Fitnah dan Tipuan "MUSLIMCYBERNET" agar Afi Nihaya Terkesan Liberal

Foto Harry Sufehmi.
MusliModerat.net - Keberhasilan Adek Afi Nihaya dalam menulis di Dunia Maya membuat orang-orang yang kurang berfikir iri dan selalu berusaha untuk menjatuhkannya, salah satunya akun MuslimCyber yang menggunakan nama muslim tapi opini dan Berita Hoax justru sering bermunculan dari Fanpage ini. dalam menyoroti adek Afi akun ini juga membuat opini fitnah agar terkesan adek Afi itu Liberal, antek Asing dan Aseng.



Dalam blognya dengan link http://www.muslimcyber.net/2017/06/kotak-pandora-itu-bernama-afi.html dan dalam fanpage dengan link https://web.facebook.com/muslimcyberpage/posts/734345233419596?_rdc=1&_rdr yang berjudul "   " ditulis bahwa  arti bahasa Arab Afi Nihaya Faradisa itu adalah “Apakah di hari akhir itu ada surga?” Tentu saja ada campuran gado-gado dari bahasa Inggris, karena bahasa Arab tidak mengenal Faradisa (Paradise, Inggris).

Kemudian juga ditulis ada tangan dingin Harry Sufehmi (pendiri Masyarakat Indonesia Anti Hoax) yang memoles Afi agar menjadi sedemikian tenar.

Mari Lawa Fitnah dan Hoax

Mari kita lawan Fitnah diatas, karena dawuh Gus Mus yang waras tidak Boleh Ngalah dalam menghadapi Hoax dan Fitnah.

Menurut Artikel dari MuslimCyber, AFI Nihaya Faradisa artinya adalah "Apakah di Hari Akhir ada Syurga". Hahaha. Dia sangat lihai mretheli kalimat hingga akhirnya bermakna sedungu itu. Ia pethil-pethil, dipecah-pecah jadi tiga; 1). A fi? (أ في /Apakah ada?), 2). Nihayah: hari akhir, 3). Faradisa: surga. Jadilah makna nama bocah asal Banyuwangi itu terkesan tidak percaya surga, lalu dituduh liberal (kok tidak sekalian atheis yah).

Akhirnya menulis kesimpulan semprul, "Ini berarti menyimpang dari akidah Islam". emm dengan bangganya, dan ada juga lulusan Perguruan Tinggi Wahabi yang senada dalam mengartikan arti Afi Nihaya Faradisa yaitu "Nisa Ummu Abdurrahman". Oke mari kita Kita urai arti nama adek AFi satu-satu. 

Ini status Nisa Ummu Abdurrahman


Kata Per Kata
Pertama, kata AFI, ditransliterasikan oleh Nisa ke Arab dengan "أ" (apakah) dan "في" (di dalam). Dia menunjukkan makna itu seakan sedang belajarmuqaddimah Bahasa Arab tingkat ula (dasar) yang suka mempretheli huruf per huruf. Buat apa? Ya tentu agar kasatuan makna AFI bisa sesuai kehendaknya.

Nisa tidak memilih transliterasinya ke "عا فى" yang artinya "pemberi maaf". Keduanya, antara "أ في" dan "عا فى" memiliki bunyi yang sama jika diucapkan dalam Bahasa Indonesia. Tapi Nisa lebih memilih yang pakai awalan huruf "أ" daripada "ع", yang artinya sangat jauh.

Kedua, Nisa yang pastinya ahli bahasa Arab (entah benar atau tidak), memilih makna Nihayah dengan hari kiamat. Padahal, makna tekstualnya, jika diterjemahkan, artinya adalah "pungkasan". Kamus Munjid menulis uraian tentang kata Nihayah yang berasal dari kata "نهى" (mencegah) artinya adalah غا ية الشيئ و أ خره / puncak sesuatu atau akhir darinya. (Lihat Kamus Munjid, hlm. 843).

"Akhir dari sesuatu", akhirnya dimaknai dengan "kiamat" oleh Nisa. Nisa sengaja memilih makna "نها ية" dengan makna kiamat karena setelah kata itu, di barisan nama AFI, ada kata Faradisa, yang ia maknai dengan surga. Padahal, jika Anda merujuk ke Qur'an, nama-nama Hari Kiamat tidak pernah disebutkan dengan kata Nihayah babar blas. Bid'ah itu!

Ini nama-nama hari kiamat yang ada dalam Al-Qur'an: Yaumul Qiyamah (hari kiamat), Rajifah(hari lindu besar), Sa'iqah (hari keguncangan),Zalzalah (yaitu hari keguncangan atau keruntuhan), Haqqah (hari kepastian), Qariah (hari keributan), Yaumil Akhir (hari akhir), Tammah (hari bencana agung), Asir (hari sulit), Yaumu La Raiba Fihi (hari yang tidak ada lagi keraguan padanya),Ba'ast (hari kebangkitan),

Yaumul Mahsyar (hari berkumpul), Yaumud Din(hari keputusan), Talaq (hari pertemuan), Jaza(hari pembalasan), 'Ard (hari pertontonan/ pertunjukan), Gasyiyah (hari pembalasan), Khulud(hari keabadian), Barzah (hari penantian), Hisab(hari perhitungan), Waid (hari ancaman), Yaumul Haq (hari kebenaran).

Taghabun (hari terbukanya segala keguncangan),Nusyur (hari penggiringan/kebangkitan), Tanad(hari panggilan), Mizan (hari pertimbangan),Yaumu La Tajzi Nafsun an Nafsin Syaian (hari yang tidak dapat seseorang diberi ganjaran oleh liyan),Jamak (hari pengumpulan), Fashl (hari pemisah) dan Waqi'ah (hari kejatuhan).


Kalau MuslimCyber dan Nisa tidak memaknai Nihayah dengan kiamat, ia akan bingung memberi makna Faradisa. Padahal, makna Nihayah itu bisa diartikan dengan "puncak", "klimaks", atau dalam bahasa Jawa "menthog". Bukan mentok saudara bebek goreng yah!

Nama Kitab Nihayatus Zain juga tidak bisa dipakai maknanya dengan "Kiamatnya Kang Zain". Malah lucu kan artinya. Nihayatus Zain, artinya ya puncak keindahan (perhiasan). Nihayah, dengan demikian, adalah puncak segala proses. Menthog, paling jozz, paling oke, atau paling gagal. Pokoknyamenthog! Ini soal rasa juga. Yang tahukementhogan sebuah proses kan yang memilikinya. Itulah sebabnya, ada yang memaknai Nihayah dengan puncak rasa, hati. Namun oleh Nisa makna itu tidak dipakai, ia malah memaknainya secara syubhat dengan "kiamat".Dhalalah, bukan?

Ketiga, Nisa menyatakan juga kalau makna Firadisa adalah surga (katanya diakui AFI dari Bahasa Inggris), padahal Faradisa (فراديس) bukan hanya Inggris, tapi juga dari asal kata Arab, jamak dari kata Firdaus (فردوس) yang disebut sebagai salah satu nama tingkatan Surga tertinggi di antara 100 nama tingkatan surga lain.

Ahli Tafsir menyebut kalau Firdaus itu letaknya di bawah Arsyur Rahman. Surga inilah yang diperintahkan Rasul agar kita memintanya, tingkatan surga terbaik dari surga lainnya yang masing-masing jarak antar tingkatan itu tingginya sejauh antara langit dan bumi. (HR Bukhari).

Surga, dengan demikian, adalah simbol kebahagiaan. Makanya para penyair Arab maupun Indonesia sering menggunakan kata Firdaus sebagai simbol kebahagiaan. Ini yang tidak diketahui oleh lulusan universitas jaringan Saudi itu, Nisa oh Nisa!

Pilihan arti dari Nisa, lalu diterjemahkan sendiri olehnya itulah yang menjadikan makna AFI Nihaya Faradisa terkesan sesat menyesatkan. Bagaimana kalau nama anak blilian yang dituduh liberal itu dimaknasi begini:

  1. Apakah di dalam hatiku ada puncak Firdaus (kebahagiaan), atau
  2. Akan aku gapai puncak Firdaus
Dua kalimat di atas akan lebih dekat dengan makna ruhani sebuah nama daripada propaganda atas barisan kata AFI Nihaya Faradisa. Nisa kebelet nafsu, saking bencinya kepada AFI, dia terpaksa membuat makna syubhat nama anak itu hingga mengarah kepada tuduhan liberal.

Bukankah nama adalah doa, bukankah nama adalah harapan masa depan? Apa ada nama yang isinya malah mengutuk dan atau mempertanyakan sesuatu. Toh itu juga bukan nama asli, tapi anagram alias nama pena, semacam nama kunyah dari tradisi Arab, diawali kata Abu-Abu itu (yang kini gemar dipakai untuk afiliasi jihad jahat).

Apa yang dilakukan oleh Nisa kepada nama AFI mengingatkan kita pada upaya jajah bahasa oleh kaum sumbu pendek yang memaknai semaunya sendiri karena dengki. Ingatkah Anda ketika kaum Islam radikal tidak suka gerakan Shalawat Nariyah di Indonesia, mereka lalu menguliti makna Nariyah dengan memprethelinya satu-satu.

Shalawat: Shalawat
Nar: Neraka
Iyah: Pengikut

Shalawat Nariyah akhirnya dituduh shalawat yang mengajak pengikutnya ke neraka. Jika begitu, mari kita pretheli sesuai yang dipropagandakan mereka,

Ali: Sayyidina Ali
Iyah: Pengikut

Jadi, Madrasah Aliyah (MA) itu adalah tempat pendidikan para pengikut Ali, alias sama dengan Syiah. Wkwkwkw. Koplak juga kan? 

Mereka yang suka mengotak-atik bahasa untuk propaganda itu memang suka nama-nama Arab untuk mengelabui akal kita. Coba lihat, banyak yang nama aslinya Jawa (misal Gatot), tapi karena dianggap kurang Islami, dia pakai nama pena Al Khotthot, Abu Royan, Abu Gosong, Abu Gosok.

Memang, mereka benar-benar pengikut Abu Jahal modern kayaknya. Tapi anehnya mereka mengkalim nama Arab (baru) itu sebagai nama jihad, padahal aslinya banyak yang hatinya jahat. Suka ngajak gelut.


Klarifikasi dari Harry Sufehmi

Dalam akun Facebooknya Harry Sfehmi mengklarifikasi fitnah dari akun MuslimCyber, berikut postingnya


FITNAH : "tangan dingin Harry Sufehmi" - "memoles Afi menjadi sedemikian tenar"
FAKTA : posting yang disebar a/l oleh MuslimCyber.net ini adalah khayalan belaka.
Boro-boro memoles atau menyiapkan - ketemu Afi saja saya tidak pernah 😁 bahkan sekedar kontak saja belum pernah ! ha ha ha 😂Terlampir bukti chat saya di Facebook dengan Afi - isinya kosong :) dan menunjukkan bahwa bahkan saya baru menjadi "friend" ybs tanggal 23 Mei kemarin.
Foto Harry Sufehmi.
Super telat, maklum saya kuper untuk soal seleb seperti beginian :D ha ha
Juga screenshot kontak di hape saya, menunjukkan bahwa tidak ada "Afi" ataupun "Asa" - karena, memang saya tidak pernah kontak dengan ybs sama sekali :)Foto Harry Sufehmi.
Foto Harry Sufehmi.
Mengenai berbagai khayalan lainnya di posting MuslimCyber tsb, seperti "misi untuk (peng)kafir(an)" - tuduhan antek liberal, dst -- abaikan saja.
Sama saja. Fitnah.
Sudah jelas kini bahwa MuslimCyber ini adalah PEMBAJAK kata "muslim" - padahal sepak terjangnya tidak kalah dengan Yahudi.
Menghalalkan segala cara. Bahkan fitnah.
Waspadai serigala-serigala berbulu domba seperti ini.
Mereka akan menyesatkan + menjerumuskan Anda ke neraka

Nah diatas adalah Bantahan sekaligus Klarifikasi, Semoga kita menjadi Muslim yang Benar-benar Muslim.[MusliModerat.net/Kbaswaja/dutaislam]


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: