[KH Maimoen Zubair] Puasa Sebagai Pemecah Syahwat dan Meraih Zuhud

MusliModerat.net - Sambungan kata pengantar dari penerbit kitab "Ithafu Ahli Al-Islam Bi-Khushushiyyati Al-Siyam" karya Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami yang dibaca oleh Syaikhina Maimoen Zubair Sarang di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu Sarang Rembang Jawa tengah Indonesia. 
***
Malam Ahad Pon, 2 Romadlon 1438 H/ 28 Mei 2017M.
***
Puasa adalah satu-satunya ibadah yang berfungsi untuk memecah syahwat, penolong supaya tidak menjadi budak-budak keinginan, pembantu hati kita agar wushul kepada ALLOH, serta penjaga agar kita tidak menjadi seperti hewan ternak atau lebih tersesat dari hewan yang tersesat.
Apabila kita hendak berusaha agar puasa kita menyerupai puasa ketuhanan, maka bagaimana caranya?.
Apakah cukup dengan mencegah diri dari syahwat perut dan kelamin?. Atau dengan memperlihatkan lemas dan lemah karena lapar dan dahaga?.
Tidak!!!...Sama sekali bukan begitu.
ALLOH bukan dzat yang lemah dan juga bukan dzat yang memperlihatkan kelemahan. Namun ALLOH adalah dzat yang kuat dan kokoh.
Puasa yang melahirkan ketaqwaan adalah puasa hati dan anggota badan dari semua Syahwat dan keinginan dengan kadar semampunya.
Perut berpuasa dari makanan. Dan bila telah masuk waktu berbuka, maka perut diisi makan atau minum dengan kadar mampu menopang hidup, tidak dengan melebihi kadar yang wajar.
Farji berpuasa. Dan tidak diberikan berbuka kecuali dengan kadar yang mampu menjaga pandangan dari hal yang dibenci Tuhan.
Mata berpuasa dari melihat syahwat yang dilarang.
Telinga berpuasa dari pendengar perkataan kotor dan yang berdosa mendengarkannya.
Tangan berpuasa dari mengambil dan memperoleh kesenangan kecuali dengan kadar yang mampu menjaga hidup, yaitu perkara mubah.
Kaki berpuasa dari berjalan menuju hal yang dimurkai ALLOH.
Lisan berpuasa dari menggunjing dan ucapan jelek.
Hati berpuasa dari kemunafikan, senang akan kepemimpinan, dengki dan sifat-sifat tidak terpuji lainnya.
Bila kita berpuasa demikian, dengan niat menyerupai sifat ketuhanan yang pantas untuk manusia, maka kita telah sampai pada derajat taqwa. Dan bila kita perhatikan kitabullah seakan-akan​ mendengarkan langsung dari ALLOH dengan disertai angan-angan dan fikiran, maka kita telah memperoleh cahaya dan hidayah.
Satu bulan berada dalam keadaan seperti ini, akan merubah manusia ketingkat yang sangat tinggi dari akhlaq Islam dan tabiat iman.
Namun bila melepaskan diri kita untuk menuruti syahwat pada malam hari, dan menjadikan malam ramadhan sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari belenggu saat siang, maka ini adalah suatu tanda bahwa diri masih menjadi budak nafsu. Bila demikian, maka hidup kita seperti yang kita lihat, kemaksiatan masih merajalela, pencurian dan berbagai pelanggaran masih diterjang walaupun berpuasa.
Itu adalah hasil yang pasti dari ketiadaan menjalankan perintah dengan semestinya.
Marilah kita hayati sabda Baginda Nabi Muhammad:
إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع
Bila kita puasa sebagaimana mestinya dan kita lapar, maka tempat berjalan setan dalam aliran darah kita akan menjadi sempit. Dan bila sudah demikian, maka setan akan lari dari diri kita dan kita sebagai orang muslim akan memperoleh keberuntungan.
ALLOH berfirman dalam surat Al-Tahrim ayat 6:
يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون
Puasa yang disyariatkan oleh ALLOH mempunyai suatu hikmah yang harus kita ketahui, yaitu melahirkan sifat Zuhud dari kehidupan dunia, bersihnya hati dan jiwa dari cinta yang mendalam terhadap dunia, serta menghasilkan rasa cinta terhadap orang Islam dan saling tolong menolong atas kebaikan dan taqwa.
Inilah kata pengantar tentang puasa.

[Kanthongumur/fb]


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: