Rabu, 31 Mei 2017

Afi Nihaya Faradisa: Saya Cuma Ajak Berpikir, Kenapa Saya Di-bully?

MusliModerat.net - Tulisan Afi Nihaya Faradisa (19) di akunnya pada jejaring sosial Facebook, berjudul ''Warisan'', menjadi viral.
Selain pujian, tulisan remaja asal Banyuwangi ini juga menuai hujatan dari sejumlah orang yang usianya jauh lebih tua dan titel pendidikannya luar biasa di Facebook.
Remaja Banyuwangi, Jawa Timur ini mengaku tidak menyangka tulisannya iu akan disambut minor oleh sebangian pihak.

"Saya hanya menulis Warisan di-endingnya jelas sekali tujuan dan substansi tulisan saya, 'kita tidak harus berpikiran sama. Tapi marilah kita sama-sama berpikir'," ujar Afi, sapaannya, dalam talk show “Rosi”, Warisan: Islam, Pancasila dan Indonesia, Selasa (30/5/2017) malam di stasiun Kompas TV.
"Saya cuma ngajak berpikir. Kenapa saya dibully gitu loh?" tanya Afi.
Afi tahu, mereka yang membully dirinya usianya jauh lebih matang darinya. "Bahkan ada yang master, yang Phd,"kata Afi.

Namun Afi mengaku tidak mau membalas makian atau terpancing emosi atas hujatan mereka.
"Terus apa dong bedanya saya dengan mereka (jika membalas-red)?" tanya Afi ketika menjawab pertanyaan pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosianna Silalahi, 'kenapa tidak membalas memaki?'.
Jawaban Afi ini langsung disambut decak kagum dan tepuk tangan para hadirin di studio Kompas TV.
"Kalau dia mengkritiknya pakai nalar dan dia bisa diajak sama-sama berpikir, ya sudah saya terima kritikannya dengan senang hati," jelasnya.

Tapi, lanjut Afi, kalau sudah sangat menyerang personal, misalnya menumpahkan sampah emosinya kepad saya sebagai pelampiasannya, yang bersangkutan akan ia blokir.
"Serangan paling kejam itu, kalimatnya kasar-kasar. Bahkan membawa nama-nama kebun binatang. Bahkan ada yang menyerang saya seorang misionaris Kristen."
Bukan itu saja. Afi pun pernah ditelapon oleh seseorang pada pukul 03.00 dini hari.
"Menggunakan nomor pribadi, seorang pria di ujung sana berkata bahwa, 'kami tidak hanya bisa membunuh akunmu. Tapi kami juga bisa membunuh pemiliknya'," kisah Afi mengenai adanya ancaman pembunuhan terhadapnya.
"Apakah Anda saat itu takut?" tanya Rosi.

Afi pun menjawab. "Membunuh orang itu tidak semudah itu. Tidak semudah itu," jawabnya.
"I am not afraid (saya tidak takut-red). Di belakang saya ada Banser, ada GP Ansor NU dari pusat Jakarta itu mengutus GP Ansor dari Banyuwangi untuk melindungi saya."
"Dan yang paling dekat, kita dilindungi oleh Tuhan, benar," tambahnya.
Berikut tulisan lengkap Afi yang ia tuangkan di akun Facebookpribadinya tersebut.

WARISAN
Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. 
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. 
Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.
Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya.
Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya.
Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan.
Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? 
Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.
Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan. 
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir
Pada bagian kolom komentar, Afi sempat menuliskan lagi pendapatnya soal tulisan yang ia buat tersebut
"Ini adalah tulisan untuk membenahi landasan berpikir kita, jangan apa-apa dihubungan ke Pilkada Jakarta.
Mengutip perkataan John Dewer, "Pikiran itu seperti parasut; hanya berfungsi ketika terbuka." tulis Afi. (tribunnews.com)
Advertisement

Advertisement