Tokoh HTI yang akan Mendirikan Negeri Khilafah ini Tidak bisa Baca Kitab Kuning

Baca Juga

Di Share dari tulisan Rama Rameo/Bang Oemar

MusliModerat.net - Berawal dari perhelatan LAKMUD atau Latihan Kader Muda IPNU-IPPNU UIN Malang, yaitu sejenis jenjang pengkaderan bagi tunas-tunas Aswaja di lingkungan pelajar. Dimana saya selalu istiqomah diminta mengisi materi "Aswaja dan Ancamannya". Pasalnya, saya dianggap paling lebay memprovokasi Rekan-Rekanita calon kader untuk bangga dengan NU sekaligus mendeteksi ancaman luar dalam.

Seperti biasa, saya paparkan kesesatan aliran-aliran di luar NU yang mengancam eksistensi Aswaja dan NKRI. Seperti Syiah Itsna 'Asyariah Ja'fariyah, Wahabi, Salafi, HTI, dan semacamnya. Sembari saya edarkan tulisan ringan berjudul "Saya Bangga Jadi NU" yang biasanya saya tulis "ndadakan" kalau menjelang acara Lakmud atau Makesta.

"Saya yakin, semua aliran yang mengancam NU akan bubar atau dibubarkan pada waktunya. Semanis apapun propagandanya. Sebesar apapun kekuatannya. Semua akan musnah dan enyah dari negeri ini. Karena negeri ini sudah diruwat oleh para pendahulu. Sudah ditirakati oleh para wali dan para kiai," paparku menggebu.

"Syiah, HTI, atau apapun namanya jika bertentangan dengan Aswaja, nasibnya akan sama dengan PKI dan DI/TII. Allah akan mengirim kekuatan untuk menjaga negeri ini. Dan mereka akan musnah....!" sontak semua peserta terperanjak, gak jadi ngantuk mendengar provokasi ini.

Seperti biasa, pasti ada yang tak sepakat dengan paparan saya. Ada yang diungkapkan saat sesi tanya jawab. Tak sedikit yang menggugat lewat sms (saat itu belum ada WA). Saya selalu merespon balik, apalagi pas di forum. Niatan saya hanyalah ingin menjaga tunas-tunas NU potensial yang sedang ikut pengkaderan ini agar tidak terpengaruh propaganda mereka.

Selang beberapa hari, ada inbok masuk. Menggugat pernyataan saya yang menyesatkan Syiah Itsna Asyariah Ja'fariyah. "Saya yang ikut Lakmud kemarin. Saya tidak terima dengan pernyataan Abang yang mengatakan bahwa Syiah itu sesat. Bla-bla-bla...."

Dan setelah saya interogasi, ternyata rekan ini alumni salah satu pondok Syiah di Indonesia. Sayapun melayaninya, memberikan penjelasan pelan-pelan. Saya anggap dia adik saya. Yunior saya. Apalagi setelah saya tahu bahwa orangtuanya pengurus NU fanatik di kampungnya.

Dan Alhamdulillah, akhirnya rekan ini bisa menerima. Dan sampai saat ini sering ikut ngaji dengan saya. Bahkan melanjutkan ke pondok NU, memperdalam kitab kuning.

Dus, tak berhenti sampai di sini. Saya kemudian juga didatangi panitia Lakmud yang kemarin, "Bang Oemar, ada peserta Lakmud yang tidak terima dengan pernyataan Abang bahwa HTI sama dengan PKI. Mereka minta dialog. Bagaimana, Bang Oemar sebagai perwakilan dari kita...?!"

Saya sepakati. Waktunya pun diatur. Tempatnya di Masjid Tarbiyah UIN Malang. Ada tiga komponen yang terlibat dialog saat itu. Dari IPNU saya yang mewakili. Dari HMI saya lupa namanya. Dan dari HTI diwakili oleh Ustadz Roziqin. Konon, Ustadz muda ini ketua Qism Tsaqafah, semisal LBM jika di NU.

Saat hari H, sejak pagi masjid Tarbiyah sudah dipenuhi kader NU dan kader HTI. Yang kader NU, dikondisikan agar semua yang cowok pakai sarung. Dan yel-yelnya sholawat, "Allahumma Sholli 'alaa Sayyidina Muhammad...!"

Sengaja pakai dresscode sarung untuk membedakan antara kelompok "minna" dan "minhum". Sehingga kita mudah mendeteksi, siapa kita dan siapa saja mereka. Dan kalau harus terjadi apa-apa, gampang evakuasinya. Hehehe....

Pembicara dari pihak HTI memberikan pemaparan dalam bentuk presentasi makalah dibantu power point. Runtut. Sistematis. Seakan-akan planning negeri impian bernama Khilafah itu sudah di depan mata. Sesekali ditingkahi pekik Takbir oleh para Syababnya. Dan kawan-kawan pasukan bersarung pun membalas dengan Sholawatan.

Sementara saya, hanya membawa kitab Kifayatul Ahyar. Lalu saya buka salah satu halaman, dan saya minta salah seorang Syabab untuk membacanya. Mereka kewalahan.

"Bagaimana Antum akan mendirikan Khilafah jika dengan kitab kuning karya para ulama saja tidak kenal dan tidak mampu membacanya...!?" saya menggertak di kalimat pembuka.

"Negeri Khilafah itu tak cukup didirikan dengan konsep di power point. Apalagi hanya dengan demonstrasi yang tak kunjung berhenti, atau hanya dengan konferensi Khilafah yang sosok Khalifahnya masih misteri sampai saat ini.

Begini saja, saya punya usul. Daripada Antum iuran untuk mengadakan Konferensi Khilafah tiap tahun, mending iuran untuk beli satu pulau terluar. Lalu dirikanlah model Khilafah percontohan di sana. Buat sekolah khas khilafah, daripada merebut sekolah-sekolah milik warga NU. Atau buatlah pemerintahan khilafah bayangan sebagai percontohan.

Karena jika Antum ngotot mau mendirikan Khilafah di Indonesia yang sudah berbentuk negara ini, maka Antum akan berhadapan dengan seluruh bangsa ini. Dengan aparat. Dengan rakyat. Dan nasib Antum tak jauh beda dengan PKI yang ingin merubah ideologi negeri ini. Maka Antum tinggal menunggu waktu untuk dibubarkan....!" paparku saat itu. Sontak para Syabab itu naik pitam, karena saya dianggap menyamakan HTI dengan PKI.

Seperti biasa, dialog itupun berlalu tanpa ada keputusan dan rekomendasi. Namun selang beberapa bulan, saya bertemu dengan Ustadz Roziqin, ustadz HTI yang dulu pernah dialog dengan saya. Saat itu Ustadz Roziqin menyatakan bahwa dia sudah taubat dan keluar dari HTI. Saya sempat heran, padahal ini tokoh paling pintar di HTI, lha kok bisa taubat dan keluar, ada apa gerangan?

Setelah itu, saya selalu mewanti-wanti para adik-adik mahasiswa, khususnya kader NU agar jangan terpengaruh dengan propaganda Khilafah yang diusung HTI. Bahkan tak segan saya menyuruh mahasiwa keluar dari pondok HTI dan pindah ke pondok NU.

Pernah juga saya bersama beberapa Asatidz di Malang mendatangi Mapolresta Malang, meminta agar acara Konferensi Khilafah di GOR Ken Arok dibatalkan. Namun, saat itu permintaan kami tidak direspon.

Malam ini, saya mendengar bahwa HTI dibubarkan oleh pemerintah. Tak kepalang rasa syukur ini. Satu dari sekian gerakan yang mengancam Aswaja dan NKRI itu telah dibubarkan. Yang lain, seperti Syiah dan sebagainya tinggal menunggu giliran dan momen yang tepat.

Akhirnya saya menyadari, bahwa perjuangan itu tak harus membuahkan hasil yang instan dan seketika. Semua butuh waktu. Apa yang kita perjuangkan hari ini, akan kita petik hasilnya beberapa tahun kemudian. Yang penting, berjuang dan terus berjuang untuk membela akidah. Dan pembubaran HTI itupun kini indah pada waktunya. Wallahu a'lam bish shawab. (Rama Rameo, Pembina IPNU UIN Malang).


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: