Pulanglah Pak Habib!!! Agar Umat islam tidak Suudzon Kepadamu

MusliModerat.net - TERHITUNG sudah lebih dua pekan sejak Habib Rizieq Shihab, Imam Besar FPI, terbang ke Arab Saudi untuk umrah. Jika mengacu pada durasi umrah yang lazim, semestinya Pak Habib sudah kembali ke Indonesia.
Kita tahu, beliau belum kembali. Pada sejumlah pemberitaan dikemukakan, dari Arab Saudi Pak Habib terbang ke Malaysia. Konon untuk mengurus disertasi.
Pak Habib disebut-sebut sebagai kandidat doktor pada Program Dakwah dan Pengurusan Islam, Fakultas Kepimpinan dan Pengurusan Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), Negeri Sembilan.
Setelah itu beliau kembali lagi ke Arab Saudi. Setidaknya demikian menurut FPI yang juga disiarkan banyak media.
Kenapa kembali ke Arab Saudi? Kenapa tidak ke Indonesia? Pengacara Pak Habib, Sugito Atmo Pawiro, menyebutnya sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan politisasi hukum. Hukum telah menjadi alat kekuasaan.
Dan Sugito menampik tudingan bahwa Pak Habib melarikan diri. Pernyataan serupa datang dari Ketua Tim Advokasi GNPF MUI, Kapitra Ampera.
Sampai di sini mencuat satu pertanyaan, ketidakadilan seperti apa yang dimaksud Sugito? Habib Rizieq Shihab telah melewatkan dua panggilan polisi atas dugaan keterlibatannya dalam kasus penyebaran konten pornografi. Kasus yang menurut para pengacaranya sangat mengada-ada.
Fitnah yang keji. Fitnah yang dimaksudkan untuk mempermalukan dan menistakan Pak Habib, baik sebagai pribadi maupun statusnya sebagai ulama dan Imam Besar FPI.
Fitnah atau tidak fitnah akan berkutat pada debat panjang dan (sangat mungkin) sengit. Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap Ketua Yayasan Solidaritas Cendana, Firza Husein, perempuan yang berkomunikasi dengan lelaki diduga Pak Habib dalam rangkaian percakapan lewat aplikasi WhatsApp yang menghebohkan itu.
Polisi sudah memeriksa 'Kak Ema', figur lain yang muncul di percakapan yang sama. Polisi juga sudah melakukan analisis terhadap keaslian foto dengan metode Automatic Fingerprint Identification.
Dari pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan ini, disimpulkan bahwa foto-foto dan rangkaian percakapan tersebut bukan rekayasa digital.
SAKSI kasus dugaan penyebaran konten pornografi Firza Husein tiba di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan, di Jakarta, Selasa (16/5/2017). Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya memanggil Firza Husein terkait kasus penyebaran konten pornografi berupa chat seks yang diduga juga melibatkan Rizieq Shihab.
SAKSI kasus dugaan penyebaran konten pornografi Firza Husein tiba di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan, di Jakarta, Selasa (16/5/2017). Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya memanggil Firza Husein terkait kasus penyebaran konten pornografi berupa chat seks yang diduga juga melibatkan Rizieq Shihab. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)
Semestinya kesimpulan polisi bisa dipercaya. Akan tetapi, dalam situasi seperti sekarang, lumrah pula terjadi perbedaan cara pandang. Sebagaimana para pengacara Pak Habib, pendukung- pendukungnya juga menaruh curiga pada polisi. Mereka menenggarai hukum sudah dibelokkan oleh campur tangan pihak lain yang lebih punya kuasa.
Maka dari itu saya tak ingin memperpanjang debat soal fitnah atau tidak fitnah ini. Seyogianya, Pak Habib pun begitu. Kasus ini, tentu saja memalukan. Terlebih-lebih untuk seseorang yang dikenal luas sebagai seorang ulama. Terlebih-lebih apa yang terpapar dalam cuplikan-cuplikan layar yang beredar itu sungguh sangat murahan, dan juga kampungan. Kata-katanya murahan dan kampungan. Pose-posenya murahan dan kampungan.
Namun saya kira yang terpenting bukan terletak pada perkara memalukan atau tidak memalukan. Yang terpenting adalah bagaimana kasus ini bisa dituntaskan sampai terang benderang, sehingga diketahui dengan senyata-nyatanya siapa yang salah dan siapa yang benar. Apakah kasus ini memang sarat fitnah, atau sebaliknya, betul-betul terkaitpaut dengan nafsu terlarang belaka.
Persoalannya, kasus ini tak akan selesai apabila Pak Habib tidak ambil bagian dalam upaya penyelesaian. Kasus ini tak akan selesai lewat simbolisme perlawanan. Kasus ini baru bisa selesai apabila Pak Habib menghadapinya.
Lalu, kenapa tidak dihadapi saja? Pengacara Pak Habib bilang bahwa mereka pesimistis terhadap sistem hukum di Indonesia. Mereka tak percaya pada polisi, pada hakim, pada lembaga peradilan. Mereka terlanjur meyakini para pengadil akan berlaku tak adil lantaran sudah berada di bawah tekanan pihak-pihak yang kontra, pihak-pihak yang selama ini tak senang, dan gerah, pada sepak terjang Pak Habib dan FPI.
Mereka bilang akan membawa kasus ini ke Komnas HAM dan ke Pengadilan Internasional di Den Haag, Belanda.
Para pengacara sudah barang tentu akan berpikir dan mengambil langkah seperti ini. Langkah- langkah standar. Dalam posisi paling terdesak dan paling tidak menguntungkan sekali pun mereka tidak akan menyerah. Harus tetap ada upaya perlawanan.
Akan tetapi, sebagai ulama, Pak Habib bisa mengedepankan pandangan dan sikap yang lain. Jika memang tidak bersalah, kenapa harus merasa takut mendapatkan putusan yang tak adil?
Dalam Al Quran Surah Yusuf 22-52, Yusuf Alaihis Salam ibn Ya'qub Alaihis Salam, mendapatkan cobaan berat berupa fitnah hubungan terlarang yang disuarakan seorang perempuan bernama Zulaikhah. Fitnah yang disusun dengan runutan rencana yang serba cermat dan teliti. Bukan cuma momentum, Zulaikhah juga membangun persekongkolan- persekongkolan.
Secara logika, Yusuf tak mungkin lolos. Lawannya adalah istri pembesar kerajaan. Seluruh aparat hukum tunduk pada perintahnya. Namun Yusuf tidak takut karena dia memang yakin tidak bersalah. Dia menghadapi fitnah dengan berserah kepada Allah. Dan kita tahu bagaimana akhir dari kisah ini.(t agus khaidir/tribunnews.com)


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: