Kamis, 27 Juli 2017

Muhammadiyah: Konflik Al-Aqsa Bukan Soal Agama, tapi Konflik Politik

MusliModerat.net - Muhammadiyah angkat suara soal kekerasan di Al Aqsa yang menimbulkan korban jiwa, baik dari warga Palestina maupun Israel. Selain itu, Muhammadiyah juga mengingatkan bahwa konflik di wilayah suci itu bukan merupakan konflik agama, melainkan politik.

“Walaupun nuansa keagamannya sangat kuat, konflik Israel-Palestina bukanlah merupakan konflik agama dan antar agama, tetapi lebih merupakan konflik politik,” kata Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtiar Effendy, dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (25/7).

Oleh karena itu, Bahtiar menyerukan agar umat Muslim di Indonesia, menggalang solidaritas kemanusiaan dan dukungan spiritual bagi perjuangan rakyat Palestina.

“Dalam memberikan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina hendaknya lebih mengedepankan aksi-aksi solidaritas moral, spiritual, kemanusiaan, dan politik dengan menghindari aksi yang anarkistis,” tambah dia.

Muhammadiyah, sebut Effendy, sangat prihatin dan mengutuk keras tindak kekerasan yang menghilangkan nyawa di Yerusalem. Organisasi yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu juga mendesak komunitas internasional seperti Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan Liga Arab segera menggelar sidang khusus membahas langkah-langkah penyelesaian kekerasan di Palestina.


Sementara, kepada pihak-pihak yang bertikai, Muhammadiyah menyerukan gencatan senjata dan menghentikan segala bentuk konfrontasi.

“Tapi, apabila dipandang telah melakukan pelanggaran dan kesepakatan damai, PBB dapat memberikan sanksi kepada Pemerintah Israel,” ujar Bahtiar.

Di sisi lain, Muhammadiyah juga meminta negara-negara yang selama ini memiliki ketertarikan terhadap masalah Timur Tengah, seperti Amerika Serikat, Rusia, Turki, Iran, agar mengambil langkah-langkah cepat agar kekerasan di Palestina tidak meluas ke wilayah lainnya.

“Jika kekerasan tidak segera dihentikan dan diselesaikan, kami khawatir akan terjadi aksi perlawanan serta kemungkinan terjadinya aksi terorisme dan kebangkitan radikalisme,” sebut Bahtiar.

Kemudian, Muhammadiyah juga mengimbau pemerintah Indonesia mengambil prakarsa dan langkah-langkah diplomatik untuk menyelesaikan masalah Palestina secara komprehensif.

“Pemerintah Indonesia dapat mengangkat kembali alternatif two-states solution sebagai bagian dari road-map perdamaian Israel-Palestina,” pungkas Bahtiar.

(les) Sumber: CNNindonesia.com

Advertisement

Advertisement