Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah yang tak Pernah Mangkir Hadapi Lawannya

Mataku selalu menangis dan memang ia berhak untuk menangis
Bahkan tidak cukup hanya dengan tangisan, juga ratapan
Teruntuk Singa Allah pagi-pagi sekali mereka berkata:
Hamzah itu adalah seorang lelaki yang telah gugur!
Kesedihan itu menimpa umat Islam seluruhnya
Dan juga telah menimpa Rasulullah
Abu Ya’la, engkau laksana kekuatan dasar yang telah dihancurkan
Padahal kau adalah orang yang baik dan suka menyambung tali silaturrahmi
MusliModerat.net - Sepenggal puisi indah namun menyayat hati ini, dipersembahkan oleh Ka’ab bin Malik, atas wafatnya Singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib r.a.
Tak ada yang menyangkal kalau kepergiannya menghadap Sang Khalik adalah pukulan tertelak bagi kekuatan umat Islam saat itu. Nabi Muhammad saw, sampai secara khusus  menshalatkan jenazah syuhada ini sebanyak 70 kali. Sama dengan jumlah para syuhada yang meninggal pada perang Uhud, perang yang sangat menyakitkan bagi umat Islam.
Hamzah, sosok yang sangat dicintai Rasulullah. Ia adalah paman Nabi saw, pembela Rasulullah dengan segenap jiwa raganya. Menancapkan Islam di dadanya, pemberani, dan selalu berada digarda terdepan ketika dengung peperangan Jihad, disaat Allah telah memberi aba-aba perang bela agama dimulai.
Bak singa, Hamzah memegang senjata, menebas kaum Quraisy di perang Badar dan Uhud dengan tanpa merasa takut, disamping tetap waspada untuk selalu menjaga keselamatan Rasulullah.
Ia adalah panglima pertama Islam yang sangat kuat. Pengendara kuda yang tak kenal kata menyerah, dan tempat berkeluh kesah penduduk Mekah ketika sedang gelisah.
Sejak petama kali masuk Islam, Ia telah bernazar (berjanji) bahwa semua kesehatan, kekuatan yang dimilikinya hanya untuk Allah dan agama-Nya.
Dan gelar Singa Allah dan Rasul-Nya diberikan Nabi Muhammad atas dedikasinya.
Ia adalah sosok yang cerdas dan penuh rasa penasaran.
Suatu hari, Ia mengutarakan keinginannya kepada Nabi saw untuk bisa melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya, saat keduanya duduk didekat Ka’bah.
Mendengar permintaan tak lazim itu, Raulullah saw bertanya, “Sungguh engkau tidak mampu untuk melihatnya”.
Namun Hamzah tetap berharap bahwa ia merasa mampu untuk melihatnya, hingga dengan penuh keyakinan berkata, “Ya, saya mampu… .”
Kemudian Rasul menunjuk di atas sebuah kayu yang berada di Ka’bah, saat malaikat Jibril benar-benar hadir, dan berseru kepada Hamzah, “Angkatlah pandanganmu dan lihatlah!”
Hamzah terpaku, takjub pada pandangan matanya, di depannya terlihat Jibril dengan wujud aslinya, kedua telapak kakinya laksana permata hijau yang indah.
Dan akhirnya apa yang terjadi dengan Hamzah? Tak lama kemudian ia terjatuh pingsan!
Peperangan yang terberat dan penuh haru-biru itu terjadi saat perang Uhud. Bukan karena kaum muslimin yang kalah telak saat itu, karena yang paling berbahaya adalah ketika mereka telah berani meninggalkan perintah Rasulullah.
Ketika  para pemanah di bukit Uhud diperintahkan untuk tidak meninggalkan tempat mereka, saat peperangan belum berakhir, telah dilanggar hanya karena tergiur oleh rampasan perang milik musuh yang sepertinya telah kalah.
Sungguh sangat disayangkan, padahal kemenangan telah di depan mata. Panglima Hamzah r.a. telah berjibaku sekuat tenaga memenggal musuh dengan pedang yang terus menerus berputar, menyisir setiap tubuh kaum musyrikin yang ingkar kepada Allah.
Sehingga menyebabkan kelompok Quraish lari tunggang langgang ketakutan. Namun semua usaha Hamzah sia-sia belaka, saat orang-orang mulai tidak taat perintah dan hanya tergiur harta.
Akhir yang terjadi bisa ditebak. Kaum Quraish seolah menemukan udara segar kembali, dengan leluasa menyerang kaum muslimin yang dalam keadaan lengah untuk  melampiaskan dendam dan episode kemenanganpun berganti dengan kesedihan,  kaum muslimin kalah. Banyak para prajuritnya gugur sebagai syuhada.
singa-allah-hamzah-bin-abdul-muthalib
(Tombak Wahsy yg menancap di tubuh Hamzah, ilustrasi)
Tangis Nabi saw tak terbendung saat tahu paman yang dicintainya, panglima perang yang gagah berani dan menyerahkan jiwa raganya pada kejayaan agama meregang nyawa saat mengerahkan semua kekuatan dan keberaniaannya.
Bertempur disisi Rasul sembari berteriak :”Aku adalah Singa Allah.”
Di tempat terbunuhnya Hamzah, dengan perasaan remuk, Rasulullah bersabda, “Aku adalah saksi atas mereka. Balutlah mereka dengan darahnya. Karena tidak ada luka ketika berjihad di jalan Allah SWT, kecuali lukanya itu akan datang di hari kiamat dalam keadaan berdarah. Warnanya merah seperti darah dan harumnya seperti harum minyak misik. Utamakan di antara mereka yang lebih banyak hafalan Al-Qur’annya, lalu kuburkanlah mereka dalam liang lahat.”
Setelah itu beliau juga bersabda, ”Pemimpin para syuhada pada hari kiamat adalah Hamzah.”
Sebuah kematian yang sempurna, tersenyum di alam baka, karena selain seorang lelaki yang sangat cinta Allah dan NabiNya.
Dia juga seorang yang beruntung karena, Jibril telah menampakan bentuk asli di hadapannya, juga memandikan jasadnya saat tewas dan yang paling indah adalah saat Rasulullah saw bersabda:
“Malaikat Jibril mendatangiku dan memberi kabar kepadaku, bahwa nama Hamzah telah tercatat di langit ketujuh. Hamzah bin abdul Muththalib singa Allah dan Rasul-Nya.”
Penghormatan yang sangat layak, upah seorang hamba yang mengajarkan tentang keberanian, kejujuran, ketabahan, setia pada perintah pimpinan dan selalu mengedepankan menyambung tali silaturahmi saat ia dipersaudarakan dengan pembantu Rasulullah saw, Zaid bin Haritsah. Bumi sangat bangga menerima jasadnya.
Sumber :
Candra Nila Murti Dewojati, 2012, Masuk Surga Walau Belum Pernah Shalat, kalil imprint GPU, Jakarta


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: