Minggu, 18 Juni 2017

Sebaik-baik Perkara adalah yang Tengah-tengah, Kecuali saat Malam Pertama

MusliModerat.net - Pada suatu hari, seorang santri yang tekun mempelajari hadits hendak menikah. Ia ingin mengamalkan hadits Nabi SAW yang berbunyi An-Nikâhu sunnatî faman raghiba ‘an sunnatî falaysa minnî, yang artinya: “Menikah itu adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”

Awalnya ia meneliti keshahihan itu dengan bertanya pada gurunya. Kesimpulannya, hadits itu shahih bahkan mutawatir. Sang santri pun menentukan hari untuk melangsungkan pernikahannya dengan calon istri pilihannya dan pilihan orang tuanya. Kemudian terjadilah pernikahan yang meriah.

Sang santri sangat fanatik dengan hadits yang ia yakini keshahihannya, tanpa memperdulikan tradisi, situasi dan ocehan orang lain. Yang penting baginya menjalankan hadits dan sunnah Nabi SAW.
Pada malam pertama pernikahannya, ia berkata dalam hatinya, "saya harus memulai hubunganku dengan istriku berdasarkan hadits dan sunnah Nabi SAW". 

Saat akan mulai menggauli istrinya ia berkata dalam hatinya bahwa Rasulullah SAW bersabda “Khayrul umûr awsathuhâ”, yang artinya: urusan yang terbaik itu adalah yang di tengah-tengah.
Ia mulai mengukur tubuh istrinya sesuai dengan bunyi hadits itu, lalu ia menggauli istrinya. Ternyata, berkali-kali tidak berhasil menggauli sebagaimana mestinya. Ia bergumam dalam hatinya: "istriku benar-benar gadis." Lalu ia berkata pada istrinya : "Istriku sayang, kamu benar-benar gadis".
Istrinya berbisik ke telinga suaminya : "Mas itu salah, kurang ke bawah sedikit."
Sang suami membalas bisikannya : "Tidak, ini benar berdasarkan hadits Nabi SAW: Yang di tengah-tengah itu urusan yang paling baik." 

Terjadilah diskusi antara dua pasangan pengantin baru soal hadits dan hal yang faktual.
Karena semalam suntuk tak berhasil menggauli istrinya, maka esok pagi ia datang ke gurunya untuk mempertanyakan keshahihan hadits itu. Ia bertanya kepada gurunya: "Kiyai, shahihkah hadits yang berbunyi: Khayrul umuri awsathuha?"
"Shahih, mengapa?" Jawab sang guru.
Tadi malam saya praktekkan hadits itu pada istri saya, tidak berhasil. Kemudian Sang guru tersenyum lalu menjawab : "Oh, kalau dipraktekkan pada urusan yang itu, harus ditambah lagi satu jengkal ke bawah."
Sang santri diam, kemudian pulang.

Ala kulli hal, setelah mempraktekkan nasehat gurunya ia berhasil melakukan hubungan dengan istrinya, dan istrinya tersenyum. "Waduh..waduh..waduh…" sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ternyata belum tentu urusan yang baik itu yang di tengah-tengah! 😃

Dishare dari Putra Rahman
Advertisement

Advertisement