Selasa, 04 Juli 2017

Inilah Penistaan "Takbir" yang Sesungguhnya

MusliModerat.net - Penistaan terbesar kepada agama Islam sebenarnya justru dilakukan oleh umat Islam sendiri. Mereka menyalahgunakan kalimat suci seperti takbir untuk menyebarkan kebencian dan permusuhan. Ada yang teriak takbir terus penggal kepala, ledakkan bom atau tembak orang lain. Ada juga yang takbir terus memperkosa wanita tahanan perang seperti ISIS.

Ada yang teriak takbir terus merusak, memukul dan melakukan kekerasan. Ada juga Imam Demo yang setiap ucapkan kalimat kebencian selalu disertai dengan takbir seperti : “Siap bela ISIS ? Takbir ! Siap bunuh pendeta? Takbir ! Siap kepung istana? Takbir !” Bahkan ada juga anak-anak kecil yang berpawai sambil bertakbir yang kemudian diikuti kalimat : “Bunuh Penista Agama, Bunuh Penista Agama !” (padahal ia juga sering menistakan agamanya)

Takbir yang sejatinya adalah kalimat suci perlambang kerendahan hati terhadap kuasa Tuhan secara perlahan berubah menjadi simbolisme kekerasan yang tiap kali diucapkan justru membuat takut orang yang mendengarnya. Lama-lama setiap kali dengar takbir orang justru akan takut dan merasa akan terjadi suatu tindak kekerasan.
Ini namanya adalah penistaan agama atau tepatnya adalah penistaan takbir. Tapi tidak pernah ada lembaga fatwa yang menghujat dan mengharamkan penistaan ini. Lembaga tersebut lebih suka bikin fatwa Ahok menista agama, haram ucapkan selamat hari raya umat lain, haram topi sinterklas, haram infotainment, BPJS haram hingga fatwa haram polisi tidur.

Kabar terakhir adalah teroris yang menusuk polisi muslim yang baru saja sholat Isya di masjid. Padahal mereka seagama dan sama-sama barusan shalat di masjid. Sebelumnya di Sumut juga terjadi penusukan polisi yang juga disertai ucapan takbir. Serangan-serangan teroris yang terjadi di Prancis dan Inggris juga selalu disertai dengan ucapan takbir. Bahkan saat sholat Ied kemarin setelah khatib ucapkan takbir 7 kali dilanjutkan dengan ceramah yang menjelekkan pemerintah, provokasi politik dan isu SARA hingga ditinggalkan oleh jamaahnya yang ternyata lebih waras daripada khatibnya.
Tiap kali saya nulis soal kritik agama seperti ini saya dianggap memojokkan Islam padahal saya hanya bicara fakta apa adanya. Tulisan saya akan terus pedas selama masih banyak yang belum waras. Tulisan saya tidak memojokkan Islam tapi hanya mengkritik orang yang mabok dogma dan gemar memelihara kebencian dan permusuhan.

Saya justru ingin menolong agama Islam sehingga kembali memancarkan keharuman dan berhasil menjadi rahmatan lil alamin sehingga tidak hanya menjadi slogan kosong tanpa makna. Tapi sudahlah. Ternyata memang susah jadi manusia waras. Yang tidak setuju dengan tulisan ini semoga tidak termasuk mereka yang suka menistakan dan menghancurkan citra agamanya sendiri.
Salam Waras ga pake GUOBLOK...!!

Dishare dan disunting dari tulisan Muhammad Jazuli
Advertisement

Advertisement