Selasa, 30 Mei 2017

Jenazah Mustasyar PBNU "KH Mahfudz Ridwan" Dilepas Setelah 61 Kali Dishalatkan

MusliModerat.net - Ribuan umat muslim dan umat lintas agama lainnya melepaskan jenazah Mustasyar PBNU, KH Mahfudz Ridwan ke peristirahatan terakhirnya di pemakaman keluarga di kompleks Pondok Pesantren Edi Mancoro, Desa Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (29/5/2017) siang.
Jenazah sahabat Gus Dur ini dibawa keluar dari Masjid Darussalam setelah dishalatkan sebanyak 61 kali oleh para pelayat yang datang secara bergelombang.
Setiap kali shalat jenazah dipimpin oleh seorang kiai yang berbeda dan diikuti oleh sekitar 50 sampai 100 pelayat.

Menjelang pukul 13.30 WIB, pembawa acara mengumumkan bahwa sebentar lagi akan dilaksanakan shalat jenazah yang ke-61 atau yang terakhir. Sebab, pada pukul 14.00 WIB, upacara pemberangkatan jenazah akan segera dilaksanakan.
"Shalat jenazah yang ke-61 atau yang terakhir bertindak sebagai imam,panjenenganipun simbah KH Hasyim dari Ambarawa. Bagi para pentakziah yang baru datang silakan segera memasuki masjid," demikian bunyi siaran tersebut.
Setelah selesai shalat Jenazah yang terakhir tersebut, tepat pukul 14.00 WIB, keranda yang membawa Kiai Mahfudz dibawa keluar dari masjid. Suasana pilu langsung menyergap segenap hati ribuan umat yang ada di luar masjid saat melihat keranda keluar dari masjid diiringi kalimat tahlil.
"Laa Ilaaha illallah...," seru para pentakziah.

Suasana haru kian terasa ketika alunan ayat suci Al Quran dibacakan. Suara qari (pembaca ayat Al Quran) seolah tidak sanggup meneruskan lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Suaranya tercekat sembari menahan air mata yang hendak keluar dari kedua kelopak matanya.
KH Munasir yang mewakili pihak keluarga dalam sambutannya mengatakan bahwa Kiai Mahfudz Ridwan meninggal pada usia 78 tahun. Beliau meninggalkan seorang istri, empat orang anak dan sembilan cucu.
"Meninggal dunia pada Ahad Pon, 2 Ramadhan 1438 Hijriyah atau bertepatan dengan 28 Mei 2017. Semoga bapak ibu berkenan mengampuni dosa beliau, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja," kata Munasir.
Sementara itu, Bupati Semarang Mundjirin dalam sambutannya mengatakan, bangsa Indonesia merasa kehilangan KH Mahfudz Ridwan. Almarhum adalah seorang ulama yang keilmuan dan kiprahnya mewarnai kehidupan bangsa Indonesia.

"Bukan hanya bagi Kabupaten atau Kota Semarang saja, tetapi bagi nusantara adalah kehilangan tokoh nasional sebagai panutan kita semua. Semoga kita semua bisa meneruskan cita-cita almarhum," kata Mundjirin.
Hadir dalam upacara pemberangkatan jenazah Kiai Mahfudz, antara lain KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Ketua MUI Jateng KH Ahmad Daroji, Bupati Semarang Mundjirin dan Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha, Kapolres Semarang AKBP Thirdy Hadmiarso, Wakapolres Semarang, Dandim 0714 Salatiga, Rektor UKSW Salatiga Pdt Jhon A Titaley, Guru Besar IAIN Salatiga Prof Dr H Muh Zuhri MA, anggota DPR RI Fadholi, budayawan Habib Sholeh Baasyin dan sejumlah tokoh agama dan masyarakat Jawa Tengah lainnya.

Jenazah Kiai Mahfudz akhirnya diberangkatkan ke pemakaman setelah didoakan oleh Gus Mus.
Anggota Banser, pendekar Pagar Nusa dan santri Ponpes Edi Mancoro harus bersusah payah menertibkan ribuan pelayat yang memadati area masjid dan kediaman Kiai Mahfudz menuju pemakaman yang berjarak sekitar 100 meter itu.
Para pelayat berusaha merangsek ke arah keranda untuk sekadar menyentuh kain penutup keranda sebagai ungkapan kerinduan sekaligus perpisahan dengan sang kiai.[kompas.com]
Advertisement

Advertisement