Mbah Maimun Zubair Alirannya Apa?

Baca Juga

MusliModerat.net - Pagi tadi saya menggunakan jasa grabcar dari Hotel untuk mengantar ke Stasiun Tawang. Kaget juga karena pengemudinya ternyata seorang perempuan. 15 menit menunggu, mobil pun datang. Isteri saya mengambil posisi duduk di depan mengingat drivernya adalah perempuan.
Sebelum ke stasiun, atas permintaan istri, saya dan keluarga pun berputar haluan ke tempat oleh-oleh. Tiba di Pandanaran, isteri saya pun turun dan saya beserta anak-anak menunggu di dalam mobil.
Tiba-tiba, ibu driver Grab ini membuka obrolan.
Ibu Driver: " bapak dan keluarga dari mana?"
Saya pun menjawab, " oh dari Rembang bu." 
Dia pun menimpali lagi: " asli dari Rembang ya pak?"
Saya: " oh bukan bu, saya dari Jakarta."
Serasa ingin tahu, Ibu driver ini bertanya lagi: " oh wisata ya pak di sana."
Saya: " ouh, ndak, saya ziarah ke guru saya, Mbah Kyai Maimun Zubair."
Mendengar nama Mbah Kyai, Ibu Driver ini seperti kaget.
Dia : " bapak bisa bertemu Mbah Maimun?"
Saya pun heran mendengar nada bertanya ibu itu: " iya bu, memangnya kenapa?"
Dia: " kata orang, beliau susah ditemui."
Saya: " masak iya bu?"
Dia: " iya pak. Katanya kalau orang yang niatnya gak baik, susah menjumpai Mbah Maimun."
Saya: " wah kalau itu saya gak tahu ya bu. Tapi alhamdu lillah, dua kali saya silaturahim ke tempat beliau selalu diterima."
Dia: " oh, iya pak. Ngomong-ngomong Mbah Maimun itu Islamnya aliran apa ya?"
Saya: " Lho, memangnya di Islam itu ada aliran?"
Dia: " iya pak, kayak NU, Muhammadiyyah, Persis, Syiah. Nah, Mbah Maimun itu apa ya alirannya."
Saya: " Mbah Maimun itu ngikuti Rosulullah bu."
Memperhatikan gaya dia bertanya, saya pun langsung tebak beliau, " ibu ngaji salafi ya?" Dia pun tampak kaget dengan pertanyaan saya. Lalu dia jawab:
" iya pak. Kok bapak tahu?"
Saya: " kelihatan bu". Jawab saya sambil tertawa kecil.
Dia : " iya pak, meskipun saya ngaji salafi tapi ada beberapa aturan salafi yang saya terjang."
Saya: " Lho, memangnya ada aturan di pengajian salafi?"
Dia: " iya pak. Salah satunya larangan bawa mobil ini. Para ustad salafi sudah peringatkan kalau perempuan haram membawa kendaraan."
Saya: " Lha, terus kenapa ibu terjang?"
Dia: " yah, habis kalau saya gak bawa grab begini, saya mau makan apa pak? Wong sekarang cari kerja itu susah."
Dia pun akhirnya menceritakan statusnya yang janda dan pengalaman bisnisnya yang selalu rugi. Sampai pada satu point, dia mengatakan:
" para ustad itu terkadang ngomongnya menggampangkan. 'Minta saja sama Allah pasti dikasih rejeki ' padahal uang khan gak turun dari langit. Minta rejeki juga ada usahanya."
Saya pun menimpali : " iya bu. Para ulama salaf dulu juga gak kaku-kaku amat. Mereka itu orang yang moderat cara berpikirnya walaupun juga berhati-hati."
Ibu Driver: " saya itu ngaji salafi juga belum total banget pak."
Saya: " maksudnya belum total bagaimana bu?"
Dia: " itu pak, masih nonton tv dan bawa mobil ini. Khan ada itu pak ustad yang haramkan nonton TV bahkan mengharamkan nonton Rodja TV sekalipun."
Saya; " oh gitu ya bu?"
Tiba-tiba, dia mengalihkan pembicaraan tentang Prof Quraish Shihab. Tuduhan Syiah dan sesat kepada orang alim itu meluncur tanpa kendali dari mulutnya. Sambil memperlihatkan video Prof Quraish yang berbicara tentang Rasulullah tidak masuk surga, dia pun meminta opini saya. Ia juga bertanya kepada saya tentang Prof. Quraish dan puterinya yang tidak berjilbab.
Mendengar celotehan seperti itu, saya katakan:
" Maaf bu, saya tidak kenal Prof. Quraish Shihab dan beliau pun tidak kenal saya. Kalau saya berkomentar tentang beliau itu artinya saya sok tahu. Kalau saya ikut menceritakan kehidupan pribadi beliau dan keluarganya, itu namanya ghibah. Bukankah ghibah diharamkan di dalam Al-Qur'an?"
Dia pun terdiam tidak melanjutkan obrolan. Sementara itu anak sulung dan anak kedua saya terlihat menahan tawa menyaksikan obrolan tidak seimbang di dalam Grabcar itu.
Sebelum mengakhiri obrolan, saya katakan kepadanya, " semoga Allah memasukkan suami ibu ke dalam surga karena keshalehan yang ibu tunjukkan."
Dari mulutnya terdengar suara amin yang diiringi tangis kecil, sambil berucap, " terima kasih ya pak".

Dishare Dari : Ust. abdi kurnia Johan

Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: