Kamis, 06 April 2017

Buya Yahya Menyikapi Tokoh yang Banyak Mengislamkan tapi Aqidahnya Wahabi

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,
Mohon pandangannya Buya terhadap seorang tokoh yang banyak mengislamkan orang atau menghijrahkan artis-artis akan tetapi berpahaman Wahabi. Mohon nasehatnya Buya. Itu saja.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Buya Yahya Menjawab:
Semua orang yang menganut sebuah aliran dan pemahaman, mereka mempuyai keyakinan. Orang Nasrani punya keyakinan. Dalam Islam pun dengan bermacam-macam kelompoknya punya keyakinan. Maka dengan keyakinannya akan membawa pada keyakinan tersebut. Artinya patokan kita ini adalah kebenaran haq dan batil.
Kalau masalah orang itu berjuang tidak kita pungkiri perjuangannya. Akan tetapi, aqidahnya seperti apa? Tetap pandangan kita pada aqidah. Berarti kalau orang tersebut misalnya orang di luar Islam masuk kepada Islam yang salah, Islam yang misalnya mudah mengkafirkan, ini kan unik, orang Islam dikeluarkan dari Islam, yang katanya ingin membawa orang kepada Islam. Atau aqidah yang sesat keluar dari iman seperti mengatakan ada Nabi setelah Nabi (Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam) atau aqidah Mujassimah yang mengatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala mempuyai mata, tangan, dan sebagainya. Maka kalau ada kelompok yang semacam ini dan menyeru membawa orang kepada Islam, sehingga masuk Islam. Bagaimana sikap kita dengan yang demikian itu?
Sikap kita adalah kita memberikan rambu-rambu kepada siapapun dari ahli Islam sendiri tentang kelompok ini. Karena kelompok tersebut membahayakan, karena membawa orang kepada Islam dengan mengeluarkan orang dari Islam, mengkafirkan si Fulan dan Fulan. Ini lebih berbahaya lagi. Berapa banyak orang yang telah diislamkan oleh orang tersebut? 100 orang, 1000 orang? Tapi berapa juta orang yang telah dikafirkan oleh orang tersebut? Tidak punya jasa orang itu sebetulnya.
Kalau ternyata misalnya telah masuk Islam di tangannya 100 orang, tapi lihat berapa ribu ulama yang telah ia kafirkan gara-gara urusan sepele seperti tawassul? Kita jangan mudah tergiur dengan yang demikian itu.
Adapun orang yang dibawa adalah orang awam. Kita do’akan semoga nanti mereka menemukan jalan yang benar. Hanya dia yang bersangkutan dengan orang punya aqidah sesat menyesatkan, mudah mengkafirkan seseorang, mujassimah, atau mengatakan ada Nabi setelah Nabi (Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam) atau mengatakan bahwasanya Sayyidina Abu Bakar Radhiyallohu ‘Anhu telah kafir, ini adalah aqidah yang jauh dari kebenaran. Maka ketahuilah bahwasanya kelompok semacam ini membahayakan dan kita harus tegas dengan urusan aqidah.
Kalau orang yang dibawa kita doakan semoga ia nanti menemukan jalan yang benar. Paling tidak kalau sudah mengenal Islam maka ia sudah mulai mendekati biarpun masuknya melalui jalan Islam yang salah. Tapi di sisi lain kita harus waspada terhadap orang yang tersebut. Alih-laih telah menaklukan, menundukan kaum muslimin, telah memasukan banyak orang ke dalam Islam, tapi berapa banyak orang yang telah ia keluarkan dari Islam. Kadang kita tidak sadar dengan yang demikian itu. Maka harus waspada.
Kembali kepada urusan aqidah maka kita harus nomor satu. Oleh karena itu, kalau ingin menyekolahkan anak maka pilihlah sekolah yang benar, hati-hati jangan sampai terjerumus ke dalam aqidah yang sesat. Karena Islam adalah indah, tidak mencaci maki, tidak merendahkan, tidak memfitnah, tidak mengolok-olok, dan tidak mudah mengkafirkan. Kafir memang ada, orang di luar Islam adalah kafir. Tapi kita dengan orang yang berbeda pendapatpun tidak akan sampai derajat mengkafirkan kecuali mereka mengkafirkan kita maka ia yang kafir karena telah mengkafirkan kita.
Pada suatu ketika kami ditanya tentang sekelompok orang seperti orang Syiah, apakah anda mengkafirkan orang Syiah? Pada dasarnya ahlussunnah wal jamaah dilarang mengkafirkan siapapun akan tetapi jika ada orang yang mengkafirkan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘Anhu maka dia kafir, selesai. Jadi, ia kafir karena omongannya. Termasuk orang yang menyeru kepada Islam tersebut, apakah anda mengkafirkan? Kami tidak pernah mengkafirkan mereka. Akan tetapi, di saat mereka mensyirikan dan mengakfirkan umat muslim maka dia kafir.
Kita harus tegas dalam hal ini. Bukan berarti kami yang memulai mengkafirkan. Lah mereka bilang tawasul syirik, tawasul syirik. Padahal tawasul membawa orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka katakan syirik. Berarti dia kafir karena omongannya sendiri, bukan kami yang mengkafirkan.
Kadang-kadang difitnah Buya mengkafirkan. Tentu saja tidak, kami tidak mengkafirkan, tapi dia sendiri yang memulai, kami tidak pernah menyebutkan kelompok. Tetapi di saat ia mengelompokan seperti Sufi, tawassul syirik, bahkan sampai ada orang yang menyebut Abuya Sayyid Alwi Almaliki rahimahullah dikatakan imamnya ahli syirik, Syaikh Said Ramadhan Albuthi rahimahullah dikatakan imamnya ahli syirik. Mereka tidak syirik tapi anda yang syirik. Nah itu lho, kami tidak akan mengkafirkan kecuali di saat mereka mengkafirkan. Sebab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari mengatakan jangan mudah mengkafirkan orang lain. Sekali lagi kami tidak mengkafirkan tapi ia sendiri yang mengambil keputusan untuk dikafirkan, bukan kami yang mengkafirkan. Wallohu A’lam bish-Showab.

Video aslinya:

(Disarikan dari Video Al Bahjah TV: Buya Yahya Menjawab – Menyikapi Tokoh Yang Mengislamkan Tapi Aqidahnya Sesat. Courtesy video by Al Bahjah TV, pada 11 April 2016)
Advertisement

Advertisement