Mantan Teroris: Cukup 30 Menit Untuk Meradikalkan Pemuda tak Punya Pekerjaan

Baca Juga

MusliModerat.net - Mantan anggota Jamaah Islamiyah, Ustaz Abdul Rahman Ayub membagi ceritanya semasa ikut organisasi Islam yang ada di Asia Tenggara ini hingga akhirnya keluar dari organisasi tersebut.
Menurutnya paham terorisme tidak semata-mata muncul pada diri seseorang tetapi melalui doktrin paham penafsiran agama yang salah, terutama kepada anak muda.
"Mungkin tim gegana punya alat untuk menjinakkan bom, tetapi untuk memberantas terorisme ini yang harus membutuhkan waktu," ujarnya saat menjadi pembicara pada acara Seminar Nasional Gerakan Pemuda Indonesia Membaca untuk Persatuan Indonesia Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional di Gedung Saba Buana, Solo, Selasa (5/4/2016).

Ustadz Abdul menambahkan para kelompok radikal sering kali merayu para pemuda yang sedang putus asa lantaran tidak memiliki pekerjaan atau karena ketidakpastian akan masa depan.
"Mungkin kalau yang pintar butuh waktu berjam-jam. Kalau yang sedang galau butuh sekitar 30 menit, kalau yang sedang stres berat ya paling tiga menit," sambungnya.
Saat membujuk para pemuda ini, mantan kelompoknya saat itu menggunakan hadist atau ayat-ayat Alquran yang membuat mereka percaya. "Siapa sih yang tidak senang kalau diberi hadist atau ayat Alquran sehingga dekat dengan Tuhan di saat putus asa. Tetapi banyak penafsiran yang menyimpang," paparnya.
Pria yang pernah menjadi Kepala Jamaah Islamiyah di Australia ini memaparkan semasa mudanya dia yang bersekolah di Jakarta ini gemar tawuran meski kedua orangtuanya adalah pegawai negeri sipil (PNS).

Dari kelakukan dan masa depannya yang tidak jelas ini, dia akhirnya terdoktrin untuk mengikuti kelompok radikal. "Dari suka tawuran akhirnya tertarik ikut kelompok perang dan langsung dikirim ke Afghanistan yang saat itu rencananya mau berperang lawan Rusia tetapi akhirnya berbalik menyerang NKRI ," ungkapnya.
Ustadz Abdul memaparkan setelah dari Afghanistan, dirinya pernah berpindah-pindah tugas mulai dari wilayah Filipina hingga Indonesia. Setelah itu, dia menyadari bahwa pandangannya yang radikal itu salah sehingga dia memutuskan untuk berhenti.
"Banyak penafsiran yang menyimpang, contoh saja beberapa anggota ISIS (Islamic State of Syria Iraq) yang tega memenggal kepala orangtuanya karena tidak mau dibaiat menjadi anggota ISIS," paparnya.

Namun, usahanya untuk keluar dari jaringan Jamaah Islamiyah, diungkapkannya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang panjang. "Harus berkelahi alias berdebat tidak hanya dari sesama ulama Indonesia, tetapi juga ulama luar negeri seperti Afghanistan hingga Lebanon," jelasnya.
Terkait dana yang digunakan oleh kelompoknya, Ustadz Abdul mengatakan dana yang diperolehnya dari jaringan Al Qaida yang dipimpin oleh Osama bin Laden. "Jadi karena paham radikalnya, Osama dikeluarkan dari keluarga Laden yang kaya raya serta dideportasi dari Arab Saudi. Tetapi dia mendapat warisan 500 juta Dollar Amerika," tandasnya. (tribunjateng/suharno)

Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: