Minggu, 07 Mei 2017

Masjid Agung Demak, Dibangun Walisongo dalam Semalam

MusliModerat.net - Demak menjadi lokasi bagi masjid yang menjadi salah satu pusat dakwah agama Islam di Pulau Jawa, yaitu Masjid Agung Demak. Masjid ini konon dibangun oleh Raden Patah dan Wali Songo hanya dalam waktu satu malam. Masjid Agung Demak ada di Demak, Jawa Tengah, tepatnya di depan alun-alun.
Masjid tersebut berdiri sejak sekitar abad ke-15 dan dibangun oleh sultan pertama dari Kesultanan Demak bernama Raden Patah, serta para Wali Songo yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa. Kabarnya, pembangunan masjid tersebut selesai dalam waktu tak lebih dari sehari. Menurut Penjaga Museum Masjid Agung Demak masjid tersebut dibangun dari mulai pagi sampai subuh.
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini ditandai dengan candrasengkala “Lawang Trus Gunaningjanmi”. Sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479.
Gambar bulus itu terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.
Atap Masjid Agung Demak ditahan empat tiang kayu raksasa yang khusus dibuat empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut merupakan sumbangan Sunan Kalijaga.
Dari keempat tiang, ada satu yang cukup unik. Salah satu tiangnya ada yang merupakan gabungan dari serpihan-serpihan kayu yang disebut soko tatal. Ini adalah tiang yang dibawa atau dibuat oleh Sunan Kalijaga.
Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.
Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Masjid Agung Demak memang didirikan sedemikian rupa agar bisa difungsikan sebagai tempat ibadah serta berkumpulnya para Wali Songo. Karena memang di Demak dibutuhkan tempat untuk pusat berkumpulnya para Wali Songo.
Sejak pertama kali dibangun, masjid ini telah direnovasi sekitar satu kali pada tahun 1984. Hingga sekarang masjid selalu dikunjungi oleh masyarakat yang ingin wisata religi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Ketika berkunjung, selain bisa beribadah pengunjung juga bisa ziarah ke makam muslim di kawasan masjid. Ada makam Raden Patah, Syekh Maulana Magribi dan lain-lain. Selain itu ada pula Museum Masjid Agung Demak yang dikunjungi setiap hari Sabtu-Kamis sekitar pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.
Fiqhmenjawab.net
Advertisement

Advertisement