Jangan Ikut Menuduh Zina Seseorang, Karena Dosa Besar

Baca Juga

Deskripsi Masalah
Zina merupakan salah satu dosa besar dalam islam, orang yang melakukan zina selain mendapatkan dosa, juga merasa malu dengan lingkungan sekitar, terlebih jika ia berada dalam lingkungan yang religius dan berasal dari keluarga terpandang, namun kadang seseorang ingin merusak harga diri kita dengan menuduh berzina, sehingga merusak kehormatan diri dan keluarga.

Pertanyaan

  1. Bagaimanakah hukum menuduh orang lain berzina ?
  2. Hukuman apakah yang dikenakan jika ia tidak dapat menghadirkan saksi?
  3. Bagaimanakah kriteria pengambilan had (hukuman) tuduhan ?


Jawaban

Hukum menuduh orang berzina merupakan dosa besar, dan wajib dihukum dengan had tuduh yaitu delapan puluh kali cambuk, kecuali jika ia sanggup menghadirkan empat orang saksi, atau dimaafkan oleh korban tuduhan atau berli’an (sumpah laknat) jika yang tertuduh adalah istrinya sendiri.
Adapaun pelaksanaan had, maka harus memenuhi delapan kriteria berikut:
Tiga syarat terdapat pada penuduh
  1. Baligh
  2. Berakal
  3. Penuduh bukan ayah bagi yang tertuduh
Dan lima syarat terdapat pada tertuduh
  1. Muslim
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Orang baik baik (Terpelihara dari melakukan zina)

Jika ayah menuduh anaknya berzina, atau orang yang menuduh masih kanak-kanak atau gila, maka ia tidak dikenakan had, demikian juga jika yang tertuduh kafir, masih kanak kanak, gila, budak atau pernah melakukan zina, maka sipenuduh tidak dikenakan had, namun demikian, jika tertuduh terbukti melakukan zina sebelum pelaksanaan had, maka had gugur, karena kebiasaan Allah dalam menutup rahasia hambanya pada kali pertama, jika terbukti melakukan zina, berarti ia juga pernah melakukan zina sebelumnya, beda halnya dengan kufur, jika tertdakwa murtad sebelum pelaksanaan had, maka hadnya tidak gugur, lantaran kufur merupakan hal perubahan aqidah tidak bisa nampak pada kebiasaan.

Referensi:
Kitab Bajuri Karya Ibnu Qasim Juz 2 Hal 236-237 Cet Haramain




Pengertian Qadzaf dan Sanksinya
Qadzaf, menurut arti syar’i, adalah menuduh seseorang berbuat zina atau liwath (sodomi) atau menuduh seseorang sebagai anak zina tanpa bukti. Termasuk perbuatan qadzaf, misalnya, bila seseorang berkata, “Eh, kamu berselingkuh!”, atau, “Hai, pelacur!”, atau, “Hai, anak zina/haram, atau yang semisal itu. Hukumnya adalah haram dan termasuk dosa besar, berdasarkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik yang lengah lagi beriman dengan (tuduhan berbuat zina), mereka yang menuduh akan mendapatkan laknat di dunia maupun di akhirat. Dan atas mereka siksa Allah, Yang Mahaagung.” (QS At-Tawbah: 23).
Sementara itu, apa yang dikatakan oleh ustadz tersebut memang benar adanya, yaitu bahwa qadzaf dapat menghapus semua pahala amal yang telah kita lakukan, sebagaimana sabda Nabi SAW:
قذف المحصنة ليهدم عمل ما ئة سنة (رواه مسلم
“Menuduh seorang wanita yang bersih dari tuduhannya (zina) dapat meleburkan pahala amal 100 tahun.” (HR Muslim).
       Dalam agama, orang yang melakukan qadzaf juga dihukumi sebagai orang yang fasiq dalam agama, hingga ia bertaubat dengan taubatan nasuha. Adapun, hukuman agama atas mereka yang melakukan qadzaf, jika sudah terbukti mengucapkannya, dikenai cambuk dengan 80 kali cambukan jika dia seorang yang merdeka, dan 40 cambukan jika dia seorang budak.
Namun demikian, tidak semua orang yang menuduh orang lain akan mendapatkan hukuman cambuk, melainkan bilamana terdapat syarat-syarat berikut ini:
  1. Yang melakukan qadzaf adalah seorang yang sudah baligh. Maka, hukuman atas perbuatan qadzaf tidak dilaksanakan jika yang melakukannya adalah seorang anak kecil yang belum baligh.
  2. Yang melakukan qadzaf adalah seorang yang berakal. Maka, hukuman atas perbuatan qadzaf tidak dilaksanakan jika yang melakukannya adalah orang gila.
  3. Melakukannya atas kemauannya sendiri, bukan karena dipaksa orang lain. Maka, hukuman atas perbuatan qadzaf tidak dilaksanakan jika yang melakukannya terpaksa, karena adanya paksaan dari orang lain.
  4. Yang dituduh adalah seorang muslim yang sudah baligh dan berakal. Maka, hukuman atas perbuatan qadzaf tidak dilaksanakan jika yang tertuduh adalah seorang kafir, anak kecil, atau orang gila.
  5. Yang menuduh bukanlah ayah atau kakek dari orang yang dituduh. Maka, hukuman atas perbuatan qadzaf tidak dilaksanakan jika yang melakukannya adalah ayah atau kakek dari anak dan cucunya.
  6. Orang yang dituduh memang seorang yang bersih dari tuduhannya itu. Lain halnya jika yang dituduh itu adalah seorang pelacur, atau memang orang yang benar-benar melakukannya, maka hukuman atas perbuatan qadzaf tidak dilaksanakan atas orang yang menuduhnya.

Dapatkah Lepas dari Hukuman Qadzaf?
       Jika seseorang sudah telanjur melontarkan perkataan qadzaf, dia dijatuhi hukuman atas perbuatan qadzaf itu, kecuali jika dia melakukan salah satu dari tiga hal berikut:
  • Dia dapat membuktikan tudahannya dengan mendatangkan empat orang saksi laki-laki yang menyaksikan langsung perbuatan zina tersebut.
  • Jika ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi tetapi ia berani melakukan sumpah li’an. Yaitu jika yang melontarkan qadzaf adalah suami terhadap istrinya dengan tuduhan perbuatan zina.
  • Dia meminta maaf kepada orang yang dituduhnya, dan orang yang dituduh mau memaafkannya.
Maka, jika seseorang telanjur berbuat qadzaf dan ia melakukan salah satu dari tiga hal di atas, ia terbebas dari jeratan hukuman cambuk. [MusliModerat]

Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: