Gus Dur Menolak di Donor Mata

MusliModerat.net - Beruntung saya. Lepas acara Deklarasi Cinta Pancasila Masyarakat Pontianak, saya semobil & sehotel dengan Kang Mohamad Sobary, budayawan yang sobat Gus Dur itu. 
"Kang Sob, kita di lobby hotel dulu ya. Saya mau ngobrol," pintaku.
"Ayo, kita punya waktu cukup," responnya.
"Kang, sudah banyak testimoni tentang Gus Dur yang saya baca dan saya dengar. Bagi Kang Sobary, bagaimana beliau itu?" tanyaku.

Kami duduk di undakan teras Gardenia Hotel. Lokasi hotel ini jauh dari pusat kota.
"Gus Dur itu bagi banyak orang doyan tidur. Memang terlihat begitu. Bagi saya tidak. Dia sedang menjalani dzikir. Entah apa thariqatnya," katanya serius.
"Gus Dur itu tak pernah mengeluh. Dia lakoni apa yang dialaminya. Jangankan orang yang tak akrab, saya yang merasa akrab pun tak pernah mendengar dia mengeluhkan sesuatu," cerita budayawan yang pernah jadi Kepala Lembaga Kantor Berita Antara itu. "Itulah mengapa, saya meyakini derajat & maqamnya setelah wafat tetap mulia," lanjutnya.

Ada kisah yang tak pernah saya dengar. "Pernah ada warga Nahdliyin, saking cintanya mau mendonorkan matanya ke Gus Dur," cerita Kang Sobary. "Tapi Gus Dur menolak. Dia memilih menjalani takdirnya."
Kang Sobary bercerita dalam bahasa Jawa yang halus hingga saya sebagian tak paham. Kalau saya terjemahkan, Gus Dur merespon warga Nahdliyin itu begini: "Kamu tak merasakan kondisi tak bisa melihat itu. Kamu tak akan kuat. Terima kasih maksud baikmu. Biarlah saya terima kenikmatan ini."
Gus Dur menjalani kondisinya sebagai nikmat, bukan sebagai derita, sengsara dan apalagi sebagai hukuman dari Tuhan. Saya tak kuasa.

Oleh: Pak Mohammad Monib

Lahul fatihah....


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: