ATM NU, Langkah PBNU Permudah Santri dan Siswa NU Bertransaksi

MusliModerat.net - Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) HZ. Arifin Junaidi menerangkan, potensi yang dimiliki oleh NU adalah menjadi dasar dari digagasnya Progam Anjungan Tunai Mandiri Nahdlatul Ulama (ATM NU). 

Ia menyebutkan, ada sekitar 91 jutaan Nahdliyin, 48 ribu sekolah dan madrasah NU. Oleh karena itu, ia menilai, itu adalah potensi besar yang dimiliki NU dan harus dikelola dengan baik.

“16 ribu sekolah dan 32 ribu madrasah NU. jumlah muridnya 11 juta dan gurunya 900 ribu,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara halal bihalal dan Peluncuran ATM NU di Hotel Pullman Jakarta, Senin (24/7).
 
Selain itu, ia menerangkan, para santri yang ada di pesantren sudah tidak ada lagi yang dikirim dengan menggunakan wesel. Mereka sudah menggunakan ATM untuk menarik uang kiriman. Namun begitu, Arifin menilai, biasanya ATM yang ada jauh dari pesantren sehingga itu membuat santri sulit mengaksesnya.
 
Dari situ, lanjut Arifin, timbul gagasan untuk membuat ATM NU. Meski ATM NU berada di lingkungan sekolah atau pesantren, tetapi ATM tersebut juga bisa digunakan oleh masyarakat umum.
 
“Bagaimana kalau kita menciptakan ATM NU. Supaya santri-santri yang punya (ATM) bank bisa ikut bertransaksi dengan ATM NU,” terangnya.

Rencananya, ATM NU akan meliputi 49 bank, baik bank nasional maupun daerah dan juga baik bank-bank milik negara ataupun swasta. 

“Kami sangat mengharapkan dunia perbankan bisa bekerja sama dengan NU, baik dalam (program untuk) mewujudkan ATM NU ataupun pengembangan ekonomi,” tutupnya.

 
Harus memenuhi tiga standar

Arifin menjelaskan, pesantren atau sekolah NU yang bisa dititipi ATM NU setidaknya mereka harus memenuhi tiga syarat. Pertama, kesanggupan pesantren atau sekolah untuk menyediakan ruang untuk mesin ATM.
 
Kedua, jumlah santri atau siswa pesantren. Untuk hal ini, belum dilakukan standarisasi tentang berapa jumlah santri atau siswa dari sebuah pesantren ataupun sekolah untuk bisa diberi ATM NU.
 
“Mereka memiliki jumlah murid atau santri dalam jumlah yang nanti kita standarkan berapanya,” jelasnya.
Terakhir, imbuh Arifin, kesanggupan untuk mengisi ATM. Namun demikian, syarat yang ketiga ini sifatnya hanyalah pilihan saja.
 
Lebih jauh, ia memaparkan, pesantren atau sekolah yang dititipi ATM NU akan mendapatkan imbalan, baik karena telah menyediakan tempat untuk ATM ataupun dari transaksi yang terjadi.

“Semakin tinggi transaksisnya, maka akan semakin besar fee-nya,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni/NU Online)


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: