Selasa, 23 Mei 2017

Jamaah An Nadzir dan Naqsabandiyah Mulai Puasa hari kamis

MusliModerat.net ~ Seperti tahun-tahun sebelumnya Jemaah An-Nadzir di Sulawesi Selatan dan Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat menjalankan ibadah puasa 1 Ramadhan 1438 H lebih awal. Tahun ini mereka akan puasa pada Kamis 25 Mei 2017.

“Kita amati terus perkembangan perjalanan akhir bulan Sya’ban, tapi kemungkinan besok malam (Rabu 24 Mei) sudah ada kesimpulan, jika kita akan berpuasa pada Kamis,” kata Ulama Jemaah An-Nadzir, Lukman A Bakti, Selasa 23 Mei 2017.

Menurut dia, pihaknya menentukan satu Ramadan dengan metode hisab, rukyah dan tanda alam. Lukman menjelaskan bahwa tanda alam itu misalnya air pasang, terbitnya bulan di subuh hari, fajar sidik jam berapa masuk. Ia berkesimpulan bahwa fajar sidik itu menentukan batasan antara malam dan siang.

“Pengamatan kita ini sudah hampir masuk kesimpulan, jika melihat fenomena alam. Insya Allah 1 Ramadhan masuk pada Kamis pagi,” tutur dia. “Estimasi kita Kamis dinihari dan fajar sidik (menjelang matahari terbit) itu terjadi pukul 05.00 Wita. Otomatis tak ada lagi bulan besoknya, kalaupun ada hanya muncul pukul 06.00 Wita lewat,” katanya.

Lukman menambahkan begitu juga untuk penentuan akhir Ramadan yakni 1 Syawal melalui hisab, rukyah dan fenomena alam. “Tapi penentuan 1 Syawal itu jauh lebih gampang dibandingkan 1 Ramadan,” ucap dia.

Dia menyebutkan saat ini jumlah jemaah An-Nadzir sekitar 1.000 orang yang bermukiman di Kampung Mawang Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Tarekat Naqsabandiyah juga telah menetapkan awal Ramadan 1438 Hijriah. Jemaah Naqsabandiyah akan mulai berpuasa pada Kamis 25 Mei 2017.

“Kamis kami mulai berpuasa. Diawali dengan salat Tarawih Rabu 24 Mei,” ujar Pimpinan Tarekat Naqsabandiyah Sumatera Barat Mursyid Syafri Malin Mudo, Selasa 23 Mei 2017.

Mursyid Syafri mengatakan, perhitungan awal Ramadan ditetapkan melalu metode hisab Mujid. Metode ini berdasarkan kitab Munjid yang dipercayai tarekat ini sejak turun menurun.

Menurut Mursyid, tarekatnya berpedoman kepada Alquran yang tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 183 hingga 185. Surat itu menyebutkan kewajiban untuk berpuasa yang petunjuk pelaksanaannya diatur dalam Alquran. “Sumber (kitab) kami adalah Alquran,” ujarnya.

Ia mengklaim ada sekitar lima ribuan jemaah Naqsabandiyah yang berasal dari pelbagai daerah. Selain dari Sumatera Barat, ada jemaahnya dari Provinsi Jambi dan Riau.

Di Padang, jemaahnya tersebar di 50 surau di Kota Padang. Kata dia, masing masing surau diisi sekitar 300 jemaah.

Pawai Obor

Sebelumnya Ribuan muslim di Kota Manado mengikuti tradisi pawai obor atau Tabtu menyambut Ramadan, Senin malam, 22 Mei 2017. Kegiatan ini dibuka Sekretaris Kota Manado pada pukul 19.30 dan berakhir sekitar pukul 23.00 Wita.

Ribuan peserta yang datang dari semua masjid di Kota Manado ini mengitari rute yang cukup panjang dan nyaris mengelilingi sebagian wilayah Manado sembari membawa obor yang terbuat dari bambu.

Kegiatan ini tak hanya menarik perhatian umat muslim, tapi juga umat Nasrani. Mereka ikut menyaksikan dan mengabadikan momen pawai obor yang diselenggarakan untuk menyambut Ramadan 1438 Hijriah.

Banyak warga Nasrani, yang merupakan mayoritas di Kota Manado, tampak melakukan swafoto dengan latar belakang para peserta pawai obor. Selain karena nyala api dari obor, pawai itu terlihat menarik lantaran para peserta menggunakan pakaian bervariasi yang indah.

“Beginilah di Manado. Kita ini saudara. Kalau ada kegiatan dari agama lain, pasti kita sama-sama sukseskan. Begitu juga saat Natal, pasti umat Islam dan umat lain ikut menyukseskan. Di sini toleransinya masih kuat, sehingga kami sulit untuk disulut,” ujar Andre Pelealu dan Cindy Pinontoan, warga Manado.

Sekretaris Kota Manado Rum Usulu menuturkan, setiap menyambut Ramadan, di Kota Manado memang selalu diadakan pawai obor atau Tabtu. “Kegiatan ini sudah berlangsung sejak lama dan telah menjadi tradisi umat Islam di Kota Manado,” kata Usulu. *

Resource Berita :Duta.co
Advertisement

Advertisement