Astaghfirullah, Situs Resmi HTI Sebut Nasionalisme itu Kufur dan Beracun

Baca Juga

MusliModerat.net - Pengusung khilafah Islam seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) lewat para “juru bicara” mereka seperti Felix Siauw dan Muhammad Shidiq Al Jawi serta situs resmi HTI http://hizbut-tahrir.or.id/ jelas menolak nasionalisme. Bagi kelompok ini, nasionalisme tak lain adalah primordialisme dan fanatisme kebangsaan (ashabiyah).  Di mata mereka, nasionalisme bertentangan dengan khilafah dan persaudaraan (ukhuwah) Islam. Bagi mereka, nasionalisme haram.

Pandangan Ngawur HTI tentang Nasionalisme bisa dilihat dalam situs resminya dalam link Berikut:

1. Demokrasi dan Nasionalisme: Kufur dan Beracun
http://hizbut-tahrir.or.id/2013/07/09/demokrasi-dan-nasionalisme-kufur-dan-beracun/

2. Nasionalisme Bertentangan dengan Islam
http://hizbut-tahrir.or.id/2012/11/19/nasionalisme-bertentangan-dengan-islam/

3. Nasionalisme dan Separatisme Haram!

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/03/31/nasionalisme-dan-separatisme-haram/

Juga dalam Video berikut:








Ini tentu pendapat yang gegabah dan tak berdasar. Ibarat pepatah, menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Gerakan khilafah macam HTI inilah yang sebenarnya patut dicurigai sebagai kelompok, yang nabi sebut sebagai, fanatisme (ashabiyah) jahiliyah.
Jika merujuk pada apa yang Nabi Muhammad lakukan di Madinah beserta empat khalifah sesudahnya, tampak bahwa sistem yang dibangun adalah suatu bentuk nasionalisme. Di Madinah nabi mengganti sistem ashabiyah pra-Islam dengan nasionalisme modern. Bahkan dianggap terlalu modern pada zamannya sehingga hanya berjalan relatif singkat.
Nasionalisme yang dibangun nabi dan empat khalifah ini ditandai dengan sejumlah hal. Pertama, Madinah dibangun berdasarkan konstitusi yang disebut Piagam Madinah untuk melindungi tak hanya umat Islam di dalamnya. Madinah dihuni selain oleh suku Auz dan Khazraj yang sebagian mereka telah memeluk Islam, juga orang-orang Yahudi dari tiga suku besar: Bani Quraizhah, Nadhir, dan Qaynuqa’.
Untuk menciptakan kehidupan harmonis dan damai, Nabi Muhammad mengajak mereka duduk bersama membuat kontrak sosial berupa Piagam Madinah. Di antara isinya adalah: orang mukmin harus melawan orang-orang yang melakukan kejahatan/permusuhan dan perusakan walau terhadap anak mereka sendiri; siapapun dari kalangan Yahudi yang bersedia memihak kepada kelompok/mengikuti kaum Muslim maka ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan; masyarakat Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat dengan orang-orang-orang beriman.
Piagam itu juga berisi: masyarakat Yahudi bebas melaksanakan agama mereka dan kaum Muslim pun demikian; seseorang tidak boleh dihalangi dalam menuntut haknya; orang Yahudi dan mukmin harus saling membantu menghadapi pihak yang menentang piagam ini, mereka semua sama-sama berkewajiban nasihat-menasihati, bantu-membantu dalam kebajikan, dan menjauhi dosa dan keburukan; seseorang tidak boleh melakukan keburukan kepada sesamanya dan bahwa pertolongan/pembelaan harus diberikan kepada yang teraniaya.
Dengan kontrak sosial ini nabi bukan hanya berhasil mendamaikan dua suku yang sering konflik (Aus dan Khazraj), tapi juga merangkul kaum Yahudi untuk sama-sama membangun dan berjuang untuk melindungi Madinah dari serangan luar. Konstitusi ini berisi aturan yang bukan hanya dirumuskan bersama tapi juga mengikat dan mesti ditaati setiap individu dan kelompok masyarakat.
Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid dalam bukunya Indonesia Kita (2004) mengatakan bahwa nasionalisme sejati atau suatu paham yang memperhatikan kepentingan seluruh warga tanpa kecuali adalah bagian integral konsep Madinah yang dibangun nabi.
Bangsa (nation), menurutnya, dalam bahasa Arab disebut ummah. Tak heran dalam piagam itu terdapat kata ‘satu umat’ (al-ummah al-wahidah atau al-umam al-muttahidah). Jadi konsep nasionalisme atau negara-bangsa adalah negara yang menaungi seluruh umat yang didirikan berdasarkan kesepakatan bersama sebagai hasil dari kontrak dan transaksi terbuka antara berbagai pihak yang terlibat. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kemaslahan umum, keadilan, dan kesejahteraan sosial.
Senada dengan Cak Nur, pakar Al-Quran M. Quraisy Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Quran dan Hadits-Hadits Shahih (2011) menjelaskan bahwa pengertian umat dalam rumusan Piagam Madinah itu tak hanya mencakup umat seagama, tapi juga tercakup di dalamnya mereka yang berbeda agama tapi memiliki kesamaan tujuan. Kesamaan hak dan kewajiban. Karena itu, penganiayaan harus dihindari, bahkan dienyahkan, dan kepastian hukum harus ditegakkan walau terhadap anak kandung sendiri.
Sosiolog agama yang menulis buku Beyond Belief  (2000), Robert N Bellah bahkan mengatakan bahwa contoh pertama nasionalisme modern ialah sistem masyarakat Madinah di masa Nabi dan empat khalifah yang menggantikannya. Komunitas ini disebut ‘modern’ karena adanya keterbukaan bagi partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan adanya kesediaan para pemimpin untuk menerima penilaian berdasarkan kemampuan (meritokrasi). Bukan berdasarkan pertimbangan kesukuan, keturunan, dan kekerabatan.
Kedua, proses peralihan kepemimpinan empat khalifah dan sistem politik berlandaskan nilai-nilai musyawarah-mufakat. Kendati ada pertumpahan darah, khususnya pada zaman Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, pemilihan khalifah dilakukan secara terbuka dan demokratis.
Setelah berjalan kurang lebih 40 tahun sistem Madinah digantikan dengan kekuasaan dinastik klan Umayyah. Sistem yang dibangun dinasti Umayyah berupa kerajaan yang absolut dan cenderung otoriter. Jika empat khalifah ‘yang diberi petunjuk’ (rasyidah) dipilih berdasarkan kualifikasi keunggulan, keutamaan, keilmuan, kesalehan, dan ketakwaan, sejak Muawiyah bin Abu Sofyan kekuasaan menjadi warisan turun-menurun.
Dengan terbunuhnya Ali dan munculnya dinasti Umayyah, seperti kata filsuf Muslim Ibnu Khaldun, berakhirlah sistem kekhalifahan Islam. Sesudah Ali sistemnya bukan lagi khilafah tapi dinasti atau kerajaan (mamlakah) yang dikuasai oleh keluarga klan yang berkuasa. Kekuasaan didasarkan atas ikatan darah. Tak terkecuali dinasti Turki Utsmani yang menjadi rujukan utama HTI.
Siapa Ashabiyah Sebenarnya?
Dalam Islam konsep persaudaraan tak hanya terkait agama (ukhuwah Islamiyah), tapi juga persaudaraan sebangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan antarumat manusia (ukhuwah basyariyah). Di Madinah nabi melakukan itu semua. Beliau melakukan transformasi besar-besaran dalam berbagai bidang untuk membangun tatanan sosial yang manusiawi, maslahat, dan beradab. Sebagaimana ia mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Yang artinya lingkungan sosial yang beradab.
Sebaliknya, HTI menitikberatkan hanya pada ukhuwah Islamiyah dan disertai pengagungan pada konsep khilafah model dinasti Turki Utsmani yang bercorak feodalistik dan kesukuan bahkan cenderung despotik.
Hal ini diakui sejarawan Muslim Azyumardi Azra. Menurutnya, sejak paruh kedua abad ke-19, para sultan Turki Utsmani lebih dikenal sebagai penguasa yang despotik. Alih-alih memperdulikan rakyat, mereka lebih asyik dengan diri sendiri. Menurut mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, seharusnya rujukan HTI bukan dinasti Turki Utsmani tapi pada konsep khilafah khulafaur rasyidin.
Dari penjelasan ini tampak HTI telah melakukan fanatisme buta terhadap dinasti Turki Utsmani. Alih-alih tuduhan HTI mengenai sasaran terkait nasionalisme yang mereka sebut sebagai ashabiyah, secara terang-benderang HTI malah membuktikan bahwa merekalah kaum fanatik dan feodalistik yang sebenarnya. 


NASEHAT 'SANG KYAI'
Dan berikut nasehat Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari terkait dengan Islam dan Nasionalisme. Beliau pernah mengatakan,

"Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari Agama, dan keduanya saling menguatkan" 

Dengan semangat nasionalisme juga, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama KH. Abdul Wahab Hasbullah pernah membentuk organisasiNahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916.

Nasionalisme KH Maimoen Zubair

Mbah Mun alias KH. Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang.
Saat lagu kebangsaan Indonesia Raya digemakan, beliau yang sedari mula dituntun menggunakan kursi roda, --dengan sisa tenaga yang ada-- memaksa diri berdiri tegak untuk bersama-sama para muktamirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Usia beliau yang hampir mendekati 90 tahun sama sekali tidak melunturkan kecintaannya kepada Indonesia.

Begitulah nasionalisme beliau.
Begitulah cinta dan perjuangan beliau demi kedamaian Indonesia.
Lantas, bagaimana dengan kita, wahai anak muda?

Cintai Tuhanmu!
Cintai agamamu!
Cintai Nabimu!
Cintai kitab sucimu!
Cintai kiblatmu!
Namun, jangan kaukurangi cintamu kepada tanah airmu!
#NKRI #Nasionalisme #Muktamar33NU #AkuBanggaMenjadiIndonesia

Saat melihat Mbah Mun dengan tertatih-tatih berusaha berdiri dari kursi rodanya untuk menyanyikan Indonesia Raya dalam pembukaan Muktamar ke-33 NU di Jombang Sabtu (1/8), Alissa Wahid (putri Gus Dur) buru-buru mengabadikannya, lalu mengunggahnya di akun twitternya, @AlissaWahid.

“Mau nangis melihat Kiai Maimoen Zubair yang berkursiroda memaksa berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya. #MuktamarNU


[MusliModerat]

Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: