Senin, 03 April 2017

Hanya Banser yang Sigap Melawan Perongrong NKRI, yang Lain Ngapain?

MusliModerat.net -  Gerakan Pemuda Ansor bersama Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) menghadang aksi konvoi Khilafah Hizbut Tahrir Indonesia di berbagai tempat di wilayah Jawa Timur. Mereka menurunkan paksa bendera khalifah yang dibawa anggota HTI yang sedang melakukan aksi Kirab.
Di Tulungagung dan Trenggalek, mereka menghentikan iring-iringan anggota HTI yang sedang melakukan taaruf atau pawai menuju Surabaya. Mereka kemudian memaksa seluruh peserta kirab mencopot semua atribut HTI maupun panji yang mereka kirab di perbatasan kedua wilayah tepatnya di Desa Notorejo, Kabupaten Tulungagung.
“Kami hentikan dan rampas bendera yang mengarah pada spirit khilafah,” kata Yoyok Mubarok, Ketua Satuan Koordinator Cabang Banser Tulungagung yang memimpin aksi, Sabtu 1 April 2017.
Menurut Yoyok, sedikitnya 100 anggota HTI yang mengendarai motor dan satu mobil bak terbuka yang melaju beriringan dari Trenggalek menuju Tulungagung. Rencananya mereka akan mengikuti Kirab HTI bertema “Khilafah Kewajiban Syariat” di Surabaya besok Minggu, 2 April 2017.
Terjadi ketegangan sedikit di antara keduanya namun aparat kepolisian dan TNI menengahi kedua pihak. Massa HTI akhirnya bersedia mencopot segala atribut yang dikenakan serta membubarkan diri.
Dia mengaku, aksi penghadangan tersebut juga sudah dikoordinasikan dengan Kepolisian dan TNI setempat agar tak terjadi kerusuhan. Bahkan dalam penghadangan tersebut anggota polisi dan TNI turut mengamankan mereka.
Ketua Satkorcab Banser Trenggalek Fatkhur Rohman telah meminta Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan aparat untuk menghentikan seluruh kegiatan HTI di Trenggalek yang bersifat makar. Surat itu bahkan sudah disampaikan sebelum diadakannya konvoi hari ini agar tak terjadi keributan. Namun faktanya aktivis HTI tetap ngotot melakukan konvoi.
Pada hari yang sama, di Sidoarjo,  ratusan massa dari Aliansi Santri Peduli Pancasila (ASPP) melarang rombongan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dari Pasuruan yang melintas di Arteri Porong.
Penghentian terjadi saat massa HTI yang berjumlah 100 orang dengan mengendarai 50 unit motor dan 6 unit mobil yang membawa sound serta atribut khilafah itu melintas di Masjid Bintang Porong. tidak diperbolehkan meneruskan penjalanan ke Surabaya.
Nyaris terjadi bentrok lantaran massa HTI mereaksi. Beruntung tidak ada fisik lantaran ada pengawalan dari Polres Sidoarjo beraama jajaran Polsek Rayon Selatan. Massa HTI mengurungkan konvoinya dan kembali ke pasuruan.
“NKRI harga mati, sudah final fan tidak boleh diutak-atik lagi. Mereka membawa getakan akan berdirinya negara islam dan harus dilawan,” kata Muhammad Kholid salah satu santri.
Di Surabaya sendiri, rencana konvoi yang dilakukan HTI pada tabling akbar di Frontage Road Ahmad Yani Minggu 2 April 2017, mendapat reaksi keras dari Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kota Surabaya seluruh Badan otonom PCNU Kota Surabaya.
GP Ansor akan memblokade arak-arakan massa HTI dari Masjid Al-Akbar menuju frontage road Jalan Ahmad Yani. Rencananya GP Ansor akan mengerahkan 1500 personel Banser dan Pagar Nusa. Besarnya jumlah personel yang akan dikerahkan, lantaran massa HTI diperkirakan berjumlah 5000 orang.
“Kegiatan HTI bertema “Khilafah Kewajiban Syar’i, Jalan Kebangkitan Ummat” ini bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945. Aksi ini juga bisa merong-rong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karenanya kami keluarga besar NU menolak aksi ini,”tegas Sekretari GP Ansor PCNU Kota Surabaya, M Faridz Afif, Sabtu 1 April 2017.
Selain penghentian, pihaknya meminta kepada aparat kepolisian untuk mengambil langkah tegas, membubarkan acara tersebut. “Tetapi kalau aparat kepolisian tidak mengambil langkah apapun. Kami akan bertindak, kami akan hadang mereka,”tegas Afif.
Untuk diketahui HTI menggelar tabling Akbar dalam modus memperingati Isro’ Mi’roj Nabi Mihammad SAW. Peringatan itu dilakukan dengan cara konvoi dari Masjid Al Akbar Surabaya menuju frontage road Jalan Ahmad Yani. Aksi dilakukan mulai Pukul 06.00 WIB-09.00 WIB.
Ketua HTI Kabupaten Trenggalek dr Fahrul Ulum memaparkan, kegiatan yang mereka gelar sebenarnya hanyalah edukasi ketauhidan dengan mengingatkan sejarah keislaman di zaman Nabi Muhammad SAW.
Ketika disinggung ingin mengubah negara menjadi khilafah, Fahrul mengatakan, HTI sifatnya memberikan tawaran. Logikanya sama seperti tawaran menggunakan listrik, berhemat dalam pemaikaiannya dan sebagainya. Artinya dalam dinamikanya tawaran itu bisa saja diterima atau ditolak, sehingga kami (HTI) mengedepankan dialog,” katanya.
Soal tudingan misi khilafah yang diusung HTI berpotensi memicu perpecahan umat, tawaran konsep khilafah yang diajukan ormas HTI kepada rakyat Indonesia dalam bentuk wacana, bukan sebuah konsep paksaan yang harus dijalankan.
GP Ansor dan seluruh Banom NU Kota Surabaya mengeluarkan empat pernyataan sikap terkait rencana tabligh akbar HTI. Mereka menyatakan sikap sebagai berikut:
  1. Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Kota Surabaya dengan tegas MENOLAK seluruh kegiatan HTI tersebut karena HTI adalah organisasi yang mengusung paham KHILAFAH yang akan mengubah ideologi negara PANCASILA yang berakibat pada perpecahan keutuhan bangsa dan NKRI
  2. HTI tdk boleh lagi berada di bumi NKRI, tdk hanya secara organisasinya, akan tetapi ajaran,  pola fikir dan pola bertkndak sbg ummat islam maupun sebagai warga negara.
  3. Kita minta pengikut HTI untuk kembali kembali ajaran islam ahlussunah waljamaah dalam bingkai NKRI
  4. Meminta dan mendesak kepada aparat yang berwenang untuk menjalankan tugasnya menjaga keamanan nasional dengan tidak membiarkan organisasi atau perseorangan menyebarkan ideologi yg mengarah pada gerakan anti NKRI.
Advertisement

Advertisement