[KH Maimoen Zubair] Banyak yang Puasa, tapi Hanya Lapar dan Dahaga

MusliModerat.net - Balagh Ramadhan PP. Al-Anwar
Mengudara di 98.0 MHD FM.
Lanjutan dari kata pengantar kitab "Ithafu Ahli Al-Islam Bi-Khushushiyyati Al-Siyam karya Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami yang dibaca oleh Syaikhina Maimoen Zubair Sarang di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar.
****
Malam Sabtu Pahing, 1 Romadlon 1438 H/ 27 Mei 2017 M).
****
Puasa Romadlon adalah suatu kewajiban yang sekaligus berfungsi sebagai guru pendidik agar tercipta suatu naluri ketaqwaan dalam hati kita. Al-Quran yang merupakan cahaya petunjuk sempurna pun diturunkan pada bulan Romadlon. Sedangkan petunjuk tidak akan mungkin diberikan kecuali kepada orang yang bertaqwa.
Hal ini mengandung pelajaran bahwa menghidupkan bulan puasa dengan membaca, mempelajari dan memahami Al-Quran akan melahirkan cahaya berupa hidayah dalam hati.
Atas dasar apa pemahaman itu?.
Mari kita bersama-sama mendayung perahu agar bisa berjalan mengarungi samudera keilmuan.
Hidayah adalah cahaya. Seseorang yang berada dalam kegelapan tidak mungkin melihat tanpa ada cahaya. Dunia ini sejatinya gelap gulita, dan menjadi terang benderang seperti kita lihat tidak lain karena adanya cahaya ALLOH.
ALLOH berfirman dalam surat Al-Nur Ayat 35:
الله نور السموات والأرض
Dan salah satu cahaya itu adalah Kalamullah Al-Qur'an. Sebagaimana​ firman-Nya dalam surat Al-Nisa' Ayat 174:
وأنزلنا إليكم نورا مبينا
Cahaya tidak mungkin didapatkan kecuali oleh orang yang mempunyai hati bersih dan bertaqwa. Taqwa adalah hasil dari adanya puasa yang benar dan merupakan alat atau kendaraan yang mampu mengantarkan manusia menuju cahaya hidayah dan petunjuk dengan Al-Qur'an.
Terus bagaimana dengan puasa harfiy?. Apakah juga menghasilkan ketaqwaan?.
Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu puasa harfiy, karena banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan balasan dari puasa yang dilakukan kecuali hanya lapar dan dahaga.
Puasa harfiy adalah puasa yang mencegah orang yang berpuasa dari syahwat perut dan farji hanya pada siang hari, sedangkan pada waktu malam ia bagaikan budak perut dan farji.
Puasa yang menghasilkan ketaqwaan adalah puasa yang disertai dengan niat dari hati untuk mensifati diri dengan sifat ALLOH (yang pantas untuk manusia) dengan kadar kemampuan.
Secara hakikatnya, puasa merupakan salah satu sifat ketuhanan. Dan tidak bersifat dengan sifat ini secara sempurna kecuali ALLOH, Dzat yang memberi makan, tetapi tidak makan dan tidak diberi makan.
ALLOH Berfirman dalam surat Al-Ikhlas ayat ketiga:
الله الصمد
Dan puasa adalah salah satu dari makna "Ash-Shamad".
Ini adalah makna dalam hadits Qudsiy yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori berikut:
كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به
"Setiap amal anak Adam itu untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-KU dan aku yang akan memberikan balasannya".
Dalam hadits itu, Puasa disandarkan kepada ALLOH. Dengan artian tidak ada yang bersifat puasa dengan sempurna kecuali ALLOH saja. Hal itu karena ALLOH tidak membutuhkan kepentingan maupun keinginan (Syahwat) sejak azali dan selamanya. Sedangkan makhluk masih membutuhkan makan, menginginkan tercapainya​ kepentingan dan keinginan.
Inilah niat yang seharusnya diperhatikan, agar puasa kita juga berfungsi sebagai pemecah syahwat dan pemutus keinginan-keinginan duniawi dari puasa yang dilakukan. Bila hal ini tidak dilakukan dan tidak ada usaha dari kita, maka syahwat dan keinginan itu akan menjauhkan dan memutuskan diri kita dari ALLOH. Wal-'iyadzu Billah.
ALLOH berfirman dalam surat Al-Furqon Ayat 43-44:
أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا، أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون، إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا
Penyembah hawa nafsu itulah penyembah dan pengikut syahwatnya, dia diibaratkan oleh Al-Qur'an bahwa hewan ternak lebih mulia darinya.

[Kanthongumur/fb]


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: