Orang Hebat bukanlah yang Suka Membanggakan Nasab Mulia

MusliModerat.net - Kami sebutkan di sini sebagian yang dikatakan oleh Al-Imam Abdullah Al- Haddad di dalam mengingatkan orang agar tidak tertipu dengan membanggakan nasab, dalam bait-baitnya yang masyhur:
Kemudian, janganlah engkau tertipu membanggakan nasab
Jangan begitu, dan jangan pula merasa puas dengan mengatakan: ayahku begini dan begini
Dalam masalah petunjuk, ikutilah sebaik-baik nabi
Ahmad, yang memberikan petunjuk kepada sunah-sunnahnya
Dalam kitab Al-Fushul Al-Ilmiyah halaman 87, beliau menyebutkan, “Barangsiapa yang mengatakan (berpendapat) atau menyangka bahwa meninggalkan  ketaatan-ketaatan  dan  memperbuat  maksiat-maksiat  tidak merugikan seseorang karena nasabnya yang mulia atau karena kebaikan orang tua- orang tuanya (leluhurnya), berarti ia telah membuat kedustaan terhadap Allah dan menyalahi ijmak kaum muslimin. Namun, Ahlulbait Rasulullah memang memiliki kemuliaan dan Rasulullah saw memberikan perhatian yang lebih terhadap mereka. Beliau banyak berpesan kepada umatnya tentang mereka (tentang Ahlulbaitnya) dan mendorong mereka (umatnya) agar mencintai dan menyayangi Ahlulbaitnya. Itu pula yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya dengan firman-Nya:
Yang artinya: “Katakanlah, „Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga(ku)‟ (QS. Asy-Syura: 23)
Karena itu, hendaknya sekalian muslimin agar meyakini (berpegang) dengan kecintaan terhadap mereka dan kasih sayang  terhadap  mereka, dan hendaknya menghormati dan mengagungkan mereka dengan tidak berlebihan dan keterlaluan.
Kemudian, barangsiapa di antara para sayyid itu yang mengikuti perjalanan para pendahulu mereka yang shalih dan meneladani thariqah-thariqah mereka yang diridhai, berarti ia seorang imam yang cahaya-cahayanya patut untuk diambil petunjuk dan perilaku-perilakunya patut untuk diikuti sebagaimana para datuk mereka yang mendaaptkan petunjuk. Sesungguhnya di antara mereka terdapat para imam yang harus didahulukan seperti Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan dan Al-Husain, dua cucu Rasulullah, juga seperti Ja`far Ath- Thayyar dan Hamzah Sayyidusy-Syuhada, juga seperti Abdullah bin ABbas dan ayahnya AL-Abbas, paman Rasulullah saw. Juga seperti Al-Imam Zainal Abidin Ali bin bin Al-Husain, Imam Muhammad Al-Baqir dan putranya Imam Ja`far Ash- Shadiq dan orang-orang seperti mereka dari para pendahulu Ahlulbait.
Adapun orang-orang di antara Ahlulbait yang tidak mengikuti thariqah- thariqah para pendahulu mereka yang suci dan telah dimasuki oleh suatu percampuran (dalam pemikiran maupun perbuatan) karena kebodohan yang menguasai mereka, maka mereka tetap harus dihormati karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah, dan hendaknya orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan nasihat, hendaknya menasihati mereka dan mendorong mereka untuk mengambil apa yang telah diambil oleh para pendahulu mereka yang shalih, baik dalam ilmu, amal shalih, maupun akhlak yang baik dan disukai. Juga memberitahukan kepada mereka bahwa mereka lebih layak untuk itu dan lebih berhak (lebih wajib) untuk melakukannya dibandingkan semua orang yang lain, dan  bahwa  nasab  ini  tak  akan  bermanfaat  dan  tak  akan  meninggikan  derajat mereka jika menyia-nyiakan ketakwaan, lebih mempedulikan dunia, meninggalkan ketaatan, dan mengotori diri dengan kotoran penyimpangan-penyimpangan. Sejumlah penyair telah memahami hal itu, apalagi para imam dan ulama, sehingga sebagian penyair itu mengatakan:
Sungguh, tidaklah seseorang itu melainkan tergantung agamanya
Maka  janganlah  engkau  meninggalkan  ketakwaan  karena  mengandalkan nasab
Sungguh Islam telah meninggikan derajat Salman Al-Farisi
Dan merendahkan Abu Lahab, seorang kafir yang memiliki keturunan mulia.
Kemudian Al-Habib Abdullah Al-Haddad mengatakan: Pembicaraan tentang anak- anak orang shalih sama dengan pembicaraan tentang Ahlulbait, dalam arti orang yang keadaannya seperti keadaan pendahulunya, maka ia juga orang shalih seperti mereka yang patut untuk diagungkan dan diambil berkahnya. Sedangkan orang yang keadaannya jahil dan lalai, maka hendaknya ia dinasihati dan diberi petunjuk kepada kebenaran, dan tetap dihormati sekadarnya karena memandang para pendahulunya  yang  shalih.  Bagaimana  tidak,  sedangkan  Allah  Taala  telah berfirman mengenai mengenai dua orang anak dan tentang dinding rumah, dalam
ayat yang artinya,  “Dan di bawah dinding ada harta simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82)
Dan  telah  sampai  keterangan  kepada  kami  bahwa  yang  dimaksud  orang tuanya itu adalah ayah yang ketujuh dari jalur ibu. Maka ia dapat memelihara anaknya itu dalam urusan dunia, apalagi dalam urusan akhirat. Ketahuilah dan pahamilah hal itu, dan letakkanlah sesuatu pada tempatnya dan berikanlah kepada setiap yang memiliki hak akan haknya. Dan mohonlah pertolongan kepada Allah, niscaya engkau bahagia dan mendapatkan petunjuk. Dan segala sesuatu itu milik Allah. Demikian keterangan dari kitab Al-Fushul Al-`Ilmiyyah.
Habib Ahmad bin Umar bin Zain Bin Semith mengatakan dalam syairnya:
Barang siapa yang memiliki tabiat ayahnya
Tidak cukup baginya berkata: Ayahku begini dan begini Bukanlah pemuda sesungguhnya yang merasa cukup Dan tertipu dengan membanggakan nasab
Ia meninggalkan sebab-sebab untuk mendapatkan keselamatan
Dan menggantikannya dengan kerusakan
Karena mengharapkan harta dan kedudukan
Bahkan itulah dia orang yang terperdaya lagi bodoh Sesungguhnya pemuda yang sebenarnya adalah yang meneladani Al-Musthafa, sebaik-baik nabi
Habib Hamid bin Umar Hamid Ba Alawi setelah menyebutkan sebagian kekhusussan dan keutamaan Ahlulbait, beliau mengatakan, “Dalam hal meyakini mereka, berharap kepada mereka, dan husnuzh-zhan terhadap mereka, janganlah mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh selain mereka (artinya, jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang tidak mencintai mereka). Adapun yang dituntut dari mereka (Ahlulbait) adalah meyakini apa yang terkandung dalam dua ayat Al- Qur’an mengenai istri-istri Nabi sebagai rasa takut dan juga sebagai harapan, yang artinya:
Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia. (QS. Al-Ahzab: 30-31)
Demikianlah sebagian ucapan para tokoh terkemuka Ahlulbait dalam mengingatkan  agar  tidak  tertipu  dengan  membanggakan  nasab.  Pembicaraan tentang masalah ini adalah pembicaraan yang panjang sebagaimana disebutkan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Attas dalam kitab Zhuhur Al-Haqaiq fi Bayan Ath-Tharaiq halaman 205. Demikian pula disebutkan oleh Habib Zain bin Ibrahim Bin Semith dalam kitabnya, Al-Manhaj As-Sawi halaman 590. Barangsiapa yang ingin mendapatkan uraian yang luas, silakan membaca rujukan-rujukan yang telah kami sebutkan.

Allah Swt. berfirman:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ * وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ * وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ * وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ


“Wahai Bani Israil, ingatlah terhadap nikmat-Ku yang telah Kukaruniakan kepada kalian dan penuhi janji (kalian) pada-Ku niscaya Aku penuhi janji (Ku) pada kalian. Dan kepada-Ku maka takutlah kalian. Dan berimanlah kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur'an) sebagai pembenaran bagi apa yang ada pada kalian (Taurat), dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama mengingkarinya (Al-Qur'an), dan janganlah kalian menjual ayat-ayatKu dengan harga yang murah. Dan hanya kepada-Ku maka takutlah kalian. Dan janganlah kalian mencampur yang haq dengan yang bathil dan janganlah kalian menyem-bunyikan yang haq sementara kalian mengetahui. Dan dirikanlah sholat dan keluarkanlah zakat dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.” (QS. Al-Baqarah: 40-43)

Dalam ayat ke-40 surat Al-Baqarah ini, Allah Swt. memanggil orang Yahudi dengan “Bani Israil”, sedangkan ketika ayat ini turun, di Madinah dan sekitarnya, mereka lebih dikenal dengan sebutan “Yahudi”. Bahkan dalam Al-Qur'an, Allah tidak pernah memanggil mereka dengan kalimat “wahai orang-orang Yahudi”. Hal ini karena Allah bermaksud menyentuh hati mereka dengan mengingatkan mereka kepada leluhur mereka, yaitu Nabi Israil atau Nabi Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim. Siapapun akan gembira bila disebut nama leluhurnya yang hebat, walaupun ia sendiri tidak tahu sebagai cucu yang keberapa dari leluhur yang disebut itu, bahkan sangat wajar bila kemudian ia merasa bangga ketika ingat bahwa dirinya adalah keturunan orang besar.

Nasab Mulia adalah Tanggung Jawab
 
Ketika Allah SWT memanggil orang Yahudi dengan “Bani Israil”, maka sebenarnya itu sekaligus sebagai pengingat bahwa mereka punya tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga, seolah-olah Allah Swt. berkata, “wahai keturunan Nabi-Nabi yang hebat, wahai keluarga terhormat”. Ditambah lagi Allah menyebut nikmat lain yang diantaranya adalah bahwa diantara keluarga mereka ini pernah lahir orang-orang hebat sebagai Nabi-Nabi dan Raja-raja besar.

Tabiat manusia adalah mencintai asal usulnya, baik asal usul keturunan atau bangsa. Berdasarkan itulah Al-Qur'an memilih kalimat “wahai Bani Israil” di dalam berkomunikasi dengan orang Yahudi. Maka Al-Qur'an telah mengajarkan kita sebuah teori, yaitu memotifasi keturunan terhormat dengan memanfaat-kan asal usul keturunan atau bangsanya.

Bangga Berarti Harus Meniru

Bangga dengan leluhur atau asal usul adalah hal yang wajar, tapi bagi orang berpendidikan, bangga dengan leluhur bermakna merasa harus meniru keluhuran mereka. Bahkan tanda-tanda bahwa nasab itu membekas adalah kemauan untuk berprestasi seperti leluhur. Anak orang hebat yang tidak berprestasi seperti telur ayam yang tidak bisa menetas, sampai kapanpun harga telur ayam jauh dibawah harga ayam! Tapi telur juga masih berharga asalkan tidak busuk. Dari itu, target minimal motifasi dengan kebesaran leluhur adalah agar tidak seperti telur busuk. Itulah isyarat dari lanjutan ayat 41 Al-Baqarah, yaitu ayat ke 42 yang berbunyi: “.. dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama mengingkarinya (Al-Qur'an)”. 

Artinya, kalau kalian tidak bisa sehebat leluhur kalian dengan menjadi pejuang kebenaran, setidaknya kalian jangan menjadi pecundang dengan mengingkari kebenaran itu. Kalau kalian yang sudah dikenal sebagai keturunan mulia tidak bisa menjadi orang yang simpatik dengan prestasi dan akhlaq menawan, setidaknya jangan menjadi orang yang menyebalkan dengan gaya sok mulia dan arogan. Kalau tidak bisa menetas jadi ayam, setidaknya jangan jadi telur busuk!

Orang Hebat Membangun Nasab

Seorang lelaki harus membangun nasabnya sendiri, yakni harus mengangkat leluhurnya dengan membuat mereka bangga, bukan justru mau terangkat dengan kehebatan leluhurnya.
Dulu pernah ada seorang Gus (anak Kiyai Jawa) yang suka pamer nasab, dia suka memamerkan nasabnya yang bersambung kepada seorang Sunan Walisongo, hingga suatu ketika ia bermimpi bertemu Sunan itu. Iapun berkata kepada Kanjeng Sunan: “Wahai kakek, betapa bangganya saya menjadi cucu kakek.” Maka Sunan itu berkata: “Sebaliknya aku, wahai cucuku, betapa malunya aku punya cucu kamu, kamu amat tak berguna dan maunya dihormati orang hanya karena nasabmu.” Sejak saat itu, Gus itu merasa malu dan menjadi pendiam, ia berubah menjadi sangat yang tawadu'.

Tanpa perjuangan dan ketawadhu'an, nasab justru akan menjadi bumerang, seperti orang-orang sombong dari Bani Israil yang justru menjadi orang paling hina karena tertipu dengan nasab. Bahkan dengan nasab yang mulia seorang pendosa akan menjadi orang yang paling tersiksa kelak di mahsyar, tersiksa dengan rasa malu, karena rasa malu itu lebih menyiksa daripada panasnya cuaca mahsyar. Hal ini perlu dipahami, khususnya oleh orang yang merasa keturunan Rasulullah, karena beredar omongan kalau keturunan Rasulullah aman dari siksa neraka. Entah siapa yang pertama kali menghembuskan angin surga tipuan ini. Kalau keturunan Rasulullah percaya dengan angin surga ini berarti ia tidak mengerti bahwa rasa malu itu lebih menyiksa dari api neraka. Keturunan orang Ulama akan lebih malu daripada keturunan orang biasa ketika mereka sama tidak sholat atau suka mabuk. Maka, justru keturunan Rasulullah atau keturunan Walisongo yang durhaka akan menerima siksa lebih pedih daripada pendurhaka keturunan orang biasa.

Yang Hebat Yang Tidak Membawa Nasab

Akhir ayat 43 Al-Baqarah adalah pendidikan dasar untuk keturunan orang mulia, yaitu ayat: “.. dan ruku'lah (Wahai Bani Israil) bersama orang-orang yang ruku'”. 

Ayat ini mengajarkan para bangsawan (orang yang bernasab mulia) untuk merendah dan merasa sama dengan yang lain, yang dimaksud ruku' adalah hati selalu menghadap Allah SWT sehingga selalu merasa sebagai hamba seperti hamba-hamba yang lain. Barangsiapa yang hatinya selalu menghadap Allah Swt. maka ia tidak akan pernah mengingat status sosialnnya sebagai orang terhormat, bahkan akan merasa sebagai orang yang paling hina karena merasa paling kurang berbakti kepada Allah. Ini pendidikan dasar yang kelanjutannya adalah berjuang untuk berprestasi tanpa mengandalkan nasab. 

Untuk mengukur keberhasilan orang yang bernasab mulia adalah mengandaikan dirinya tidak dikenal nasabnya oleh orang-orang disekitarnya. Misalnya Anda adalah seorang keturunan orang mulia dan orang-orang di sekitar Anda mengenal nasab Anda, Anda dihormati orang dan mereka selalu menge-depankan Anda; menjadikan Anda sebagai Imam sholat atau memimpin doa, menempatkan Anda duduk di depan dalam setiap majlis. Cobalah Anda berandai, seandainya Anda hidup di lingkungan yang tidak mengenal nasab Anda, bisakan Anda mempertahankan posisi itu? Bisakah Anda menjadi orang yang selalu dikedepankan? Bisakah Anda bersaing dengan orang-orang berprestasi di luar sana? Yang anak Kiyai, seandainya Anda keluar dari kampung Anda dan tinggal di kampung yang tidak seorangpun mengenal Anda, bisakah Anda menjadi Kiyai atau setidaknya terhormat karena berprestasi di kampung baru itu seperti Anda terhormat di kampung Anda? Yang keturunan Habaib, seandainya Anda tinggal di kampung yang tidak mengenal Anda dan Anda tidak mengaku Habib, bisakah Anda menjadi orang terhormat seperti di kampung yang mengenal Anda? Kalau tidak, maka Anda hanya seorang bernasab mulia yang tidak dibanggakan oleh leluhur Anda jika cuma ndompleng kemuliaan nasab leluhur Anda! Semoga kita semua dijauhkan dari predikat seorang pecundang, amin. Wallahu a'lam bish shawwab.

Sumber:
1. Al Fusul Ilmiyah, hlm.87 Karya Hb. Abdullah  bin Alwi Al Haddad.
2. Kalam Hb. Ahmad  bin Omar bin Smith .
3. Kalam Hb. Hamid bin Omar Hamid.
4. Duhur Al Hagaig Fi Bayan Taroig, Hlm. 205, Karya Hb. Abdillah bin Alwi Alatas.
5. Manhaj Sawi, Hlm. 205 Karya Hb. Zein bin Smith.


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: