Rabu, 31 Mei 2017

Afi Nihaya Faradisa vs Ustad Karbitan yang Suka Ngajak "Perang"

MusliModerat.net - Afi adalah anak NU yang secara warisan terlahir sebagai Islam yang Nahdliyin. Dia tidak Kristen, Budha atau Hindu. Afi anak yang lahir dipelosok Banyuwangi dengan kemampuan membaca dan mempelajari ilmu agama yang diatas rata-rata remaja seusianya.
Hari-hari terakhir ini semua dikagetkan oleh pemikirannya yang sangat menyentak alam bawah sadar kita, kita dibangunkan dan dipertanyakan rasa kebangsaan kita.
Dari diskusinya di UGM Jogyakarta, secara seksama saya mengikuti paparan demi paparanya. Tidak ada rasa canggung atau nervous meski bicara dihadapan dosen dan guru besar.
Diruang diskusi Itu, anak ini layak disebut bintang yang begitu berkilau, bahkan saya menyebutnya seperti "malaikat" yang diutus untuk menyampaikan pesan kepada seluruh penduduk negeri yang baldhatun toyyibatun warobbun ghofur ini, agar jangan bertengkar, jangar saling bermusuhan.
Afi menjawab kegelisahan kita yang selalu mengkhawatirkan negeri ini diambang keretakan yang diakibatkan karena pemaksaan kehendak oleh sebagian masyarakat yang menunjukkan dirinya paling benar.
Di negeri yang terbentuk dari berbagai suku bangsa ini, terasa dibayangi rusuh yang diakibatkan SARA.
Ada yang sedang menggiring negeri ini hancur seperti Libya, Iraq, Syiriah atau Afganistan.
Bagi kita warga NU, anak-anak seperti Afi ini bukan hal yang aneh. Banyak jumlahnya. Bahkan sejak kecil saya mengamati diskusi kakak-kakak yang sekolah di Mualimmat Cukir, ketika sambil makan dikantin Ibu saya, cara berfikirnya tidaklah beda dengan Afi.
Namun Afi sangat diuntungkan, dia lahir dijaman medsos.
Dan karena medsos itulah yang membuatnya dikenal seperti hari ini.
Efek dari tulisan Warisan, membuat sebagian ummat Islam tersinggung karena Afi dianggap menyebarkan paham liberal. Mereka menyurati facebook.
Akhirnya memaksa facebook mensuspend akun Afi. Sontak penduduk sosmed angkat bicara melakukan pembelaan. Bully dan celaan masyarakat sumbuh pendek adalah pihak paling berjasa membuat Afi "tergloryfikasi."
Semakin hari, semakin banyak yang prihatin dan simpati kepadanya. Bahkan saking fenomenalnya, banyak kampus elit seperti UI, Gajah Mada, dll turut mengundang untuk menguji Afi bicara dihadapan para guru besar yang "mungkin" meragukan???. "Mosok iyo sih. Bocah baru lulus SMA literatur bacaannya sudah sebanyak dan tilisannya setajam ini?."
Saya sekedar mengambil inti sari dari apa yang disampaikan Afi, bahwa semua agama adalah benar menurut para pemeluknya.....titik.
Bahwa kita beragama adalah berkat warisan dari orang tua kita, kakek nenek kita.
Orang Kristen benar dan menyakini Injil, itu menurut orang Kristen itu sendiri.
Bagi saya, Islam adalah agama yang paling benar menurut apa yang saya percaya dan yakini.
Dan ketika semua diperdebatkan, maka pastilah akan muncul perpecahan.
Kemana kita mencari kebenaran?
Maka kembalilah kepada Yang Maha Benar, yaitu Tuhan semesta alam ini.
Maka percayalah, bahwa Tuhan kita adalah Tuhan Yang Maha Rahman, setidaknya seperti orang tua kita. Senakal-nakalnya kita, ketika marah palingan kita dicubit.
Ketika kita bingung dan frustasi atas panutan kita, maka kembalilah mengingat kebaikan yang dicontohkan oleh Muhammad saw, manusia agung yang pernah lahir dan diutus Allah swt kemuka bumi ini. Dialah contoh manusia yang paling baik, dialah pemangku risalah yang mewariskan kehidupan yang Rahmatan lil alamin.
Keimanan dan keislaman, kesatuan kita sebagai keluarga dan bangsa Indonesia saat ini sedang diuji. Di TV, online dan koran-koran, hari ini kita dihadapkan pada orang yang menyebut dirinya ulama, intelektual muslim. Tapi perbuatannya tidak mencerminkan keulamaannya, mereka dengan mudahnya menyebar fitnah dan memprovokasi kita untuk saling menghujat, mengajak kita memusuhi yang tidak sepemahaman. Bahkan mengajarkan penghinaan kepada ulama yang lain.
Saat ceramah taraweh 2 hari yang lalu. Ustad yang berjenggot dan jidatnya hitam, terang-terangan mengajak kita mempersiapkan perang yang katanya sebentar lagi datang, karena itu perintah nubuwah yang sudah disampaikan Kanjeng Nabi, katanya.
"Apa persiapan kalau kita perang yang sudah didepan mata itu terjadi. Setelah Syam, sebentar lagi Turki. Maka selanjutnya adalah disini. Apakah sudah hatam Qur'annya?," katanya dengan nada berapi-api.
Saya gelisah mendengar ceramah model begini, karena ada anakku yang ikut mendengarkan.
Dan betapa herannya, ketika Pak Ustad ini menanyakan kita sudah hatam berapa jus. "Lah ini mau perang, apa mempersiapkan haflah akhir sannah?."
Kan gak yambung, opo hubungane menghatamkan Qur'an dengan perang?.
Dan selalu menyampaikan jargonnya ada 70 bidadari yang sedang menunggu kita ketika kita maju perang.
Kenapa iming-imingnya bidadari?.
Apa istimewanya bidadari dibanding istri kita yang solehah, juga anak-anak kita soleh dan solehah?.
Kalau diijabah, saya ingin do'a saya dikabulkan agar kelak saya bisa kumpul kembali dengan keluarga besar di surga.
Karena bagi saya sorga dunia adalah hidup tentram dengan keluarga yang sakinah.
Saya tidak ingin perang, sebab perang akan menghilangkan nalar kita.
Perang akan membuat kita bengis, membuat kita kejam tanpa rasa kemanusiaan.
Bukankah perang sudah menghancurkan Syriah, dan penduduk yang tidak berdosa, semburat lari meninggalkan negrinya.
Apakah Pak Ustad ingin menjadi pengungsi yang terkarung-katung dilaut selatan?
Advertisement

Advertisement