Banser dalam Pandangan Non Muslim

OLEH REZA ANGGA
MusliModerat.net - Ditengah carut marutnya politik di negara kita sekarang, ditengah isu berdirinya negara khilafah, ditengah terror bom yang menewaskan beberapa saudara kita, dan ditengah hilangnya keadilan dan kewarasan, kita lupa bahwa kita masih memiliki elemen terakhir yang sedang bersusah payah menjaga pilar keutuhan NKRI, bahkan menjadi bagian dari pilar itu sendiri. Kita terlalu sibuk mengecam ormas garis keras sampai lupa memperhatikan mereka yang tengah berusaha menjaga kesatuan NKRI. Siapa mereka? Mereka adalah Banser NU.

Saya pernah bahas dalam kolom komentar artikel seorang penulis mengenai tetangga saya yang seorang Banser NU. Saya heran dengan tetangga saya yang seorang muslim taat, tapi jidatnya tidak hitam dan tidak mengenakan celana cingkrang, malah menjaga gereja ketika ibadah Paskah. Tanpa bayaran, hanya secangkir kopi dan sekotak kue, karena ketika akan disodorkan sejumlah uang mereka menolak dengan dalih apa yang mereka lakukan adalah tugas negara dan bernafaskan kemanusiaan. Sejumlah uang tidak mampu membeli ideologi mereka atas kecintaan mereka terhadap negara.

Mungkin bagi kita yang awam dan tidak paham selama ini menganggap bahwa Banser NU hanyalah segelintir Nahdliyin (sebutan untuk para anggota NU) yang militan dan tidak terorganisir. Padahal tidak! Saya berani katakan dengan tegas Banser NU adalah badan semi-otonom dari NU yang sah dan diakui pemerintah. Segala kegiatannya berjalan pada koridor hukum dan menjunjung tinggi nilai Pancasila serta UUD 45. Organisasi Banser NU sangat kompleks. Sebut saja Detasemen Khusus 99 Asmaul Husna (Densus 99), Satuan Banser Tanggap Bencana (Bagana), Satuan Khusus Barisan Ansor Serbaguna Penanggulangan Kebakaran (Balakar), Satuan Khusus Banser Lalu Lintas (Balantas), dan masih banyak lagi. Mereka sangat terorganisir, bahkan terkenal sangat setia dan patuh kepada para petinggi NU yang juga menjunjung tinggi nilai ASWAJA atau ahlus sunnah wal jama’ah, yang artinya saya serahkan pada saudara pembaca dan penulis yang Muslim, karena hal tersebut bukan pada ranah dan bidang saya. Tapi saya percaya hal tersebut memiliki arti yang baik.

Banyak kebaikan yang telah mereka tebar. Menjaga persatuan, perdamaian, dan kemanusiaan merupakan misi utama mereka. Saya hampir tidak menemukan berita tentang Banser NU yang berdemo, merusak ketenangan, dan melakukan tindakan anarkis yang berujung rusuh. Kalaupun ada saya minta diberi link beritanya, nanti akan saya baca. Tetapi sejauh ini saya selalu menemukan berita mereka tengah menjaga peribadatan umat dari agama lain, bahkan agama yang berseberangan dengan mereka sekalipun. Mereka tidak sedikitpun alergi terhadap perbedaan dan bahkan hidup berdampingan dalam perbedaan. Kalau anda buka wesitenya, NU.Or.Id, anda akan temukan berita-berita yang menyejukkan. Bandingkan dengan website ormas Islam garis keras yang isinya hanya ganyang, bunuh, habisi, dan banyak foto-foto yang tidak pantas untuk dipasang dalam sebuah situs organisasi yang katanya “formal”.

Tapi kenapa hanya yang garis keras yang terliput dan mencuat di berita, seolah-olah mereka sangat penting dan harus diperhitungkan keberadaannya? Kenapa Banser NU yang jelas-jelas membawa misi kemanusiaan malah jauh dari hingar bingar politik dan media? Kenapa keberadaan Banser NU malah tidak diperhitungkan? Kemana dukungan kita bagi mereka? Mereka bergerak hanya berlandaskan ikhlas dan tawakal akan kecintaan mereka terhadap NKRI. Tidak ada yang menyokong dana dan memberi bantuan bagi misi kemanusiaan mereka. Tidak ada dana-dana untuk berdemo karena NU mengedepankan amar ma’ruf nahi munkar. Sedangkan aksi demo dan berteriak-teriak bunuh menyebabkan kemungkaran itu sendiri.
Pemerintah mendukung mereka namun tidak memberikan ruang yang cukup bagi mereka dalam melaksanakan tugasnya. Bahkan tetangga saya yang sering saya ceritakan ini pernah berkata bahwa kebanyakan anggota malah urunan sendiri ketika akan melakukan misi kemanusiaan. Tidak ada dana ratusan milyar yang masuk dalam kantong organisasi mereka. Kemana kita selama mereka bertugas? Jangan biarkan mereka merasa sendiri dan akhirnya mereka merasa sia-sia dalam menjalankan misi kemanusiannya. Sudah saatnya kita melibatkan mereka dalam tiap sendi dan usaha mempertahankan NKRI. Jangan sampai mereka yang jumlahnya banyak ini malah diakuisisi dan dimodali oleh ormas Islam garis keras, meskipun saya percaya mereka tidak bisa dibeli dengan uang.

Libatkan mereka dalam mata pelajaran agama Islam yang diberikan pada bangku sekolah agar Islam yang didapat pada bangku sekolah adalah Islam yang bernafaskan semangat nusantara, bernafaskan Bhinneka Tunggal Ika, dan agar Islam yang didapat oleh anak didik kita adalah Islam yang toleran dan memahami perbedaan adalah sebuah keindahan dan anugerah yang diberikan Tuhan pada kita. Beri mereka ruang dalam ruang peribadatan agama apapun untuk memperbaiki citra Islam yang sesungguhnya. Beri mereka pelatihan dalam taraf militer guna memperdalam rasa bela negara dan bela Pancasila. Sehingga ideologi sesat yang anti Pancasila akan dengan mudah mereka tolak.
Saya pribadi bukan seorang Muslim, saya adalah yang selama ini dianggap kafir oleh ormas Islam garis keras, tapi saya percaya bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamin yang membawa rahmat dan anugerah bagi alam semesta. Dalam pilar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berhias 5 tumpuk bunga teratai, agama Islam berada pada tumpukan yang paling bawah dan memiliki porsi ukuran yang lebih besar dibanding ukiran bunga teratai yang lain. Pilar ini memiliki makna agama Islam sebagai agama terakhir yang masuk ke Indonesia dan memiliki populasi terbanyak diharapkan mampu menjadi penyokong dan mengayomi kesejahteraan umat beragama lain yang memiliki populasi jauh lebih sedikit atau minoritas. Kebudayaan Jawa yang berasal dari Kraton yang bernafaskan nuansa Islami yang sempat dihina karena wanitanya menggunakan kemben malah menganggap Islam adalah agama anugrah.

Akhir kata, mari kita bantu para Banser NU ini dalam menjalankan tugasnya. Tidak dalam bentuk bantuan dana, tapi perhatian, cukup tanyakan apa kebutuhan mereka dalam menjalankan tugas mereka, mereka sudah merasa cukup senang karena diperhatikan. Libatkan mereka dalam tiap kegiatan yang bernafaskan Bhinneka Tunggal Ika, karena itu merupakan ranah yang mereka bangun dan pertahankan sejak ratusan tahun yang lalu.

“Jika masih ada sedikit keraguan dalam hatimu, berpikirlah bahwa yang kau jaga ini bukan gereja, melainkan Indonesia. Atau setidaknya berpikirlah, bahwa yang kamu jaga adalah kotamu. Yang kamu jaga adalah tanah kelahiranmu. Sebab setiap gangguan yang terjadi di tanah kelahiranmu, pasti akan berdampak kepadamu” (Gus Dur, dalam menjawab pertanyaan Banser yang ragu-ragu ketika akan pergi bertugas menjaga peribadatan sebuah gereja)


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: