Rabu, 17 Mei 2017

Mondok di Jawa atau ke Luar Negeri?

MusliModerat.net - Ada kang santri tanya, "Mas. Ini kan ada beasiswa kuliah di luar negeri. Kira2 menurut njenengan gimana? Saya ambil ndak?"
Tak jawab: "Mending mondok di Jawa saja kang."
"lah memangnya kenapa?"
"Iya kang. Jika sampean ke luar negeri resikonya banyak." Jawabku
"Resikonya apa kang?" Tanya dia kepo
"Jika sampean kuliah di luar negeri, ada kemungkinan besar sampean melenceng dari faham Ahlussunnah wal Jamaah ketika pulang. Jika tidak wahabi, takfiri, ya liberal." Kata saya.
"Tapi Alhamdulillah saya sudah punya dasar2 keaswajaan yg saya pelajari di pesantren mas."
Tetangga saya yang ikut menyimak menjawab: "Lah sampean baru lulus Aliyyah, seberapa kuat dasar sampean? sudah belajar Aqidah matang2?"
"Belum kang."
"Fiqh?"
"Belum juga."
"Manthiq?"
"belum."
"Ushul Fiqh? Hadits? Nahwu shorof yang buat bekal baca kitab? Belum kan?"
"Iya kang. Belum"
Tetangga saya nglanjutin, "lah wong ya dasarnya belum punya kok mau coba2. Nek sampean kuliah di luar, kemudian ndelalah dapat guru orang wahabi/takfiri/liberal gimana? Apa sampean bisa membedakan antara yg haq dan yang bathil?"
"Nggak bisa kang."
"Musykilahnya banyak mahasiswa indonesia di luar negeri yang maghruur saat pertama kali diajari syeikh di sana dengan bahasa Arab. Wah syeikh ini alim, bahasa arabnya hebat. Wah syeikh ini ahli aqidah, penjelasannya sangat mantab. Wah syeikh ini ahli ushul fiqh, keren. Padahal mahasiswa tersebut tidak punya keahlian dasar untuk menilai seseorang.
Setelah beranggapan seperti itu, semua yg diajarkanpun akan ditelan dengan mentah2. Tanpa diteliti dan dibandingkan dg kalam para ulama." Lanjut tetangga saya.
Saya ikut nimbrung, "lah ya kang. Toh. Misalkan sampean pulang dengan selamat dari faham2 yang menyimpang itu, sampean pulangnya pun hanya membawa ilmu yang nggak seberapa.
Di rumah sampean hanya menang nama saja. "Fulan jebolan luar negeri. Fulan lulusan timur tengah. Bla bla bla. Tapi faktanya?", Mending ngambil jalan yang jelas2 saja kang. Di Jawa banyak pesantren yg keilmuannya melebihi timur tengah secara umum."
Tetangga saya menambahi, "saya punya banyak teman lulusan timur tengah kang. Tapi sayang seribu sayang, seakan2 dia tidak pernah mondok sama sekali."
Saya tambahi, "memang benar kang, ada yg jebolan timur tengah dia jadi alim dan tetap pada aswajanya. Tapi itu minim sekali.
.
Jika memang sampean niatnya nyari ilmu lillahi ta'ala, mending mesantren saja di jawa mas. Bisa di Sarang nyantri sama Mbah Maimun Zubair. Bisa mondok di Ploso. Bisa di Lirboyo. Bisa di Sidogiri. Cari yang jelas2 selametnya saja kang."
"Oh nggeh kang. Insya Allah saya mondok di jawa saja."
Tetangga melanjutkan, "itu kalo sampean niatnya mencari ilmu lillahi ta'ala kang. Jika niatnya cari fasilitas beasiswa atau biar dipandang "wow" masyarakat ya silahkan mondok di luar negeri ndakpapa. Tapi saran saya: ikhlaskan niatmu dahulu."
Advertisement

Advertisement