Kamis, 15 Juni 2017

Sumbangsih Para Santri Sangat Besar untuk Negara, Namun Tak Ada yang Tertulis di Sejarah Sekolah

Sumbangsih Besar, Santri Tak Tertulis di Sejarah SekolahMusliModerat.net - Peran santri pondok pesantren dalam membangun bangsa Indonesia nyaris tidak diakomodir dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Padahal, sumbangsih santri terhadap bangsa sejak zaman penjajahan hingga kemerdekaan sangatlah besar.

Hal itu diungkapkan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo KH Achmad Chalwani saat berceramah dalam kegiatan pesantren kilat di hadapan guru dan ratusan siswa SMK TKM Teknik Tamansiswa Purworejo, Selasa, (13/6). 

Menurutnya, ada banyak pemotongan sejarah tokoh-tokoh bangsa termasuk sejarah pendiri Taman Siswa.

"Ki Hadjar Dewantara adalah seorang santri dari Kiai Sulaiman Zaenudin di Kalasan, Sleman Jogjakarta. Namun sayang, sejarah Ki Hadjar Dewantara sebagai seorang santri ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah," tandasnya.

Karena latar belakang seorang santri, sambung KH Chalwani, maka wajar jika salah satu pendapatnya tentang pendidikan yakni, sistem pendidikan yang paling berhasil adalah sistem pendidikan pondok pesantren karena lingkungan pesantren sangat mendukung kegiatan pembelajaran.

"Pendapat tersebut disampaikannya berdasarkan pengalaman pribadi Ki Hadjar Dewantara. Termasuk pendirian Taman Siswa ini kan juga diilhami dari sistem pesantren. Maka sangatlah tepat jika TKM ini mengadakan pesantren kilat," katanya.

Selain Ki Hadjar Dewantara, ada seorang santri yang berani menentang penjajah Belanda ketika yang lain tidak ada yang berani. Santri itu bernama Abdul Hamid putra Sultan Hamengkubuwono ke III dari ibu Pacitan. 

"Abdul Hamid ini namanya kelak menjadi nama Kodam IV Jawa Tengah yakni Pangeran Diponegoro. Sayang Diponegoro yang pernah nyantri di KH Hasan Besari Ponorogo, mengaji tafsir Al-Qur'an kepada KH Baidhowi Bagelen Purworejo tidak pernah diajarkan dalam pelajaran sejarah," katanya.

Menurut KH Chalwani, masih banyak lagi sejarah pahlawan yang berjasa besar terhadap bangsa Indonesia yang berlatar belakang santri. Termasuk tokoh emansipasi wanita RA Kartini. 

"Bahkan yang memiliki ide untuk menafsiri Al-Qur'an dengan bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat juga Kartini. Ide tersebut disampaikannya kepada KH Soleh Darat Semarang dan akhirnya betul-betul direalisasikan oleh KH Soleh," tandasnya.

Sementara itu, Kepala SMK Teknik Tamansiswa Purworejo, Ki Gandung Ngadino SPd mengungkapkan, pesantren kilat tersebut adalah salah satu rangkaian kegiatan di bulan Ramadan. Selain pesantren kilat juga dilaksanakan tarawih bersama, tadarus serta kegiatan takbir saat malam lebaran nanti.

"Kegiatan ini adalah upaya kami untuk memberikan pengetahuan agama kepada para siswa. Bahkan diluar bulan Ramadhan, kami juga secara rutin menggelar khataman Al-Qur’an dan kegiatan mujahadah," tambahnya. (Lukman-Naufa/Abdullah Alawi/NU Online)
Advertisement

Advertisement