[Kajian Kitab Kuning] Khilafiyah Hukum Joget Versi 4 Madzhab

MusliModerat.net - Setelah beredar Video Banser joget dan video Habaib joget Zafin, hebohlah dunia maya karena sebagian tidak faham hukum joget dan tari, dan sebagian lagi hanya faham stengah-setengah. agar pengetahuan kita luas, inilah Hukum Menari dan Berjoget versi 4 madzhab:


Madzhab Syafi’iyyah.
Menurut para ulama Syafi’iyyah hokum Tarian adalah Mubah menurut pendapat yang mu’tamad, kecuali jika ada tarian goyangan patah-patahnya seperti yang dilakukan para bencong (laki-laki yang berpura-pura jadi perempuan), maka hukumnya menjadi haram.

sufi

Imam ar-Ramli mengatakan :

( لا الرقص ) فلا يحرم ولا يكره لأنه مجرد حركات على استقامة واعوجاج ولإقراره صلى الله عليه وسلم الحبشة عليه في مسجده يوم عيد ، واستثناء بعضهم أرباب الأحوال فلا يكره لهم وإن كره لغيرهم مردود كما أفاده البلقيني بأنه إن كان عن رويتهم فهم كغيرهم وإلا لم يكونوا مكلفين ، ويجب طرد ذلك في سائر ما يحكى عن الصوفية مما يخالف ظاهر الشرع فلا يحتج به .نعم لو كثر الرقص بحيث أسقط المروءة حرم على ما قاله البلقيني ، والأوجه خلافه . (إلا أن يكون فيه تكسر كفعل المخنث ) بكسر النون وهذا أشهر وفتحها وهو أفصح ، فيحرم على الرجال والنساء ، وهو من يتخلق بخلق النساء حركة وهيئة ، وعليه حمل الأحاديث بلعنه ، أما من يفعل ذلك خلقة من غير تكلف فلا يأثم به
“ {Bukan Tarian} maka tidak haram dan tidak makruh, karena tarian itu hanyalah semata-mata gerakan berdasarkan kelurusan dan kebngkokan. Karena Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam mengakui perbuatan Habasyah yang menari di dalam masjidnya di hari lebaran. Para ulama mengecualikan orang-orang shalih yang memiliki ahwal (suatu tingkatan keadaan tertentu dalam ilmu tasawwuf), maka bagi mereka tidak dimakruhkan. Walaupun dimakruhkan bagi selain mereka ditolak sebagaimana yang dikatakan al-Balqini bahwasanya jika dari riwayyat mereka, maka mereka seperti yang lainnya, jika tidak, maka mereka tidaklah dibebankan. Dan wajib menolak hal itu di dalam apa yang dihikayatkan oleh kaum shufiyyah yang secara dhahirnya bertentangan dengan syare’at, hal ini tidak boleh dibuat hujah. Ya, jika tarian ini banyak (sering) dilakukan dengan sekiranya dapat menjatuhkan kehormatan diri, maka hal itu menjadi haram sebagaima dikatakan al-Balqini, tapi pendapat yang lebih terarah adalah kebalikannya. {Kecuali jika ada goyangan patah-patahnya seperti perbuatan bencong}, maka hara bagi laki-laki dan perempuan.  Bencong (Mukhannits) adalah laki-laki yang berprilaku seperti prilaku wanita dengan gerakan yang lembut, kepadanyalah datang hadits laknat  atas mereka. Adapun orang yeng berprilaku seperti itu secara tabiat bawaannya, maka tidaklah berdosa “.[1]

Syaikh Islam Zakariyya al-Anshari mengatakan :

(والرقص ) بلا تكسر ( مباح ) لخبر الصحيحين { أنه صلى الله عليه وسلم وقف لعائشة يسترها حتى تنظر إلى الحبشة وهم يلعبون ويزفنون والزفن الرقص } لأنه مجرد حركات على استقامة أو اعوجاج وعلى الإباحة التي صرح بها المصنف الفوراني والغزالي في وسيطه وهي مقتضى كلام غيرهما وقال القفال بالكراهة وعبارة الأصل محتملة لها حيث قال والرقص ليس بحرام ( وبالتكسر حرام ولو من النساء ) لأنه يشبه أفعال المخنثين
“ {Dan ar-Raqsh/tarian} tanpa goyangan alay hukumnya mubah karena ada dalil dari dua sahih Bukhari dan Muslim, bahwasanya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk Aisyah dengan menutupinya sehingga Aisyah bias melihat kepada Habaysah yang sedang bermain, berzafin dan menari “, karena hal itu hanyalah semata-mata gerakan kelurusan dan kebengkokan. Dan hukumnya mubah sebagaimana ditegaskan si mushannif al-Faurani dan al-Ghazali dalam kitab al-Wasithnya, itu juga ketentuan kalam lainnya. Al-Ghoffal mengatakannya makruh. Redaksi yang pertama kemungkinan asalnya makruh, dengan sekiranya ia berkata, “ Dan ar-Raqsh tidaklah haram (dan dengan goyangan alay maka hukumnya haram meskipun dari wanita) karena itu menyerupai prilaku para bencong “[2]

Dalam Hasyiah al-Qolyubi dan Umairah disebutkan :

( لا الرقص ) قال ابن أبي الدم لو رفع رجلا وقعد على الأخرى فرحا بنعمة الله تعالى عليه إذا هاج به شيء أخرجه وأزعجه عن مكانه ، فوثب مرارا من غير مراعاة تزين فلا بأس به
“ {Dan bukan ar-Raqsh} Ibnu Abi ad-Dam mengatakan, “ Seandainya seseorang mengangkat satu kakinya dan duduk di atas satu kaki lainnya karena rasa gembira dengan nikmat Allah Ta’ala, jika sesuatu mengobarkan hatinya, maka dia mengeluarkan kaki satunya dan menggoncangkannya dari tempatnya, lalu melompat beberapa kali tanpa memperhatikan perhatian manusia, maka itu tidaklah mengapa “. [3]

Imam an-Nawawi mengatakan :
لا الرقص، إلا أن يكون فيه تكسر كفعل المخنث
“ (Dan tidak haram) ar-Raqhs (tarian) kecuali jika ada goyangan patahnya seperti perilaku bencong “.[4]

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :
وأما الرقص فلا يحرم لفعل الحبشة له في حضرته مع تقريره عليه
“ Adapun ar-Raqsh maka tidaklah haram karena perbuatan Habasyah di hadapan Nabi disertai pengakuan Nabi kepadanya “.[5]

Dalam fatwa beliau yang lain ketika ditanya tentang hokum tarian, beliau menjawab :

نعم له أصل فقد رُوى فى الحديث أنّ جعفر بن أبى طالب رضى الله عنه رقص بين يدى النبى صلّى الله عليه و سلّم لمّا قال له ” أشبهت خَلقى وخُلقى ” و ذلك من لذّة الخطاب و لم ينكر عليه صلّى الله عليه و سلّم
“ Ya, tarian memiliki dasar pijakannya. Sungguh telah diriwayatkan dala satu hadits bahwasanya Jakfar bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menari di hadapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau bersabda, “ Engkau menyerupaiku dari rupa dan akhlakmu “. Hal itu karena merasakan lezatnya pembicaraan Nabi padanya dan Nabi pun tidak mengingkarinya…”.[6]

Madzhab Hanbaliyyah.

Menurut ulama Hanabilah, ar-Raqsh hukumnya makruh jika bertujuan permainan, dan mubah jika ada hajat syar’iyyah.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang orang-orang shufi dan tarian mereka :

إنّ هؤلاء الصوفية جلسوا فى المساجد على التوكل بغير علم ” فقال الإمام أحمد ” العلم أقعدهم فى المساجد ” فقيل له ” إنّ همّتهم كبيرة ” قال أحمد ” لا أعلم قومًا على وجه الأرض أحسن من قوم همّتُهم كبيرة ” فقيل له ” إنّهم يقومون و يرقصون ” فقال أحمد “دعهم يفرحوا مع الله ساعة
“ Sesungguhnya mereka para shufi duduk di dalam masjid-masjid dengan tawakkal tanpa ilmu ?, maka imam Ahmad menjawab, “ Mereka pakai ilmu, duduklah bersama mereka di masjid-masjid “. Ada juga yang bertanya, “ Semangat mereka besar sekali “, imam Ahmad menjawab, “ Aku tidak mengetahui suatu kaum di muka bumi ini yang lebih baik dari kaum yang semangatnya besar “. Lalu ditanya lagi, “ Sesungguhnya mereka (para shufi) itu berdiri dan menari-nari “, maka imam Ahmad menjawab, “ Biarkan mereka bergembira sesaat bersama Allah “.[7]

Al-Mardawi mengatakan :
وذكر في الوسيلة : يكره الرقص واللعب كله ، ومجالس الشعر
“ Disebutkan dalam al-Wasilah, : Dimakruhkan ar-Raqsh dan semua yang bersifat permainan dan majlis-majlis syi’ir “.[8]

Al-Bahuti mengatakan :
( ويكره الرقص ومجالس الشعر وكل ما يسمى لعبا )  ذكره في الوسيلة لحديث عقبة الآتي ( إلا ما كان معينا على قتال العدو ) لما تقدم
“ Dan dimakruhkan ar-Raqsh dan majlis-majlis syi’ir dan semua yang dinamakan permainan. Telah disebutkan dalam al-Wasilah karena ada hadits Uqbah yang akan datang. Kecuali ar-Raqsh atau permainan yang membantu atas memerangi musuh, sebagaimana telah berlalu “.[9]

Madzhab Malikiyyah.

Imam ash-Shawi mengatakan :

وأما الرقص فاختلف فيه الفقهاء ، فذهبت طائفة إلى الكراهة ، وطائفة إلى الإباحة ، وطائفة إلى التفريق بين أرباب الأحوال وغيرهم فيجوز لأرباب الأحوال ، ويكره لغيرهم ، وهذا القول هو المرتضى ، وعليه أكثر الفقهاء المسوغين لسماع الغناء ، وهو مذهب السادة الصوفية ، قال الإمام عز الدين بن عبد السلام : من ارتكب أمرا فيه خلاف لا يعزر لقوله عليه الصلاة والسلام : { ادرءوا الحدود بالشبهات } ، وقال صلى الله عليه وسلم : { بعثت بالحنيفية السمحة } ، وقال الله تعالى : { وما جعل عليكم في الدين من حرج } أي ضيق
“ Adapun ar-Raqsh, maka para ulama fiqih berbeda pendapat; sekelompok ulama menghukuminya makruh, sekelompok lainnya menghukumi mubah dan sekelompok ulama lainnya membedakannya di Antara orang-orang yang memiliki ahwal dan selainnya, maka hukumnya boleh bagi orang-orang yang memiliki ahwal dan makruh bagi selainnya. Inilah ucapan yang diridhai dan atas pendapat ini mayoritas ulama fiqih yang membolehkan nyanyian, dan inilah madzhab para sadah shufiyyah. Imam Izzuddin bin Abdissalam berkata, “ Barangsiapa yang melakukan suatu perkara yang masih ada perbedaan pendapat di Antara ulama, maka tidak boleh dita’zir, karena Nabi bersabda, “ Hindarilah menghukum dengan perkara yang masih syubhat “, Allah juga berfirman, “ Allah tidak menjadikan kesempitan dalam agama “. [10]

Madzhab Hanafiyyah.

Ibrahim al-Halbi al-Hanafi mengatakan :
وما ذكره البزازي من الإجماع عن تحريم الرقص محمول على ما إذا اقترن بشيء من اللهو كالدفِّ والشبَّابة ، ونحو ذلك ، أو بالتكسر والتمايل ، وأمَّـا مجرد الرقص فمختلف في حرمته
“ Dan apa yang telah disebutkan oleh al-Bazzaazi tentang adanya ijma’ keharaman ar-Raqsh, maka itu diarahkan jika disertai sesuatu yang bersifat permaianan seperti daff dan syabbabah atau dengan adanya goyangan (alay seperti bencong). Adapun hanya ar-Raqsh (tarian) semata, maka hukumnya ada perbedaan di Antara ulama “.[11]

Ibnu Abidin mengatakan :
(قوله وكره كل لهو ) أي كل لعب وعبث فالثلاثة بمعنى واحد كما في شرح التأويلات والإطلاق شامل لنفس الفعل ، واستماعه كالرقص والسخرية والتصفيق وضرب الأوتار من الطنبور والبربط والرباب والقانون والمزمار والصنج والبوق ، فإنها كلها مكروهة لأنها زي الكفار
“ Ucapan : Dan dimakruhkan semua permaianan. Yakni semua permainan, tiga perkara itu bermakna satu sebagaimana dalam syarh at-Takwilat, dan memuthlakkannya mencangkup perbuatan itu sendiri. Mendengarkannya sama seperti ar-Raqsh (menari), ejekan, bertepuk tangan dan memetik senar mandolin, rabab, terompet dam simbal, maka semua itu hukumnya makruh karena itu hiasan kaum kafir “[12]

Kesimpulan dari pendapat ulama fiqih :

  1. Hukum ar-Raqsh (Tarian), para ulama berbeda pendapat; menurut madzhab Syafi’iyyah hukumnmya diperinci; jika tidak ada goyangan sebagaimana perilaku bencong (laki-laki yang berpura-pura jadi perempuan), maka hukumnya boleh, jika ada maka hukumnya haram. Menurut madzhab Hanbaliyyah hukumnya makruh jika ada unsur permainanannya. Menurut madzhab Malikiyyah hukumnya diperinci. Menurut madzhab Hanafiyyah hukumnya makruh. Dan ada sebagian ulama yang menghukumi haram.
  2. Ar-Raqsh masih dalam persoalan ijtihadiyyah furu’iyyah di Antara ulama, maka tidak sepatutnya terjadi perseteruan keras dalam hal ini.  
Hujjah Asrie bin Shobrie dan bantahan atasnya :
Asrie bin Shobrie mengatakan :

Wajah Istidlal Kaum Sufiah:

Mereka berdalilkan dengan lafaz yang warid dalam hadis iaitu:
يَزْفِنُونَ
Dan juga lafaz:
وَيَرْقُصُونَ
Serta ucapan kaum Habsyah semasa sedang bermain: “Muhammad Hamba yang Soleh” sebagai dalil tindakan mereka berselawat sambil menyanyi-nyanyi dan menari-nari.

Bantahan & Penjelasan:

Pertama: Dari segi kefahaman Salafus Soleh radiallahu ‘anhum; kita dapati bahawa tidak ada Ulama’ Salaf yang memahami daripada hadis ini tindakan menari-nari sambil berzikir dan berselawat atas Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan Ulama’ Salaf mencela tindakan ini sebagaimana yang tsabit daripada Imam al-Syafii rahimahullah:

خَلَّفْتُ بِبَغْدَادَ شَيْئاً أَحْدَثَتْهُ الزَّنَادِقَةُ، يُسَمُّونَهُ التَّغْبِيْرُ، يَشْغَلُوْنَ بِهِ عَنِ القُرْآنِ

Maksudnya: “Aku tinggalkan Baghdad dalam keadaan di sana ada suatu perbuatan yang direka-reka oleh kaum Zindiq, mereka namakannya sebagai ((al-Taghbir)), mereka menyibukkan diri dengannya daripada al-Quran”. [Siyar A'lam al-Nubala', 10/91, kata Muhaqqiq; Syeikh Syu'aib al-Arnauth: Sanad Khabar ini adalah ((SAHIH))].

Al-Imam al-Syafii rahimahullah mengingkari perbuatan Taghbir dan menyatakan bahawa ia dilakukan oleh kaum Zindiq yakni: Munafiq. Apakah maksud Taghbir ini?

Kata Imam al-Azhari rahimahullah [w.370 H]:

وَقد يسمّى مَا يقْرَأ بالتّطريبِ من الشِّعرِ فِي ذِكرِ الله تَعَالَى تَغبِيراً كَأَنَّهُمْ إِذا تَنَاشَدوها بالألحان طَربوا فَرقصوا وأرْهَجوا فَسمُّوا مُغبِّرَةً بِهَذَا الْمَعْنى

Maksudnya: “dan dinamakan apa yang dibaca mengikut rentak melodi daripada Syair dalam mengingati ALLAH ta’ala sebagai Taghbir seakan-akan apabila mereka melantun-lantunkannya mengikut rentak melodi tertentu ianya membuatkan jiwa tersentuh lalu mereka membuatkan pendengarnya bergerak-gerak secara tidak menentu (menari/melompat-lompat) dan ini menyebabkan debu-debu berterbangan lalu mereka dinamakan sebagai ((mughabbirah)) kerana makna ini”.

Lalu al-Azhari rahimahullah membawakan perkataan al-Syafii rahimahullah di atas. [lihat: Tahzib al-Lughah, 8/123].

Jelas maksud Taghbir adalah apa yang dinamakan oleh kaum Sufi hari ini sebagai Hadrah atau Majlis Sama’ atau Majlis Qasidah dan sebagainya yang disertai dengan Muzik dan bacaan-bacaan Sya’ir lalu mereka menari-nari, bergerak melompat-lompat dan sebagainya.

Difahami daripada perkataan al-Syafii rahimahullah, perbuatan Taghbir ini tidak dikenali pada zaman Salaf yang awal tetapi diadakan pada zaman beliau iaitu kurun ke-3 Hijrah.

Kami jawab :

Kita lihat kenyataan pemahaman para ulama Ahlus sunnah tentang hadits tersebut berikut ini :

Imam An-Nawawi ketika mengomentari hadits tersebut beliau mengatakan :

ومعناه يرقصون وحمله العلماء على التواثب بسلاحهم ولعبهم بحرابهم على قريب من هيئة الرقص
“ Dan maknanya adalah mereka menari, para ulama mengarahkan maknanya terhadap melompat-lompat dengan senjata mereka dan permainan mereka dengan senjata, sesuai makna yang dekat dengan keadaan ar-Raqsh “. [13]

AL-Qadhi Iyadh mengatakan :
فيه أقوى دليل على إباحة الرقص إذ زاد النبي صلى الله عليه وآله وسلم على إقرارهم أن أغراهم
“ Dalam hadits itu merupakan dalil terkuat atas diperbolehkannya ar-Raqsh (tarian), karena Nabi menambahi atas pengakuannya untuk terus melanjutkan perbuatan habaysah tersebut “.[14]

Al-Imam al-Ghazali mengatakan :
والرقص سبب في تحريك السرور والنشاط ولو كان حراماً لما نظرت عائشة إلى الحبشة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وهم يزفنون
“ ar-Raqsh adalah penyebab di dalam menggerakan kegembiraan dan kesemangatan, seandainya haram, niscaya siti Aisyah tidak akan melihat kepada Habasyah tersebut bersama Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat mereka menari “.[15]
Menjadi jelas bahwasanya menari (ar-Raqsh) di dalam masjid karena rasa gembira atas nikmat Allah hukumnya boleh, maka demikian pula di selain masjid diperbolehkan ketika merasakan gembira dalam hati atau mendapatkan kesan di hati (al-wajd) atas nikmatnya mengingat Allah ketika sima’ (mendengarkan nyanyian) yang Islami atau pun dzikir atau pun sholawat kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Munawi mengatakan :
حتى تعلم اليهود والنصارى الذين يشددون أن في ديننا أيها المسلمون فسحة ) قاله يوم عيد للحبشة وقد رآهم يرقصون ويلعبون بالدرق والحراب وفيه رخصة في النظر إلى اللعب أي إذا لم يكن ثم أوتار ولا مزمار
“ Hingga kamu mengetahui Yahudi dan Nashoro orang-orang yang keras bahwa dalam agama kami ada keringanan “, ucapan ini diucapkan oleh Habasyah di saat hari raya, Nabi melihat mereka dalam keadaan menari dan bermain dengan senjata. Dalm hal ini ada keringanan dalam melihat kepada permaianan yakni jika permainan itu tidak ada gitar dan suling “.[16]

Imam as-Suyuthi ketika ditanya tentang kelompok shufiyyah ketika berkumpul dalam satu majlis dzikir lalu satu orang berdiri dalam keadaan berdzikir dan terus demikian sampai datang padanya suatu warid (keadaan membekas di hati). Apakah hal demikian itu terlarang ? maka beliau menjawab :

 لا إنكار عليه في ذلك. وقد سئل عن هذا السؤال بعينه شيخ الإسلام سراج الدين البلقيني فأجاب بأنه لا إنكار عليه في ذلك وليس لمانع التعدي بمنعه ويلزم المتعدى بذلك التعزير. وسئل عنه العلامة برهان الدين الأبناسي فأجاب بمثل ذلك وزاد أن صاحب الحال مغلوب والمنكر محروم ما ذاق لذة التواجد ولا صفا له المشروب إلى أن قال في آخر جوابه وبالجملة فالسلامة في تسليم حال القوم. وأجاب أيضا بمثل ذلك بعض أئمة الحنفية والمالكية كلهم كتبوا على هذا السؤال بالموافقة من غير مخالفة. أقول وكيف ينكر الذكر قائما والقيام ذاكرا وقد قال الله تعالى (الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم) وقالت عائشة رضي الله عنها كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه، وإن انضم إلى هذا القيام رقص أو نحوه فلا إنكار عليهم فذلك من لذات الشهود أو المواجيد وقد ورد في الحديث رقص جعفر بن أبي طالب بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم لما قال له أشبهت خلقي وخلقي وذلك من لذة هذا الخطاب ولم ينكر ذلك عليه النبي صلى الله عليه وسلم فكان هذا أصلا في رقص الصوفية لما يدركونه من لذات المواجيد وقد صح القيام والرقص في مجالس الذكر والسماع عن جماعة من كبار الأئمة منهم شيخ الإسلام عز الدين بن عبد السلام.
“ Tidak boleh mengingkarinya. Syaikh Islam Sirajuddin al-Balqini pernah juga ditanya tentang pertanyaan ini, lalu beliau menjawab, “ Sesungguhnya tidak boleh mengingkari hal ini, dan bagi orang yang melarang dengan kesengajaannya, maka ia wajib dita’zir “. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Abnasi pernah ditanya tentang ini, dan beliau menjawab sama seperti itu, dan menambahinya bahwasanya orang-orang yang memiliki ahwal itu terkalahkan / terkuasai, sedangkan orang yang mengingkarinya terhalang merasakan lezatnya tawajud (kesan hebat dalam hati) dan tak merasakan kenikmatan minuman itu “, sampai beliau berkata di akhir jawabannya, “ Kesimpulannya yang lebih selamat adalah serahkan keadaan mereka “. Sebagian ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah juga menjawab seperti itu, mereka semua menulis jawaban atas pertanyaan ini sama persis tanpa berlainan. Aku (Suyuthi) katakan, “ Bagaimana mengingkari dzikir dalam keadaan berdiri dan berdiri dalam keadaan berdzikir ? padahal Allah Ta’ala tela berfirman, “ Orang-orang yang berdizkir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan memiringkan lambung mereka “. Siti Aisyah juga berkata, “ Nabi selalu berdzikir dalam keadaan apapun “. Jika dalam berdiri itu ada tarian atau semisalnya, maka juga tidak boleh diingkarinya, karena hal itu disebabkan merasakan lezatnya penyaksian dan wajd. Telah datang dalam hadits, tarian Abu Jakfar bin Abi Thalib di hadapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam karena ucapan Nabi padanya, “ Engkau menyerupai rupa dan akhlakku “. Hal itu karena merasakan lezatnya khithab dan Nabi tidak mengikari hal itu. Maka hal ini menjadi landasan dan dasar dalam tarian shufiyyah, karena mereka merasakan lezatnya wajd. Dan sungguh telah sah berdiri dan tarian di majlis dzikir dan sima’ dari para ulama besar di antaranya syaikh Islam Izzuddin bin Abdissalam “.[17]

Imam Abdul Hayy al-Kattani mengatakan :

غاية الرقص عند القوم ذكر من قيام وهو مشروع بنص القرآن الكريم ﴿يذكرون الله قياما وقعودا﴾ والتمايل والاهتزاز منقول عن الصحابة فقد روى أبو نعيم عن الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى أنه قال: (كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا ذكروا الله تمايلوا كما تتمايل الشجرة بالريح العاصف إلى أمام ثم تراجع إلى وراء
“ Puncak makna ar-Raqsh menurut mereka (Shufiyyah) adalah berdzikir ketika berdiri, hal ini disyare’atkan dengan nash al-Quran, “ Mereka berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri dan duduk “. Bergerak dan bergoyang telah dinaqal dari sahabat Nabi. Sungguh Abu Nu’aim telah meriwayatkan dari Fudhail bin Iyadh rahimahullah, ia berkata, “ Dahulu sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam jika berdzikir kepada Allah Ta’ala mereka bergoyang seperti goyangnya pohon karena tertiup angina kencang ke depan kemudian kembali ke belakang “.[18]

Kemudian menanggapi ucapan imam Syafi’i alasan beliau meninggalkan kota Baghdad karena sebab ada kaum zindiq yang melakukan taghyir. Maka saya jawab; bahwasanya kasus taghyir di Baghdad dengan ar-Raqsh kaum thariqah saat ini berbeda dan tidak sama. Taghyir yang dilakukan kaum zindiq di Baghdad, adalah nyanyian-nyanyian yang bercampur dengan alat-alat malahi (yang melalaikan), sedangkan raqsh yang dilakukan segelintir (sebagian kecil) kaum shufi tidak seperti itu. Keadaan mereka sebagaimana keadaan yang dijelaskan oleh imam as-Suyuthi asy-Syafi’i di atas.

Jika saudara Asrie berhujjah dengan ucapan imam asy-Syafi’i tersebut untuk mencela perbuatan shufiyyah secara keseluruhan, maka ini suatu hujjah yang dhalim. Karena faktanya imam asy-Syafi’i juga memuji dan menghormati kaum shufi, beliau pernah mengatakan :
فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحدا فإنــي وحـق الله إيـاك أنصح
فذلك قاس لم يذق قلبه تقــى وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح

“ Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu.
Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik “.[19]

Ibnul Qayyim berkomentar tentang ucapan imam Syafi’I yang mendapat manfaat dengan berteman kepada kaum shufi :
يا لهما من كلمتين ما أنفعهما وأجمعهما وأدلهما على علو همة قائلهما ويقظته ويكفي في هذا ثناء الشافعي على طائفة هذا قدر كلماتهم
“ Aduhai sangatlah manfaat dan mencangkup dua kalimat tsb dan sangat menunjukkan atas tingginya semangat dan ketajaman pikiran org yang mengatakan dua kalimat tsb, dan cukuplah hal ini sebagai pujian imam Syafi’i pada mereka…”[20]

Maka tidak mungkin imam Syafi’i menjuluki kaum shufi dengan kaum zindiq, jika kenyataannya beliau juga menghormati dan memuji kaum shufi.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal sendiri yang membolehkan tarian kaum shufi ketika ditanya :

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang orang-orang shufi dan tarian mereka :

إنّ هؤلاء الصوفية جلسوا فى المساجد على التوكل بغير علم ” فقال الإمام أحمد ” العلم أقعدهم فى المساجد ” فقيل له ” إنّ همّتهم كبيرة ” قال أحمد ” لا أعلم قومًا على وجه الأرض أحسن من قوم همّتُهم كبيرة ” فقيل له ” إنّهم يقومون و يرقصون ” فقال أحمد “دعهم يفرحوا مع الله ساعة
“ Sesungguhnya mereka para shufi duduk di dalam masjid-masjid dengan tawakkal tanpa ilmu ?, maka imam Ahmad menjawab, “ Mereka pakai ilmu, duduklah bersama mereka di masjid-masjid “. Ada juga yang bertanya, “ Semangat mereka besar sekali “, imam Ahmad menjawab, “ Aku tidak mengetahui suatu kaum di muka bumi ini yang lebih baik dari kaum yang semangatnya besar “. Lalu ditanya lagi, “ Sesungguhnya mereka (para shufi) itu berdiri dan menari-nari “, maka imam Ahmad menjawab, “ Biarkan mereka bergembira sesaat bersama Allah “.[21]

Saudara Asrie mengatakan :

Kedua: Istidlal kaum Sufiah dengan kalimah يزفنون dan يرقصون yang mereka tafsirkan sebagai menari yakni: dengan makna kaum mutaakhirin adalah tertolak kerana dalam bahasa arab fasih kalimah: رقص bukan membawa maksud seperti yang disebut dalam Mukjam-mukjam moden arab:

رقَص الشَّخصُ: اهتزّ وحرّك جسمه على أنغام الموسيقى أو الغناء
Maksudnya: “Roqoso al-Syakhs: menggerakkan badannya mengikut rentak muzik atau nyanyian”. [Mukjam al-Lughah al-'Arabiah al-Mu'asarah].

Jika kita merujuk Mukjam bahasa arab yang terdahulu kita akan dapati ianya membawa makna yang lebih luas; kata Imam Ibn Faris rahimahullah [w.395 H]:

الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالصَّادُ أَصْلٌ يَدُلُّ عَلَى النَّقَزَانِ
Maksudnya: al-Ra’.dan al-Qaf. Dan al-Sod: Asal yang menunjukkan atas perbuatan melompat.[Maqayis al-Lughah, hal. 348]

Kata Imam al-Azhari rahimahullah:

رقص: قَالَ الليثُ: الرَّقْصُ والرَّقَصانُ، وَلَا يُقَال: يَرْقُصُ إلاّ لِلاَّعِب والإبلِ وَمَا سوى ذلكَ فإنهُ يُقَال يَقْفِزُ ويقفُزُ
Maksudnya: Raqoso: berkata al-Laits: al-Raqs dan al-Raqoson, tidak dikatakan: Yarqusu melainkan kepda orang yang sedang bermain dan unta, adapun selain keduanya disebut: Yaqfizu dan Yaqfuzu (yakni: melompat). 

Maksudnya kalimah Roqoso digunakan untuk menunjukkan perbuatan melompat atau bergerak secara pantas bagi orang yang sedang bermain suatu pemainan atau pergerakan yang dilakukan oleh Unta. Kata beliau juga:

وَقَالَ ابْن السّكيت: الرَّقْصُ مصدرُ رَقَصَ يَرْقُصُ رَقصاً؛ والرَّقَصُ ضربٌ من الْخَبَب وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح.
Maksudnya: “dan berkata Ibn as-Sukait: al-Raqs: masdar bagi: Raqoso Yarqusu Raqsan; dan al-Raqs adalah sejenis pergerakan pantas dan inilah yang sahih”.
[rujuk: Tahzib al-Lughah; 8/284-285].

Kata Fairuz Abadi rahimahullah [w.817 H] dalam al-Qamus al-Muhit:

والرَّقْصُ والرَّقَصُ والرَّقَصَانُ، محركتين: الخَبَبُ، ولا يكونُ الرَّقْصُ، إلا للاَّعِبِ، والإِبِلِ، ولما سواهُ: القَفْزُ والنَّقْزُ.
Maksudnya: “al-Raqs dan al-Raqas dan al-Raqasan, berbaris: berjalan secara pantas, dan tidak digunakan al-Raqs melainkan untuk orang yang bermain suatu permainan dan untuk unta, adapuan untuk selain keduanya digunakan: al-Qafzu dan al-Naqzu”. [al-Qamus al-Muhit, hal.621]

Berkata Ibn Manzur rahimahullah [w. 711 H]:

رقص: الرَّقْصُ والرَّقَصانُ: الخَبَبُ
Maksudnya: Raqoso: al-Raqs dan al-Raqasan: al-Khabab (yakni: perjalanan yang dilakukan secara pantas, bergerak secara pantas). [Lisan al-'Arab: 7/42].

Kami jawab :

Justru dengan makna-makna itulah kami berpijak. Apa yang dikatakan oleh ulama ahli lughah memanglah benar, bahwa ar-Raqsh intinya adalah gerakan tubuh yang seimbang (pantas), sebagaimana dikatakan oleh imam al-Ghazali :

اعلم أن السماع هو أول الأمر ويثمر السماع حالة في القلب تسمى الوجد ويثمر الوجد تحريك الأطراف إما بحركة غير موزونة فتسمى الاضطراب وإما موزونة فتسمى التصفيق والرقص
“ Ketahuilah, bahwa : as-Sima’ / mendengar ialah : permulaan urusan. Dan pendengaran itu membuahkan suatu keadaan dalam hati, yang dinamai : kesannya (al-wajd). Dan kesannya itu membuahkan penggerakan anggota badan. Adakalanya dengan gerakan, yang tidak bertimbangan. Maka dinamai: kegoncangan. Dan adakalanya dengan bertimbangan. Maka dinamai: tepukan tangan dan tarian.[22]

Kemudian Imam al-Ghazali dalam kitab Ihyanya juga membahas masalah al-wajd yang timbul dari sebab mendengarkan al-Quran maupun dzikir kepada Allah. Beliau menyebutkan banyak contoh dari para ulama yang mengalami keadaan al-wajd ketika mendengarkan al-Quran maupun dzikir kepada Allah, sehingga menimbulkan gerakan-gerakan cinta dan rindu kepada Allah Ta’ala dan ini disebut dengan ar-Raqsh. Keadaan ini terjadi bagi para pemilik tabiat atau sifat mulia seperti para nabi, shiddiq, sahabat dan para pembesar tabi’in. Inilah gambaran sebenarnya dari kaum shufi ketika terjadi ar-Raqhs.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan tentang makna Hajil :
وحجل بفتح المهملة وكسر الجيم أي وقف على رجل واحدة وهو الرقص بهيئة مخصوصة
“ Hajil dengan fatha huruf ha’nya dan kasrah jimnya artinya berdiri dengan satu kaki, dan itu adalah ar-Raqsh dengan keadaan tertentu “[23]

Al-Qadhi Iyadh mengatakan :
وقوله فحجل أي قفز على رجل سرور أو فرحا كالرقص ويرفع الأخرى وقد يكون بهما معا
“ Dan ucapan; Fahajila artinya adalah bergerak secara pantas atas satu kaki dalam keadaan gembira dan senang seperti ar-Raqsh, dan mengangkat kaki satunya, terkadang dengan keduanya secara bersamaan “.[24]

Dan bahwasanya menari (ar-Raqsh) di dalam masjid yang dilakukan Habaysah karena rasa gembira atas nikmat Allah hukumnya boleh, maka demikian pula di luar masjid diperbolehkan ketika merasakan gembira dalam hati atau mendapatkan kesan di hati (al-wajd) atas nikmatnya mengingat Allah ketika sima’ (mendengarkan nyanyian) yang Islami atau pun dzikir atau pun sholawat kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.  Dan ini juga merupakan qiyas cabang (far’u) kepada illat asalnya. Oleh sebab itu Ibnu Abi Ad-Dam mengatakan :

لو رفع رجلا وقعد على الأخرى فرحا بنعمة الله تعالى عليه إذا هاج به شيء أخرجه وأزعجه عن مكانه ، فوثب مرارا من غير مراعاة تزين فلا بأس به
“ {Dan bukan ar-Raqsh} Ibnu Abi ad-Dam mengatakan, “ Seandainya seseorang mengangkat satu kakinya dan duduk di atas satu kaki lainnya karena rasa gembira dengan nikmat Allah Ta’ala, jika sesuatu mengobarkan hatinya, maka dia mengeluarkan kaki satunya dan menggoncangkannya dari tempatnya, lalu melompat beberapa kali tanpa memperhatikan perhatian manusia, maka itu tidaklah mengapa “. [25]

Inilah esensi dari makna ar-Raqsh dalam beberapa majlis kaum shufi, yakni bergerak dengan gerakan yang bersumber dari al-wajd (kesan dalam hati) ketika mendengar suara lantunan dzikir, al-Quran maupun sholawat atau lainnya yang baik.

Tarian shufi yang sebagian kita lihat adalah percampuran seni dan budaya yang kemudian diarahkan untuk ‘sambil’ berdzikir dan mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ini merupakan kreasi yang baik, asal tidak bercampur dengan sesuatu yang diharamkan syare’at.

Saudara Asrie mengatakan :

Ucapan: ((Muhammad Hamba yang Soleh)
Ucapan Habsyah semasa mereka bermain: ((Muhammad Hamba yang Soleh)) tidak boleh menjadi dalil memuji dan berselawat ke atas Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menari dengan iringan irama dan melodi muzik kerana kaum Habsyah ini tidak menari dengan iringan melodi muzik seperti yang dijelaskan dan mereka tidak pula menjadikan perbuatan mereka sebagai satu ‘ibadat khusus dan tiada daripada kalangan as-Salaf as-Soleh memahami tindakan Habsyah ini adalah satu bentuk ibadat untuk berselawat atau berzikir kepada ALLAH ta’ala.
Kata al-Imam Ibn Hajar al-’Asqalani rahimahullah [w.852 H]:
وَاسْتَدَلَّ قَوْمٌ مِنَ الصُّوفِيَّةِ بِحَدِيثِ الْبَابِ عَلَى جَوَازِ الرَّقْصِ وَسَمَاعِ آلَاتِ الْمَلَاهِي وَطَعَنَ فِيهِ الْجُمْهُورُ بِاخْتِلَافِ الْمَقْصِدَيْنِ فَإِنَّ لَعِبَ الْحَبَشَةِ بِحِرَابِهِمْ كَانَ لِلتَّمْرِينِ عَلَى الْحَرْبِ فَلَا يُحْتَجُّ بِهِ لِلرَّقْصِ فِي اللَّهْو وَالله أعلم
Maksudnya: “dan berdalilkan sekumpulan daripada as-Sufiah dengan hadis bab bahawa harusnya tarian dan mendengar alat-alat muzik namun Jumhur telah menolak dakwaan ini dengan menyatakan terdapat perbezaan pada maksud kerana permainan kaum Habsyah dengan senjata mereka maksudnya adalah untuk melatih mereka dalam peperangan maka tidaklah boleh dijadikan hujjah untuk suka ria semata-mata, wallahua’lam”. [al-Fath, 6/553].
Kata Syaikh al-Qalyubi rahimahullah [w.1069 H]:
وَالزَّفْنُ بِالزَّايِ الْمُعْجَمَةِ وَالْفَاءِ الرَّقْصُ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ كَانَ بِغَيْرِ تَكَسُّرٍ، وَمَا قِيلَ عَنْ بَعْضِ الصُّوفِيَّةِ بِجَوَازِهِ مَعَ التَّكَسُّرِ فَهُوَ كَذِبٌ مَحْضٌ وَخَيَالٌ بَاطِلٌ أَوْ مَحْمُولٌ عَلَى مَا لَيْسَ بِالِاخْتِيَارِ
Maksudnya: “الزفن dengan huruf zai mukjamah dan fa’ adalah الرقص ia dibawa atas makna jika ianya dilakukan tanpa lentuk liuk dan apa yang dikatakan daripada sebahagian kaum Sufiah bahawa ianya Harus walaupun dengan gerakan lentuk liuk maka ianya adalah dusta, khayal dan batil atau dibawa atas tindakan yang berlaku tanpa kehendak mereka“. [Hasyiah Qalyubi wa 'Umairah, 4/321].
Maksud tanpa kehendak mereka adalah tindakan di luar sedar yang dilakukan ketika dalam keadaan gembira seperti melompat keriangan, atau berlari-lari, mengangkat kaki sebelah dan seumpamanya ketika dilanda perasaan gembira yang amat sangat.
Kata Syeikh Ahmad al-Burrulisi (‘Umairah) rahimahullah [w.957 H]:
قَوْلُ الْمَتْنِ: (لَا الرَّقْصُ) قَالَ ابْنُ أَبِي الدَّمِ لَوْ رَفَعَ رِجْلًا وَقَعَدَ عَلَى الْأُخْرَى فَرَحًا بِنِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ إذَا هَاجَ بِهِ شَيْءٌ أَخْرَجَهُ وَأَزْعَجَهُ عَنْ مَكَانَهُ، فَوَثَبَ مِرَارًا مِنْ غَيْرِ مُرَاعَاةِ تَزَيُّنٍ فَلَا بَأْسَ بِهِ.
Maksudnya: “Perkataan Matan (Tidak Haram juga Tarian الرقص) kata Ibn Abi ad-Dam: Jika seseorang mengangkat sebelah kaki dan duduk atas kaki yang sebelah lagi kerana gembira dengan nikmat ALLAH ta’ala ketika mana datang sesuatu yang mengujakannya sehingga mengeluarkan dia dari kedudukan asalnya lalu dia melompat berkali-kali tanpa meraikan bentuk gerakan tertentu maka tidak mengapa”. [ibid].
Kata al-Imam al-Nawawi rahimahullah dalam al-Raudah (11/229):
وَالرَّقْصُ لَيْسَ بِحَرَامٍ، قَالَ الْحَلِيمِيُّ: لَكِنَّ الرَّقْصَ الَّذِي فِيهِ تَثَنٍّ وَتَكَسُّرٌ يُشْبِهُ أَفْعَالَ الْمُخَنَّثِينَ حَرَامٌ عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ.
Maksudnya: dan الرقص tidaklah haram, kata al-Halimi: tetapi tarian yang ada padanya lenggokan dan lentuk liuk menyerupai perbuatan pondan adalah Haram atas lelaki dan wanita“.
Jelas daripada kenyataan Fuqaha’ Mazhab ini bahawa Tarian mengikut rentak melodi sama ada muzik atau nyanyian adalah Haram di sisi Fuqaha’ dan tidaklah dibenarkan adapun maksud jenis tarian yang dibenarkan adalah apa yang dimaksudkan di sisi ‘Arab terdahulu; perbuatan melompat, berjalan dan bergerak dengan pantas sewaktu bermain-main tidak lebih daripada itu.

Kami jawab :


Tak ada satu pun kaum shufiyyah yang menjadikan tarian ketika mendengar lantunan dzikir sebagai suatu ibadah, jikalau ada maka itu hanyalah oknum (ulah sebagian kecil) mereka saja yang terkeluar dari jalur shufiyyah yang haq. Kerana kaum shufi terbagi menjadi dua yaitu kaum shufi dari kalangan sebaik-baik umat dan kaum shalihnya, dan kaum shufi yang mengaku-ngaku dan merusak manhaj ilmu tasawwuf, mereka kebanyakan dari kalangan awam yang minim ilmu fiqihnya.

Apa yang disebutkan oleh imam Ibnu Hajar adalah tentang prilaku oknum (ulah sebagian kecil) kaum shufiyyah yang melanggar. Karena tak ada satu pun kaum shufi yang haq yang menghalalkan mendengar nyanyian melaliakan dan alat-alat malahi (permainan yang melalaikan). Oleh sebab itu Ibnu Hajar menyebutnya dengan lafaz “ Qoumun min ash-Shufiyyah “ yakni sebagian dari kaum shufi bukan keseluruhannya. Dan yang diharamkan oleh Ibnu Hajar adalah ar-Raqsh lil lahwi yakni menari untuk permaianan yang melalaikan, adapun menari bukan untuk itu maka hukumnya mubah.

Adapun ucapan Muhammad Abdun Shalih, maka itu adalah sebuah pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya semata-mata ucapan tanpa maksud. Demikian gerakan yang dilakukan Jakfar bin Abi Thalib muncul secara spontanitas (bukan takalluf) karena merasakan kelezatan yang nikmat dari khithab Nabi ketika beliau mengatakan kepada Jakfar, “ Engkau menyerupaiku dari rupa dan akhlakmu “, sebagaimana penjelasan para ulama yang telah saya sebutkan sebelumnya. Demikian juga gerakan (ar-Raqsh) kaum shufi muncul dari mendengarkan lantunan (sima’) dzikir atau sholawat sehingga memunculkan al-wajd atau tawajud dalam hati mereka.

Imam al-Baihaqi mengatakan :

حجل: أن يرفع رِجْلا ويقفز على الأخرى من الفرح، فإذا فعله الإنسان فرحا بما آتاه الله تعالى من معرفته أو سائر نعمه فلا بأس وما كان فيه تثن وتكسّر حتى يباين أخلاق الذكور فهو مكروه لما فيه من التشبه بالنساء
“ Hajila adalah mengangkat satu kaki dan bergerak dengan satu kaki lainnya karena rasa gembira. Jika seorang manusia melakukannya karena gembira dengan apa yang telah Allah berikan berupa makrifah atau semua nikmatnya, maka tidaklah mengapa. Adapun hajil (gerakan) yang disertai goyangan seperti bencong sehingga menghilangkan prilaku kelakiannya, maka itu hukumnya makruh, karena menyerupai dengan wanita “.[26]

Jelas dari keterangan al-Baihaqi bawasanya ar-Raqsh yang dimakruhkan  oleh beliau dan diharamkan oleh imam Muslim dan jumhur syafi’iyyah adalah ar-Raqsh (tarian) yang disertai adanya goyangan seperti goyangan wanita atau bencong. Sebagaimana penjelasan kami di awal.

Ibnul Qayyim mengatakan :

اختلف الناس في التواجد :هل يسلم لصاحبه؟ على قولين. فقالت طائفة: لا يسلم لصاحبه، لما فيه من التكلف وإظهار ما ليس عنده، وقوم قالوا: يُسلَّم للصادق الذي يرصد لوجدان المعاني الصحيحة. كما قال النبي عليه الصلاة والسلام: (ابكوا، فإن لم تبكوا فتباكوا). والتحقيق: أن صاحب التواجد إنْ تَكَلّفَهُ لِحَظٍّ وشهوة ونفس: لم يُسَلّم له. وإن تكلفه لاستجلاب حال، أو مقام مع الله: سُلِّمَ له. وهذا يُعرف من حال المتواجد، وشواهد صدقه وإخلاصه
“ Para ulama berbeda pendapat tentang tawajud (kesan yang mendalam di hati) apakah hal itu boleh dipercaya bagi pelakunya ? mereka ada dua pendapat. Berkata sebagian kelompok bahwa hal itu tidak dibenarkan karena bagi pelakunya karena yang demikian itu adalah pemaksaan perasaan dan menampakkan apa yang bukan ia rasakan. Kelompok lainnya mengatakan, hal itu dibenarkan bagi yang orang yang jujur yang mendapatkan dan merasakan wajd-nya makna-makna yang sahih, sebagaimana sbada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, “ Menangislah, jika tidak bias menangis, maka buatlah menangis “. Dan yang benar adalah sesungguhnya pelaku tawajud, jika dipaksa-paksakan dengan keuntungan nafsu dan syahwat, maka tidaklah dibenarkan. Dan jika dipakasakan karena adanya tarikan suatu keadaan atau maqam bersama Allah, maka hal itu dibenarkan. Dan ini bisa diketahi dari keadaan pelaku tawajud da nada kesaksian-kesaksian kejujuran dan keikhlasannya “.[27]

Dan apa yang diharamkan ulama tentang ar-Raqsh yang disertai adanya takassur yakni goyangan yang menyerupai goyangan wanita, maka jelas ini haram hukumnya sebagaimana telah kami jelaskan di awal. Maka jika ar-Raqsh tidak ada takassur dan alat-alat malahi, maka hukumnya boleh terlebih jika ar-Raqsh muncul tanpa adanya takalluf sebab datangnya al-wajd atau tawajud.

Tambahan :

Ada dari kalangan mereka yang mengatakan hadits Hajil Abu Jakfar itu dhaif. Dengan alasan majhulnya al-Hani dan tadlisnya Abu Ishaq.

Kami jawab :

Nashnya sebagai berikut :

Dalam Musnad imam Ahmad, beliau mengatakan :

 حَدَّثَنَا أَسْوَدُ يَعْنِي ابْنَ عَامِرٍ ، أخبرنا إِسْرَائِيلُ ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنْ هَانِئِ بْنِ هَانِئٍ ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنا ، وَجَعْفَرٌ ، وَزَيْدٌ ، قَالَ : فَقَالَ لِزَيْدٍ : ” أَنْتَ مَوْلَايَ ” ، فَحَجَلَ ، قَالَ : وَقَالَ لِجَعْفَرٍ : ” أَنْتَ أَشْبَهْتَ خَلْقِي وَخُلُقِي ” ، قَالَ : فَحَجَلَ وَرَاءَ زَيْدٍ ، قَالَ : وَقَالَ لِي : ” أَنْتَ مِنِّي ، وَأَنَا مِنْكَ ” ، قَالَ : فَحَجَلْتُ وَرَاءَ جَعْفَرٍ
Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir : Telah mengkhabarkan kepada kami Israaiil, dari Abu Ishaaq, dari Haani’ bin Haani’, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku, Ja’far, dan Zaid mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid : “Engkau adalah maulaku”. Lalu Zaid pun melompat-lompat karena gembira. Beliau berkata kepada Ja’far : “Engkau mirip denganku dan akhlaqku”. Maka ia (Ja’far) pun melompat-lompat di belakang Zaid. Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : “Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu”. Lalu akupun melompat-lompat di belakang Ja’far [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/108].

Takhrij :

1. Aswad Ibnu ‘Amir asy-Saymi dinilai tisqah oleh semua ulama jarah wa ta’dil.
2. Israil bin Yunus as-Sabi’i dinilai tsiqah oleh jumhur ulama jarh wa ta’dil.
3. Abi Ishaq as-Sabi’i : Imam al-Baihaqi, an-Nasai, Ibnu Ma’i menilainya tsiqah. Al-‘ijli mengatakan, “  seorang Tabi’in dari Kuffah dan tsiqah “.

Abu Hatim mengatakan, “ Abu Ishaq tsiqah dan dia lebih hafal daripada Abu Ishaq asy-Syaibani, serupa dengan az-Zuhri dalam banyaknya periwayatan dan luasnya dalam ilmu rijal “.

Abu Ishaq disifati dengan dua sifat; ikhtilat (bercampur) dan tadlis (menyembunyikan cacat dalam sanad atau matan hadits).

1. Ikhtilath Abu ishaq. Imam Ahmad pernah ditanya, “ Manakah yang lebih engkau sukai Abu Ishaq atau as-Suda ? beliau menjawab, “ Abu Ishaq tsiqah, akan tetapi mereka yang membawakan darinya di akhirnya “. Ibnu Ma’in mengatakan, “ Ibnu Uyainah pernah mendengar darinya setelah berubah hafalannya “.Abu Hatim mengatakan, “ Sesungguhnya Zuhair mendengar dari Abu Ishaq di akhirnya dan Israil mendengar dari Abu Ishaq sejak dulu, dan Abu Ishaq di akhirnya mengalami kekacauan hafalan “. Sebagian ulama mengatakan bahwa Abu Ishaq kacau hafalannya dan ulama meninggalkannya jika bersama Ibnu Uyainah “. Adz-Dzahabi mengatakan bahwa itu adalah taghayyur bukan ikhtilath, dan beliau mengatakan, “ Abu Ishaq tsiqah tanpa perseteruan, dan ketika beliau beranjak tua, maka berubah hafalannya dan tidak ikhtilath “. Bahkan al-Alai menolak secara muthlaq adanya ikhtilath Abu Ishaq.

Dan imam Bukhari juga membawakan hadits yang di dalamnya ada Abu Ishaq dan Zuhair dalam sahihnya dalam bab Iman :

عمرو بن خالد ، قال : حدثنا زهير ، قال : حدثنا أبو إسحاق ، عن البراء بن عازب ، أن النبي صلى الله عليه وسلم كان أول ما قدم المدينة نزل على أجداده ، أو قال أخواله من الأنصار ، وأنه ” صلى قبل بيت المقدس ستة عشر شهرا ، أو سبعة عشر شهرا ، وكان يعجبه أن تكون قبلته قبل البيت ، وأنه صلى أول صلاة صلاها صلاة العصر ، وصلى معه قوم ” فخرج رجل ممن صلى معه ، فمر على أهل مسجد وهم راكعون ، فقال : أشهد بالله لقد صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل مكة ، فداروا كما هم قبل البيت ، وكانت اليهود قد أعجبهم إذ كان يصلي قبل بيت المقدس ، وأهل الكتاب ، فلما ولى وجهه قبل البيت ، أنكروا ذلك . قال زهير : حدثنا أبو إسحاق ، عن البراء في حديثه هذا : أنه مات على القبلة قبل أن تحول رجال وقتلوا ، فلم ندر ما نقول فيهم ، فأنزل الله تعالى : وما كان الله ليضيع إيمانكم 
Ini semakin membuktikan pendapat adz-Dzahabi dan al-Alai bahwa Abu Ishaq tidak mengalami ikhtilat tapi hanya taghayyur, sehingga haditsnya kuat dan boleh dibuat hujjah. Wa Allahu A’lam.

2. Tadlis Abu Ishaq. Ibnu Hibban menggolongkannya di tingkatan mudallis ketiga sebagaimana Qatadah, Yahya bin Abi Katsir, al-A’masy, Ibnu Juraijm Ibnu Ishaq, ast-Tsauri dan semisalnya. Tingkatan ini diterima jika ada shigat sama’ dari gurunya. Ya’qub bin Sufyan mengatakan, “ beliau juga mengatakan bahwasnya Abu Ishaq terkadang melakukan tadlis dari gurunya. Beliau juga mengtakan, “ Abu Ishaq, seorang Tabi’in dan termasuk orang yang dipegang riwayatnya dalam hadits seperti al-‘Amasy, kecuali mereka berdua dan Sufyan melakukan tadlis, dan tadlis dilakukan sejak dulu “.

Dari komentar para ulama jarh wa ta’dil di atas, memang Abu Ishaq diketauhui melakukan tadlis, akan tetapi apakah semua riwayatnya dengan shighat ‘an’anah ditolak ? Ibnu Hajar telah menjelaskan bahwasanya mudallis yang dalam tingkatan ketiga adalah dapat diterima riwayatnya jika menggunakan shighat jazm dengan sama’. Dan ada sebagian ulama yang menrimanya secara muthlaq sprti Abi az-Zubair al-Makki.

Jika melihat komentar Abu Hatim, maka dipahami bahwa beliau bukan perowi yang banyak melakukan tadlis tapi sedikit saja, oleh sebab itu Abu Hatim mengatakannya dengan ucapan, “ Terkadang “. Imam al-Baihaqi juga mengatakan :

وإن أبا إسحاق ربما دلس
“ Sesungguhnya Abu Ishaq terkadang melakukan tadlis “
Maka ada kemungkinan ittisal dalam sanad riwayat Abu Ishaq. Oleh sebab itu al-Baihaqi tidak menjazmkan (memastikannya dhaif) sebagaimana ucapan beliau :

فِي هَذَا إِنْ صَحَّ دَلالَةٌ عَلَى جَوَازِ الْحَجْلِ، وَهُوَ أَنْ يَرْفَعَ رِجْلا، وَيَقْفِزَ عَلَى الأُخْرَى مِنَ الْفَرَحِ، فَالرَّقْصُ الَّذِي يَكُونُ عَلَى مِثَالِهِ يَكُونُ مِثْلَهُ فِي الْجَوَازِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“ Dalam hadits ini, seandainya shahih, terdapat dalil diperbolehkannya Hajl, yaitu mengangkat kaki dan melompati kaki yang lain karena gembira. Dan raqsh dan yang semisalnya juga diperbolehkan. Wallaahu a’lam ”.

Oleh sebab itu pula, Ya’qub bin Sufyan mengatakan :
حديث سفيان وأبي إسحاق والأعمش ما لم يعلم أنه مدلس يقوم مقام الحجة.
“ Hadits Sufyan dan Abu Ishaq dan al-A’masy, jika tidak diketahui melakukan tadlis, maka dapat menduduki kedudukan hujah “.
Dan sebab itulah Syu’bah mengatakan :

كفيتكم تدليس ثلاثة: الأعمش وأبو إسحاق وقتادة
 Aku jamin (keamanannya) tadlis tiga orang ini; al-‘Amasy, Abu Ishaq dan Qatadah “.[28]

Syaikh Ahmad Syakir ketika mentahqiq hadits ini, beliau mengatakan : “ Isnaduhu sahih “.[29]

4.Hani bin Hani. Al-hafidz Ibnu Hajar mengatakan, bahwa Ibnu Sa’ad menggolongkannya ke dalam tingkatan yang pertama, dari ahli kufah, dan ia bertasayyu’. Ibnul Madini mengatakan ia majhul, Harmalah mengatakan bawasanya imam Syafi’i mengatakan, “ Hani bin Hani tidak dikenal, ulama hadits tidak menetapkan haditsnya karena ada jahalah hal nya “.[30]

Imam an-Nasai mengatakan : “ Tidak mengapa “. Ibnu Hibban mentautsiqnya dan memasukkannya ke dalam ats-tsiqatnya. Al-Ijli mengatakan :
هانئ بن هانئ كوفي تابعي ثقة
“ Hani bin Hani seorang dari Kufah, seorang tabiin yang tsiqah “

Dan ternyata Abu Ishaq dalam hadits syahidnya menggunakan shighat jazm (pasti) berikut :

قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ وَحَدَّثَنِى هَانِئُ بْنُ هَانِئٍ وَهُبَيْرَةُ بْنُ يَرِيمَ عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ رضي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : فَاتَّبَعَتْهُمْ ابْنَةُ حَمْزَةَ تُنَادِى يَا عَمِّ يَا عَمِّ فَتَنَاوَلَهَا عَلِىٌّ رضي اللَّهُ عَنْهُ فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَالَ لِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ :« دُونَكِ ابْنَةَ عَمِّكِ ». فَحَمَلَتْهَا فَاخْتَصَمَ فِيهَا عَلِىٌّ وَزِيدُ بْنُ حَارِثَةَ وَجَعْفَرُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَقَالَ عَلِىٌّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ :« أَنَا أَخَذْتُهَا وَبِنْتُ عَمِّى ». وَقَالَ جَعْفَرٌ : بِنْتُ عَمِّى وَخَالَتُهَا عندي وَقَالَ زَيْدٌ : ابْنَةُ أَخِى. فَقَضَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِخَالَتِهَا وَقَالَ :« الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ
Telah berkata Abu Ishaaq : Dan telah menceritakan kepadaku Haani’ bin Haani’ dan Hubairah bin Yariim, dari ‘Aliy bin Abi Thaalibradliyallaahu ‘anhu,” ……lalu Beliau diikuti oleh putri dari Hamzah dgn berkata : Wahai paman, wahai paman. Maka ‘Ali bin Abu Tholib menarik anak itu & mengambilnya dgn tangannya lalu berkata kepada Fathimah ‘alaihas salam: Kamu jaga anak pamanmu ini. Maka Fathimah membawanya. Lalu ‘Ali, Zaid & Ja’far bertikai dalam persoalan anak itu. ‘Ali berkata: Aku yg paling berhak atas anak ini, karena dia adl putri pamanku. Sedangkan Ja’far berkata: ‘Dia putri dari pamanku & bibinya ada dalam tanggunganku. Adapun Zaid berkata, “ Dia putri dari saudaraku “. Kemudian Nabi memutuskan anak itu menjadi hak bibinya lalu bersabda:

Seorang bibi kedudukannya sama dgn ibu. Lalu Beliau bersabda kepada ‘Ali: Kamu dariku & aku darimu. Dan Kepada Ja’far: Beliau bersabda:Kamu serupa dgn rupa & akhlaqku Dan Beliau bersabda pula kepada Zaid: Kamu adl saudara kami & maula kami. [
HR. Bukhari No.2501].

Hadits sahih ini, selain membuktikan sima’nya Abu Ishaq kepada Hani bin Hani di atas, ia juga membuktikan bahwa Hani bin Hani tidak sendiri meriwayatkan hadits ini, akan tetapi ada mutabi’ lainnya yaitu Hubairah bin Yarim. Bahkan al-Baihaqi mengomentari hadits ini berikut :

ويحتمل أن تكون رواية أبى إسحاق عن البراء في قصة ابنة حمزة مختصرة كما روينا ثم رواها عنهما عن على رضي الله عنه أتم من ذلك كما روينا فقصة الحجل في روايتهما دون رواية البراء والله اعلم (وروينا) هذه القصة أيضاً عن محمد بن نافع بن عجير عن أبيه عن على بن أبى طالب رضي الله عنه
“ Dimungkinkan riwayat Abu Ishaq dari al-Barra dalam kisah puteri Hamzah secara ringkas, sebagaimana kami riwayatkan . kemudian telah meriwayatkan hadits tersbut dari keduanya dari Ali radhiallahu ‘anhu yang lebih sempurna dari itu, sebagaimana telah kami riwayatkan. Maka kisah al-Hajl ada pada riwayat keduanya bukan riwayat al-barra, wallahu A’lam. Dan kami telah meriwayatkan kisah ini juga dari Muhammad bin Nafi’ dari Ujair dari Ayahnya dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu “[31]

Maka dengan penjelasan al-Baihaqi ini, menjelaskan bahwa hadits ini ada tiga isnad dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 03-12-2014



[1] Nihayah al-Muhtaj, ar-Ramli : 8/298, versi Maktabah Syamilah.
[2] Asna al-Mathalib : 4/345
[3] Hasyiayatan Qolyubi wa Umairah : 4/321
[4] Minhaj ath-Thalibin wa Umdah al-Muftin, an-Nawawi : 141
[5] Al-Fatawa al-Kubra, Bab asy-Syahadaat
[6] Al-Fataawa al-Haditisyyah : 1/212
[7] Al-Hadaiq : 165
[8] Al-Inshaf, al-Mardawi : 6/89
[9] Kasysyaf al-Qina’ ‘an Matn al-Iqna’ : 4/
[10] Hasyiah ash-Shawi : 2/503
[11] Ar-Rahas wa al-Waqash : 3
[12] Radd al-Mukhtar : 6/395
[13] al-Minhaj : 6/186
[14] At-Taratib al-Idariyyah, al-Kattani : 2/143
[15] Ihya Ulumiddin : 2/300
[16] Faidh al-Qadir : 3/436
[17] Al-Hawi lil Fatawi, as-Suyuthi : 3/349
[18] At-Taratib al-Idariyyah, al-Kattani : 2/143
[19] Diwan imam Syafi’i halaman : 19
[20] Madarij As-Salikin juz 3 hal; 129
[21] Al-Hadaiq : 165
[22] Ihya Ulumuddin, al-Ghazali : 2/266
[23] Fath al-Bari, Ibnu Hajar : 7/504
[24] Masyariq al-Anwar, al-Qadhi bab Ha Ja La.
[25] Hasyiyataan Qalyubi wa ‘Umairah : 4/321
[26] Al-Adaab lil Baihaqi : 422
[27] Madarij as-Salikin, Ibnul Qayyim : 3/324
[28] Lihat rujukan semua keterangan di atas dalam : al-Ma’rifa wa at-Tarikh : 2/633. Tarikh Abu Zur’ah : 1212. ‘Ilalul Hadits, Ibnu Abi Hatim : 279. Al-Majruhin : 1/92. Sunan al-Kubra, al-Baihaqi : 1/201. Siyar A’lam an-Nubala : 5/394. Tahdzib at-Tahdzib : 6/172. At-Taqrib : 739. Ta’rif Ahli at-Taqdis : 42.
[29] Musnad Ahmad JUZ 1 / 537, Hadis Nomor 857
[30] Tahdzib at-Tahdzib : 11/22
[31] Sunan al-Baihaqi : 10/227


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: