Gus Najih Maimun Zubair : Buku HTI Janggal, Menyimpang dan Mengadopsi Ideologi Muktazilah

MusliModerat.net ~ Kitab (buku) "Asy-Syakhsyiyah al-Islamiyyah" yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul "Kepribadian Islam" merupakan salah satu buku mutabanat Hizbut Tahrir (HT). Bagi mereka, kitab/buku tersebut mu'tabar.

Namun, buku tersebut mengandung banyak kejanggalan dan penyimpangan. Didalamnya juga mengadopsi ideologi aliran Muktazilah. Sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Muhammad Najih Maimoen, akrab disapa Gus Najih.

"Setelah kami membaca kitab ''al-Syakhsyiyyah al-Islamiyyah'', kami menemukan banyak kejanggalan dan penyimpangan, diantaranya; Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengurangi iman terhadap Qadla'-Qadar, dengan mengatakan ''bahwa Af'al Ikhtiyariyah tidak masuk dalam ruang lingkup Qadla''' ini berarti mengadopsi ideologi Mu'tazilah yang tidak kami terima", ujar putra kedua  Syaikh Maimoen Zubair, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah tersebut.

Muktazilah merupakan salah satu aliran menyimpang didalam Islam yang pernah menghebohkan dunia Islam diabad-abad permulaan Islam. Paham mereka tersebar dan berkuasa pada masa-masa Khalifah Ma'mun bin Harun Ar-Rasyid, Khalifah Al Mu'tashim bin Harun Ar-Rasyid dan Khalifah Al Watsiq bin Al Mu’tashim sekitar abad-abad ke-3, ke-4 dan ke-5 Hijriyah. Meskipun paham mereka pernah dibabat habis oleh kelompok Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah dan Maturidiyah. Namun, paham Muktazilah masih menyusup ke dalam masyarakat umat Islam di barat maupun di timur, bahkan sampai ke Indonesia.

Gus Najih mengatakan bahwa kaum pesantren mengkaji kitab-kitab salaf tidak lain dalam rangka menolak ideologi Muktazilah dan kaum pesantren juga anti terhadap Wahhabi karena mereka pembunuh ulama dan umat Islam di Hijaz.

"Karena apa yang kami, kaum pesantren lakukan, mengaji kitab-kitab salaf tidak lain dalam rangka menolak ideologi Mu'tazilah tersebut. Disamping itu kami juga Anti-Wahabby karena mereka menghalalkan darah para ulama dan umat islam di Hijaz dengan alasan haramnya Tawassul", kata adik kandung KH. Abdullah Ubab MZ tersebut.

Meskipun Gus Najih mengaku pro-Khilafah, namun menurutnya Khilafah harus berdiri atas ideologi yang benar, bukan atas dasar ideologi Muktazilah. Hal itulah yang membuat dirinya dan kalangan pesantren tidak bisa bersatu dengan Hizbut Tahrir (HT).

"Kami selamanya pro-Khilafah, namun Khilafah haruslah berdiri di atas ideologi yang benar. Inilah yang tidak dimiliki oleh HT yang membuat kami tidak bisa bertemu dan bersatu.", tegas penulis buku 'Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal Dalam Tubuh NU' yang diterbitkan Toko Kitab Al-Anwar, Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang tersebut. (*)
Penulis : Ibnu Manshur via MusliMedianews.com
Sumber : FP Ust M. Idrus Ramli (Pernyataan Gus Najih)/Foto: hizbut-tahrir.orid (Gus Najih bersama rombongan HTI, saat HTI lakukan safari Syawal kunjungan ke pesantren pada September 2011).


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: