Kamis, 20 Juli 2017

Pengakuan Mantan Teroris: Cukup Satu Malam Pemuda Galau Siap Mati Lakukan Teror

MusliModerat.net - Ustaz Khairul Ghazali, mantan teroris yang pernah ditangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri blak-blak mengungkap maraknya anak muda tertarik masuk jaringan kelompok teroris. 
Khairul Ghazali menyebut di Sumatera Utara, khususnya Medan masih banyak anak-anak muda yang antre untuk melakukan aksi teror. Hal ini disampaikan Ghazali berdasarkan pengalaman dirinya selama menjadi teroris.
"Jaringan ISIS di Indonesia ini sudah hadir sejak 2014. Mereka merekrut ikhwan-ikhwan muda untuk melakukan aksi jihad dengan doktrin akan masuk surga," kata Ghazali saat diajak berbincang terkait serangan teror di Polda Sumut yang menewaskan anggota Polri, Kamis (29/6/2017).
Sebelumnya, komplotan terduga teroris jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerang pos piket penjagaan Pintu 3 (pintu keluar) Markas Polda Sumut di Jalan Sisingamangaraja KM 10,5 No 60 Kota Medan, Minggu (25/6/2017) dini hari. Serangan itu menewaskan Martua Sigalingging seorang polisi yang tengah bertugas.
Pria yang mendirikan pesantren Al Hidayah ini mengatakan, konsep yang ditanamkan dalam diri 'pengantin' bom adalah iming-iming masuk surga.
Dalam doktrin teroris, bagi siapa saja yang berjihad melakukan penyerangan akan bertemu dengan 72 bidadari yang ada di surga.
"Konsep inilah yang ditanamkan para perekrut kepada calon teroris. Kemudian, dalam doktrinnya, perekrut mengajarkan bahwa bagi siapa saja yang mati dalam keadaan berjihad, dosanya akan diampuni dan kembali bersih seperti bayi yang baru lahir," ungkap Ghazali.
Dalam perbincangan santai itu, Ghazali yang mengenakan gamis dan peci putih mengatakan, pola penyerangan teroris di Medan tidak ada yang berubah.
Meski penyerangan Polda Sumut kemarin hanya menggunakan pisau, kata Ghazali, bagi teroris itu suatu keberhasilan.
"Dalam konsep jihad, berjuang itu menjadi suatu keharusan. Meski dengan pisau, mereka akan tetap melakukan penyerangan," kata Ghazali.
Ia mengatakan, terduga teroris yang masih hidup yakni Syawaluddin Pakpahan diketahui memang pernah berangkat ke Suriah pada 2013 silam.
Setelah kembali dari negara yang kini diduduki ISIS tersebut, keyakinan Syawaluddin untuk melakukan aksi teror sudah mantap.
"Kembali dari sana, persiapannya sudah mantap. Sehingga, ketika pada momen-momen tertentu, mereka akan beraksi seperti lebaran kemarin," ungkap Ghazali.
Waspada Serangan Susulan
Khairul Ghazali mengingatkan agar warga dan pihak keamanan tetap waspada.
Dia memperkirakan penyerangan teroris akan kembali terjadi.
Sebab, penyerangan dua terduga teroris yang menewaskan Ipda (anumerta) M Sigalingging menjadi inspirasi pelaku lainnya untuk melakukan aksi yang sama terhadap petugas yang tengah berdinas.
"Ketika melihat temannya yang menggunakan pisau saja berhasil menghabisi seorang petugas, maka yang punya senjata api pastinya juga akan bertindak," ungkap Khairul Ghazali, mantan teroris yang pernah ditangkap karena kasus perampokan Bank CIMB Niaga.
Pisau vs Senjata Api
Ghazali mengatakan, pelaku teror yang punya senjata api akan berpikir dirinya lebih lemah dari pelaku yang hanya menggunakan pisau dapur.
Dengan demikian, pelaku teror yang punya senjata api akan bergerak melakukan tindakan yang lebih besar dari peristiwa sebelumnya.
"Ketika mereka melihat satu temannya mati dalam melakukan aksinya, ini akan menjadi seperti multi vitamin bagi pelaku lainnya. Mereka juga akan melakukan aksi balasan yang tak terduga-duga oleh aparat kita," katanya.
Dalam kesempatan ini, Ghazali bercerita bagaimana dirinya beraksi ketika masih bergabung dengan sel teroris di Medan.
Semua senjata yang mereka miliki akan digunakan untuk menyerang atau menghabisi orang yang bersebrangan pemahamannya dengan mereka.
"Ketika saya masih bergabung dengan jaringan, kami punya AK 47, senjata api revolver bahkan granat nanas. Semua ini akan kami gunakan untuk menjalankan aksi guna mencapai tujuan kami," katanya.
Cuci Otak Pemuda Galau
Khairul Ghazali juga membeberkan betapa mudahnya merekrut pelaku teror di Indonesia.
Kata Ghazali, hanya butuh satu hari untuk menjadikan seseorang sebagai pelaku teror sebagaimana yang terjadi di Polda Sumut beberapa hari lalu.
"Proses brain wash atau pencucian otak itu butuh waktu yang singkat. Hanya butuh satu hari, seseorang itu sudah bersedia mati untuk melakukan aksi teror," kata Ghazali.
Ia mengatakan, target yang paling mudah untuk didoktrin adalah orang-orang yang sedang menghadapi kegalauan hidup.
Kemudian, target berikutnya adalah mahasiswa yang cendrung memiliki pemahaman setengah-setengah terhadap agama.
Hanya Butuh 1 Hari
"Setelah berhasil direkrut, calon pelaku teror ini akan dicuci otaknya selama satu malam (di tempat khusus)."
"Kemudian, dia akan dibai'at. Dan keesokan harinya, pelaku teror ini akan siap melakukan amaliyah atau aksi bom bunuh diri dengan sukarela," katanya.
Untuk lebih memantapkan doktrin teror, sambung Ghazali, setelah semalaman didoktrin, perlu dua hari lagi untuk mendampingi para pelaku teror hingga hari eksekusi.
Selama tiga hari itu, perekrut akan menyampaikan ayat-ayat yang telah dibelokkan menyangkut konsep jihad.
"Setelah berhasil mencuci otak, pelaku teror akan diberikan gambaran menyangkut nikmatnya surga ketika melakukan jihad."
"Dalam konsep doktrin, diajarkan bahwa tiap tetes darah yang mengalir ketika pelaku mati akan membasuh seluruh dosa pelaku selama di dunia," katanya. (Tribun Medan/Array A Argus)
Advertisement

Advertisement