Selasa, 09 Mei 2017

Bela HTI Berarti Mempertahankan Ideologi Mu'tazilah dan Menolak Kemakshuman Para Nabi

MusliModerat.net - MEMBELA HTI BERARTI MEMPERTAHANKAN IDEOLOGI MU'TAZILAH DAN MENOLAK KEMAKSUMAN PARA NABI, kenapa?

Karena:
1. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, lahir gerakan revitalis yang dipelopori oleh Ma’bad bin Khalid al-Juhani, pengasas ideologi Qadariyah, yang berpijak pada pengingkaran qadla’ dan qadar Allah. Ideologi ini menjadi embrio lahirnya sekte Muktazilah. Belakangan ideologi pengingkaran qadla’ dan qadar ala Mu’tazilah ini juga di ikuti oleh Taqiyuddin An-Nabhani, perintis Hizbut Tahrir. Dalam bukukunya, al-Syakhsiyat al-Islamiyyah, rujukan primer Hizbut Tahrir (kitab mutabanat HT), Taqiyuddin An-Nabhani berkata :

وهذه الأفعال ـ أي أفعال الإنسان ـ لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الاختيارية لا تدخل تحت القضاء
Semua perbuatan ikhtiyari manusia ini, tidak ada kaitannya dengan ketentuan/qadla’ dan qadla’ juga tidak ada kaitan dengannya, karena manusialah yang melakukannya dengan kemauan dan ikhtiyarnya, oleh karena itu perbuatan ikhtiyari manusia tidak masuk dalam lingkup qadha’ Allah” (Taqiyuddin An-Nabhani, al-Syakhriyah al-Islamiyah, juz 1, Qudus: Mansyurat Hizb al-Tahrir, hal. 71-72)

Dalam bagian lain buku tersebut, Taqiyuddin An-Nabhani juga mengatakan:

فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله
 “Mengaitkan pahala dan siksa dengan petunjuk dan kesesatan menjadi dalil bahwa hidayah (petunjuk) dan kesesatan itu sebenarnya termasuk perbuatan manusia dan bukan datang dari Allah”. (Taqiyuddin An-Nabhani, al-Syakhriyah al-Islamiyah, juz 1, hl. 74, dan Nizham al-slam, hal. 22)

Pernyataan Taqiyuddin al-Nabhani tersebut memberikan dua kesimpulan. Pertama, perbuatan ikhtiyari manusia tidak ada kaitannya dengan ketentuan atau qadla’ Allah, dan kedua, hidayah dan kesesatan itu adalah perbuatan manusia sendiri dan bukan dari Allah. Demikian ini jelas bertentungan dengan al-Qur’an, Sunnah dan akal sehat. Dalam sekian banyak ayat berikut ini:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً
 “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. Al-Furqan : 2)

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. Ash-Shaffat : 96)

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (QS. al-Qamar : 49)

Beberapa ayat diatas menegaskan bahwa segala sesuatu itu diciptakan Allah SWT. Kata “Segala sesuatu” dalam ayat tersebut mencakup segala apa yang ada didunia ini seperti benda, sifat-sifat benda seperti gerakan dan diamnya manusia, serta perbuatan yang disengaja maupun yang terpaksa. Dalam realita yang ada, perbuatan ikhtiyari manusia lebih banyak daripada perbuatan non ikhtiyati atau yang terpaksa. Seandainya perbuatan ikhtiyari manusia itu adalah ciptaan manusia sendiri, tentu saja perbuatan yang diciptakan oleh manusia lebih banyak daripada perbuatan yang diciptakan oleh Allah SWT. [1]  Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa pernyataan al-Nabhani diatas merupakan penolakan terhadap teks-teks al-Qur’an dan hadits.

Dalam ayat lain Allah juga berfirman :

فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ
 “Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?” (QS. al-Rum : 29)

Allah SWT juga berfirman tentang perkataan Nabi Musa ‘alayhissalam :

إِنْ هِيَ إِلاَّ فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَاء وَتَهْدِي مَن تَشَاء
“Itu hanyalah cobaan dari Engkau, dan Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki” (QS. al-A’raf : 155)

Allah SWT juga berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya” (QS. al-Qashsash : 56)

Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa hidayah dan kesesatan berasal dari Allah, bukan dari perbuatan manusia. Pernyataan al-Nabhani diatas juga bertentangan dengan ayat berikut ini:

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka” (QS. al-An’am : 110)

Ayat ini menegaskan bahwa perbuatan hati dan perbuatan lahiriah manusia termasuk perbuatan Allah. Hal ini bertentang dengan pernyataan Hizbut Tahrir yang berpandangan bahwa hidayah dan kesesatan adalah perbuatan manusia, dan bukan dari Allah. Demikianlah sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa perbuatan ikhtiari manusia serta hidayah dan kesesatan merupakan perbuatan Allah dan terjadi atas dasar qadha’ dan qadar Allah.

Pandangan Hizbut Tahrir juga bertentangan dengan hadits-hadits Nabi Saw.. Diantaranya adalah :

عن ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : " كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزُ وَالْكَيْسُ
“Ibnu Umar berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda : Segala sesuatu itu terjadi dengan ketentuan Allah, sampai kebodohan dan kecerdasan” (HR. Muslim dan Ahmad)

إن الله صانع كل صانع وصنعته
“Hudzaifah berkata : Rasulullah Saw. bersabda : Sesungguhnya Allah yang menciptakan semua pelaku dan perbuatannya” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

القدرية مجوس هذه الأمة : إن مرضوا فلا تعودوهم ، وإن ماتوا فلا تشهدوه
“Umar meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda : Qadariyah itu majusinya umat ini, apabila mereka sakit maka janganlah menjenguk mereka dan apabila mereka meninggal, maka janganlah kalian menyaksikan jenazah mereka” (HR. Abu Daud, no. 4071)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada adalah ciptaan Allah, termasuk kebodohan, kecerdasan, setia makhluk hidup dan segala perbuatannya. Dengan pandangan diatas, HT juga menyalahi hadits shahih berikut ini :

صنفان من أمتي ليس لهما في الإسلام نصيب : المرجئة ، والقدرية
“Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda : Dua golongan dari ummatku yang tidak memiliki bagian dari Islam, yaitu Qadariyah dan Murji’ah” (HR. Ibnu Jarir al-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar, no. 1965)

Hadits ini dengan tegas dalam mengkafirkan golongan Qadariyah yang berpandangan bahwa perbuatan manusia diciptakannya sendiri dengan kemauan dan ketentuannya. Menurut sebagian ulama, pandangan ini persis dengan pendangan Hizbut Tahrir yang menanggalkan Islam, sebagaimana ular yang menanggalkan kulitnya.

Secara rasional, pandangan Hizbut Tahrir juga tidak dapat dinalar dengan akal sehat. Berdasarkan pandangan Hizbut Tahrir, bahwa perbuatan ikhtiari manusia itu adalah ciptaannya sendiri, berarti Allah itu menjadi pihak yang kalah dan tidak berdaya menghadapi hamba-hamba-Nya yang menciptakan berbagai kemaksiatan didunia ini tanpa kehendak-Nya. Padahal Allah adalah pihak yang selalu menang berdasarkan firman-Nya :

وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (QS. Yusuf : 21)

Berdasarkan asumsi Hizbut Tahrir yang mengatakan bahwa hidayah dan kesesatan adalah murni perbuatan manusia dan tidak datang dari Allah, berarti kekuasaan Allah terdapat sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya. Hal in tidak dapat dibenarkan oleh logika yang sehat. Segala sesuatu yang terjadi dijagad raya ini semua berasal dari qadha’, qadar, qudrah dan kehendak Allah, baik maupun buruk. [2]

Pandangan Hizbut Tahrir juga bertentangan dengan firman Allah SWT :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. al-An’am : 162-163)

Dalam kedua ayat diatas, Allah menyebutkan shalat dan ibadah yang merupakan perbuatan ikhtiari manusia, lalu menyebutkan hidup dan mati yang bukan perbuatan ikhtiari manusia, kemudian Allah menjadikan semuanya sebagai makhluk Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Ayat tersebut pada dasarnya menyampaikan pesan begini “Katakanlah wahai Muhammad, “Sesungguhnya shalat-shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah makhluk Allah yang tiada sekutu bagi-Nya””. Namun Hizbut Tahrir menyelisihi ayat tersebut dan mengikuti Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa semua perbuatan ikhtiari manusia adalah ciptaan manusia sendiri dan dia yang memilikinya.

Pendekatan Ta’wil dan Ulama Salaf
Pendekatan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat telah dilakukan dan diajarkan oleh ulama salaf yang shalih. Akan tetapi Taqiyuddin An-Nabhani mengingkari dan mengatakan bahwa pendekatan ta’wil tidak dikenal oleh ulama salaf. Dalam hal ini, Taqiyuddin al-Nabahni mengatakan :

كان التأويل أول مظاهر المتكلمين… وكان التأويل عنصرا من عناصر المتكلمين وأكبر مميز لهم عن السلف
“Ta’wil [terhadap ayat-ayat mutasyabihat] merupakan fenomena yang pertama kali dimunculkan oleh para teolog. Jadi ta’wil itu merupakan salah satu unsur dan yang paling membedakan antara mereka dengan salaf” (Syakhisyat al-Islamiyah, 1/53)

Pernyataan al-Nabhani diatas menyimpulkan bahwa ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat pertama kali diperkenalkan oleh para teolog dan menjadi ciri khas utama yang membedakan antara para teolog dengan ulama salaf. Sudah barang tentu, pernyataan tersebut mengandung kerancuan dan kebohongan. Pertama, pernyataan Taqiyuddin al-Nabhani tersebut dapat mengesankan bahwa dikalangan ulama salaf tidak ada ulama yang ahli dalam bidang teologi (ilmu kalam), kedua, pernyataan tersebut juga mengesankan bahwa ta’wil belum dikenal pada masa generasi salaf.

Asumsi Hizbut Tahrir bahwa kalangan generasi salaf tidak ada ulama yang ahli dalam bidang teologi adalah tidak benar. Al-Imam Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir al-Tamimi al-Baghdadi menegaskan bahwa teolog pertama dari generasi sahabat adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Umar. Sedangkan teolog pertama dari generasi Tabi’in adalah Umar bin Abdul ‘Aziz, Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin abi Thalib dan Hasan al-Bashri. Kemudian al-Sya’bi, Ibn Syihad al-Zuhri, Ja’far bin Muhamamd al-Shadiq dan lain-lain. Mereka sangat keras dalam membantah ajaran Qadariyah yang menjadi embrio lahirnya sekte Mu’tazilah, dan belakangan  ideologi Mu’tazilah tersebut diikuti oleh Hizbut Tahrir. [3]

Sedangkan asumsi bahwa ta’wil belum dikenal pada masa generasi salaf juga tidak benar. Pendekatan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat telah dikenal sejak generasi sahabat dan ulama sesudah mereka. Dalam konteks ini al-Imam Badruddin al-Zarkasyi berkata dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an :

وقد اختلف الناس في الوارد منها (أي المتشابهات) في الآيات والأحاديث على ثلاث فرق: أحدها: أنه لا مدخل للتأويل فيها بل تجري على ظاهرها ولا تؤول شيئا منها وهم المشبهة. والثاني: أن لها تأويلا ولكنا نمسك عنه مع تنزيه اعتقادنا عن الشبه والتعطيل ونقول لا يعلمه إلا الله وهو قول السلف. والثالث: أنها مؤولة وأولوها على ما يليق به والأول باطل والأخيران منقولان عن الصحابة
“Para pakar berbeda pendapat tentang teks mutasyabihat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa teks-teks tersebut tidak boleh di ta’wil, tetapi diberlakukan sesuai dengan pengertian literalnya, dan kami tidak melakukan takwil apapun terhadapnya. Mereka adalah aliran Musyabbihah (faham yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Kedua, kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut boleh dita’wil, tetapi kami menghindar untuk melakukannya serta menyucikan keyakinan kami dari menyerupakan [Allah dengan makhluk-Nya] dan menafikan [sifat-sifat yang ada dalam teks-teks tersebut]. Kami berkeyakinan, bahwa ta’wil terhadap teks-teks tersebut hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka adalah aliran salaf. Ketiga, kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut harus dita’wil. Mereka mentakwilnya sesuai dengan kesempurnaan dan kesucian Allah. Madzhab pertama, yaitu madzhab Musyabbihah adalah pendapat yang bathil. Sedangkan dua madzhab yang terakhir dinukil dari sahabat Nabi Saw.” [4]. 

Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Imam Muhamamd bin Ali al-Syaukani. Ia berkata dalam kitabnya Irsyad al-Fuhul :

الفصل الثاني: فيما يدخله التأويل، وهو قسمان، أحدهما، أغلب الفروع، ولا خلاف في ذلك. والثاني، الأصول كالعقائد وأصول الديانات وصفات الباري عز وجل، وقد اختلفوا في هذا القسم على ثلاثة مذاهب: الأول: أنه لا مدخل للتأويل فيها، بل تجرى على ظاهرها ولا يؤول شيئ منها، وهذا قول المشبهة. والثاني: أن لها تأويلا ولكنا نمسك عنه، مع تنزيه اعتقادنا عن التشبيه والتعطيل لقوله تعالى (وما يعلم تأويله إلا الله)، قال ابن برهان وهذا قول السلف… والمذهب الثالث: أنها مؤولة. قال ابن برهان، والأول من هذه المذاهب باطل، والآخران منقولان عن الصحابة، ونقل هذا المذهب الثالث عن علي وابن مسعود وابن عباس وأم سلمة.
“Bagian kedua, tentang teks yang dapat dita’wil, yaitu ada dua bagian. Pertama, teks yang berkaitan dengan furu’ (cabang dan ranting) yang sebagian besar memang di ta’wil, dan hal ini tidak diperselisihkan oleh kalangan ulama. Kedua, teks-teks yang berkaitan dengan ushul (pokok-pokok agama) seperti akidah, dasar-dasar agama dan sifat-sifat Allah SWT. Para pakar berbeda pendapat mengenai bagian kedua ini menjadi 3 aliran. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa teks-teks tersebut tidak boleh di ta’wil, tetapi diberlakukan sesuai dengan literalnya, dan tidak boleh melakukan ta’wil apapun terhadapnya. Mereka adalah aliran Musyabbihah (paham yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Kedua, kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut boleh di ta’wil, tetapi kami menghindar untuk melakukannya serta menyucikan keyakinan kami dari menyerupakan [Allah dengan makhluk-Nya] dan menafikan [sifat-sifat yang ada dalam teks-teks tersebut], karena firman Allah “tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.” Ibnu Burhan berkata ini adalah pendapat ulama salaf…. Ketiga, kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut harus di ta’wil. Ibnu Burhan berkata, madzhab pertama, dari ketiga madzhab ini adalah pendapat yang bathil. Sedangkan dua madzhab yang terakhir dinukil dari sahabat Nabi Saw. Bahkan madzhab yang ketiga ini diriwayatkan dari Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ummu Salamah” [5]. 

Pernyataan al-Zarkasyi dan al-Syaukani diatas memberikan kesimpulan bahwa pendekatan ta’wil telah dikenal dan diajarkan oleh generasi salaf yang shalih termasuk para sahabat Nabi Saw. yang menjadi rujukan Ahlussunnah wal Jama’ah. Berikut ini beberapa riwayat dari ulama salaf yang melakuan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat.
  1. Ibnu Abbas
    Terdapat banyak riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa ia melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat, antara lain adalah : Kursi [QS. 2: 255] dita’wil dengan ilmunya Allah; datangnya Tuhan [QS. 89: 22] dita’wil dengan perintah dan kepastian Allah; a’yun (beberapa mata) [QS. 51: 47] dita’wil dengan penglihatan Allah; aydin [beberapa tangan] dita’wil dengan kekuatan dan kekuasaan Allah; nur (cahaya) (QS. 24: 35) dita’wil dengan Allah yang menunjukkan penduduk langit dan bumi; wajah Allah [QS. 55: 27] dita’wil dengan wujud dan Dzat Allah; dan saq (betis) [QS. 68: 42] dita’wil dengan kesusahan yang sangat keras.
  2. Mujahid dan al-Suddi
    Al-Imam Mujahid dan al-Suddi, dua pakar tafsir dari generasi tabi’in juga menta’wil lafal janb [QS. 39: 56] dengan perintah Allah SWT.
  3.  Sufyan al-Tsauri dan Ibnu Jarir al-Thabari
    Al-Imam Ibn Jarir al-Thabari menafsirkan istiwa’ [QS. 2: 29] dengan memiliki dan menguasai, bukan dalam artian bergerak dan berpindah. Sedangkan Imam Sufyan al-Tsauri menta’wilnya dengan berkehendak menciptakan langit.
  4. Malik bin Abbas
    Imam Malik bin Aas, juga menta’wil turunnya Allah dalam hadits shahih pada waku tengah malam dengan turunnya perinyah-perintah-Nya, bukan Tuhan dalam artian bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
  5. Ahmad bin Hanbal
    Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, melakukan ta;wil terhadap beberapa teks yang mutasyabihat, antara lain ayat tentang datangnya Tuhan [QS. 89: 22] dita’wil degan datangnya pahala dari Tuhan, bukan datang dalam artian bergerak dan berpindah.
  6. Al-Hasan al-Bashri
    Al-Imam Hasan al-Bashri, juga melakukan ta’wil terhadap teks tentang datangnya Tuhan [QS. 89: 22] dengan datangnya perintah dan kepastian Tuhan.
  7. Al-Bukhari
    Al-Imam Al-Bukhari, pengarang Shahih Al Bukhari, juga melakukan ta’wil terhadap beberapa teks yang mutasyabihat, antara lain teks tentang tertawanya Allah dengan sebuah hadits dita’wilnya dengan rahmat Allah, dan wajah Allah [QS. 28: 88] dita’wilnya dengan kerajaan Allah dan amal yang dilakukan semata-mata karena mencari ridha Allah.

Demikianlah beberapa riwayat tentang ta’wil yang dilakukan oleh ulama salaf yang shalih sejak generasi sahabat. Data-data tersebut menujukkan bahwa ta’wil yang dilakukan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan pemahaman terhadap teks-teks mutasyabihat sesuai denga pemahaman ulama salaf yang shalih.


2. Hizbut Tahrir tidak meyakini bahwa para Nabi itu adalah manusia terpilih sejak awal dan Maksum. Bahkan HT berprasangka buruk bhw boleh jadi sebelum diangkat jadi Nabi mereka adalah pendosa.
Ahl al Haqq sepakat bahwa para nabi pasti memiliki sifat jujur, amanah dan kecerdasan yang sangat. Dari sini diketahui bahwa Allah ta'ala tidak akan memilih seseorang untuk predikat ini kecuali orang yang tidak pernah jatuh dalam perbuatan hina (Radzalah), khianat, kebodohan, kebohongan dan kebebalan. Karena itu orang yang pernah terjatuh dalam hal-hal yang tercela tersebut tidak layak untuk menjadi nabi meskipun tidak lagi mengulanginya. Para nabi juga terpelihara dari kekufuran, dosa-dosa besar juga dosa-dosa kecil yang mengandung unsur kehinaan, baik sebelum mereka menjadi nabi maupun sesudahnya. Sedangkan dosa-dosa kecil yang tidak mengandung unsur kehinaan bisa saja seorang nabi. Inilah pendapat kebanyakan para ulama seperti dinyatakan oleh beberapa ulama dan ini yang ditegaskan oleh al Imam Abu al Hasan al Asy’ari —semoga Allah merahmatinya–. Sementara Hizbuttahrir menyalahi kesepakatan ini, mereka membolehkan seorang pencuri, penggali kubur (pencuri kafan mayit), seorang homo seks atau pelaku kehinaan-kehinaan lainnya yang biasa dilakukan oleh manusia untuk menjadi nabi. Inilah di antara kesesatan Hizbuttahrir, seperti yang dikatakan pemimpin mereka, Taqiyyuddin an-Nabhani dalam bukunya asy-Syakhshiyyah al Islamiyyah: "…hanya saja kemaksuman para nabi dan rasul adalah setelah mereka memiliki predikat kenabian dan kerasulan dengan turunnya wahyu kepada mereka. Adapun sebelum kenabian dan kerasulan boleh jadi mereka berbuat dosa seperti umumnya manusia. Karena keterpeliharaan dari dosa ('Ishmah) berkaitan dengan kenabian dan kerasulan saja". (Asy-Syakhshiyyah al Islamiyyah Juz I, Bag. Pertama, hlm 120).
Advertisement

Advertisement