Sabtu, 27 Mei 2017

Inilah 9 Santri Masa Kini yang Sukses di Indonesia dan Internasional


MusliModerat.net ~ Sejarah mencatat beberapa ulama Indonesia pada masa lalu pernah berkiprah hingga namanya dikenal dunia. Mereka pada umumnya berguru ke Mekah dan Madinah. Sebagian menghabiskan hidupnya dengan mengajar di sana, sebagian lagi pulang ke Indonesia. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Al-Minangkabawi, Syeikh Nawawi Al-Bantani dan lainnya.
Santri yang juga bisa menjadi barometer akan kesuksesaanya antara lain K.H Hasyim Asy’ari, K.H Wahid Hasyim, K.H Ahmad Dahlan, Bung Tomo, Gus Dur,  dan masih banyak lagi. Sekarang ini banyak pula santri yang berhasil menduduki jabatan di pemerintahan Indonesia. 
Bukan hanya membawa pengaruh hebat di Indonesia . Beberapa santri ini juga sudah berhasil menembus dunia internasional. Mereka berhasil menggapai impian mereka lewat karya atau usaha yang gigih,
Diantara beberapa santri yang sukses di jaman sekarang baik di Indonesia maupun dunia antara lain: 

1. Nadirsyah Hosen
Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi dosen tetap di fakultas hukum di universitas di Australia. Sejak pertengahan tahun 2015 dia mengajar di Monash University Faculty of Law, salah satu Fakultas Hukum terbaik di dunia. Sebelumnya selama 8 tahun ia mengajar pada Fakultas Hukum, Universitas Wollongong (2007-2015) hingga meraih posisi sebagai Associate Professor. Tahun 2005 ia bekerja sebagai post-doctoral research fellow di TC. Beirne School of Law, Universitas Queensland.
hosen
Dr. Hosen lulus sarjana S1 dari Fakultas Syari’ah, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan meraih gelar Graduate Diploma in Islamic Studies serta Master of Arts with Honours dari Universitas New England. Kemudian ia meraih gelar Master of Laws dari Universitas Northern Territory.
Peraih dua gelar doktor (PhD in Law dari Universitas Wollongong dan PhD in Islamic law dari National University of Singapore) ini telah melahirkan lebih dari 20 artikel di jurnal internasional seperti Nordic Journal of International Law (Lund University), Asia Pacific Law Review (City University of Hong Kong), Australian Journal of Asian Law (University of Melbourne), European Journal of Law Reform (Indiana University), Asia Pacific Journals on Human Rights and the Law (Murdoch University), Journal of Islamic Studies (University of Oxford), and Journal of Southeast Asian Studies (Universitas Cambridge).
Disamping itu, Nadirsyah Hosen adalah seorang kiai dari organisasi Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama (NU). Sejak tahun 2005, ia dipercaya sebagai Ra’is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru. Nadirsyah Hosen ini adalah  putra Prof. Dr. Ibrahim Hosen. Ayahnya ini pernah menjadi santri K.H. Abdullah Abbas Pesantren Buntet, Cirebon.Gus Nadir, begitu ia biasa disapa, adalah pengarang banyak buku baik berbahasa asing maupun Indonesia.

2. Yudian Wahyudi
Seorang Santri Yang Berhasil Menjadi Guru Besar di Amerika Serikat, Yaitu Prof. Dr. K. Yudian Wahyudi. Beliau adalah dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat. Hal itu diperolehnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, Kanada. Ia juga berhasil menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors serta dipercaya mengajar di Tufts University, Amerika Serikat (AS).
yudian
Prof. Dr. K. Yudian Wahyudi adalah Lulusan Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur dari tahun 1972 hingga 1978. Dan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak selama satu tahun, antara 1978-1979.
Dari Krapyak, beliau masuk Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang Universitas Islam Negeri) merangkap kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Selanjutnya, setelah lulus, melanjutkan pendidikan MA dan doktor di McGill University lalu ke Harvard Law School Amerika Serikat. Kini Prof Drs KH. Yudian Wahyudi PhD ditetapkan dan dilantik menjadi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta masa bakti 2016-2020.

3. Habiburrahman El Shirazy
Siapa yang tidak mengenal Habiburrahman El Shirazy, atau yang biasa di panggil kang Abik Ini, dengan Bergelar H. Habiburrahman El Shirazy, Lc. Pg.D. beliau telah mendapatkan gelar sebagai penulis NO. 1 di Indonesia (dinobatkan oleh INSANI UNDIP AWARD pada tahun 2008). Laki- laki yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976, juga menekuni berbagai bidang selain novelis. Belaiu ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, penyair, sastrawan, pimpinan pesantren, dan penceramah.
13kang-abik
Dalam bidang pendidikan Habiburrahman El Shirazy juga berhasil menjadi seorang sarjana dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Beliau juga pernah nyantri di di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah ketika Mts. Dan Meneruskan MA di daerah Surakarta. Karya-karyanya juga banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan, Australia, dan Komunitas Muslim di Amerika Serikat. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca.
Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, Bumi Cinta, Api Tauhid, dan Ayat-Ayat Cinta 2 yang sedang dimuat bersambung di Harian Republika.

4. Ali Alatas
Perjuangan dari santri negeri hingga bisa menjadi seorang Dokter Juga ditekuni oleh Dr. Ali Alatas. Ali Alatas berasal dari keluarga kurang mampu. Tinggal di hutan belantara pedalaman Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Namun mimpinya untuk mengejar pendidikan tak pernah surut. Sampai akhirnya menjadi dokter.
ali-alatas
Ali melanjutkan pendidikan di Pesantren ‘Assalam Al-Islami’ di desa Sri Gunung, Sungai Lilin, Musi Banyuasin selama 6 tahun. Pesantren tersebut menyediakan beasiswa mulai dari bebas biaya SPP hingga bebas seluruh biaya bagi yang berprestasi, sesuatu yang sangat dibutuhkan Ali. Setelah lulus dari pondok dia mengikuti program santri jadi dokter Musi Banyuasin.
Setelah itu, Ali terbang ke Jakarta untuk menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa kedokteran. Saat menjadi mahasiswa, Ali juga pernah mendapat kesempatan untuk ke Malaysia sebagai salah satu delegasi ” Mahasiswa Kedokteran Islam Indonesia “, tepatnya di Cyberjaya University College of Medical Sciences. Di sana, Ali dan teman-temannya mempresentasikan tentang peran kedokteran islam di Indonesia khususnya dan dunia.

5. Alwi Shihab
Pria yang memiliki nama lengkap Alwi Abdurrahman Shihab ini lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada Senin, 19 Agustus 1946.
alwi
Seperti dikutip Merdeka.com, mantan Menteri Luar Negeri era Presiden Abdurrahmah Wahid ini, mendapat gelar professor dari Harvard University (1998), menjadi Asisten Professor di Temple University Department of Religion, USA (1993-1995).
Adik M. Quraish Shihab ini pernah nyantri di Darul Hadis, Malang, sebagaimana dikutip dari Alwishihab.com.

6. Mun’im Sirry
Mun’im pernah merasakan sebagai santri di Pondok Pesantren TMI al-Amien Prenduan Sumenep Madura (1983-1990) di bawah asuhan K.H. Idris Jauhari.
munim_0
Saat ini, ia tercatat sebagai dosen di Jurusan Teologi, Universitas Notre Dame. Pria asal Madura ini aktif menulis beberapa buku, di antaranya Kontroversi Islam Awal Antara Mazhab Tradisional dan Revisionis.

7. Sumanto Al Qurtuby
Sumanto Al Qurthuby lahir di Batang, Jawa Tengah, pada 10 Juli 1975. Pria kini berusia 40 tahun mendapatkan dua gelar master dari The Eastern Mennonite University’s Center for Justice and Peacebuilding, Virginia, Amerika dan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia.
sumanto
Pria lulusan sarjana IAIN (UIN) Walisongo, Semarang ini, menjadi salah satu Asisten Professor pada bidang Antropologi di King Fahd University of Petroleum and Minerals Dahran, Saudi Arabia, seperti dikutip dari Mei.edu.

8. Eva Fahrun Nisa Amrullah
Seperti dikutip dari Facebook pribadinya, istri Faried F. Saenong ini aktif berkiprah di berbagai universitas luar negeri, seperti menjadi peneliti di Austrian Academy of Sciences dan Post Doctoral di Universitas Amsterdam.
eva-nisa
Ia pernah nyantri di Darunnajah selama 6 tahun. Menurutnya, Pesantren Darunnajah telah mengajarkannya Islam Rahmatan lil ‘Alamin, Islam yang penuh kasih sayang. Islam yang tidak pernah mengkotak-kotakkan santri dan nonsantri. Selain itu, pesantren juga mengajarkannya tetap bekerja sama walaupun berbeda.

9. Ahmad Fuadi
Penulis Novel yang terkenal lewat karyanya yang berjudul “Negeri Lima Menara”, bahkan sudah difilmkan, baru-baru ini juga telah sukses meraih Social Impact Award dalam Education UK Alumni Awards 2016. Meski hanya menempuh studi di Inggris selama satu tahun untuk pendidikan master. Sekarang ini Ahmad Fuadi juga mendirikan Komunitas Menara yang menyediakan akses pendidikan dan buku bagi komunitas kurang mampu. Pada kesempatan itu, dia membeberkan rahasia kesuksesannya mengenyam pendidikan tinggi di Inggris.
negeri-5-menara
Dalam Hal Pendidikan Ternyata Ahmad Fuadi adalah Alumni Pondok Pesantren Gontor. Hingga pada 2004-2005 dia melanjutkan studi di Royal Holloway, University of London, jurusan Film Dokumenter melalui beasiswa Chevening. Bahkan Karya Best sellernya tersebut juga diilhami saat berjalan-jalan di Inggris sambil belajat membuat cerita.
Masih banyak santri-santri yang sukses yang tidak muat jika dimuat dalam post ini. Semoga semua santri-santri di Nusantara bisa meniru jejak-jejak santri terdahulu yang mengharumkan agama dan negara. Aamiin 

Oleh: Nasyit Manaf Fiqhmenjawab.net
Advertisement

Advertisement