuh oleh teroris. Untuk itu pimpinan Polri harus rajin melakukan sidak dan terus menerus mengingatkan jajaran bawahnya agar meningkatkan kewaspadaan dan profesional dalam menjalankan tugas agar tidak menjadi bulan-bulanan teroris," tukas dia. (elf/JPG)
Jawapos.com
Advertisement

Advertisement