Ceramah Jum'at Maulana Habib Luthfi bin Yahya

Baca Juga

OLEH: HABIB LUTHFI BIN YAHYA - PEKALONGAN
Semoga majlis ini tergolong majlis syukur, majlis matur nuwun. Allah menghormati kita dengan memanggil "Ya ayyuhalladziina aamanuu, wahai orang-orang yang beriman," itu karena sebab Nabi Muhammad. Sing gawe urip ngormati karo gaweane, itu hal yang luar biasa. Sebab dilahirkannya Nabi Muhammad, kita mengetahui mana yang haq dan batil, mana yang halal dan haram, mana makruh mana mubah dan mubadzir, juga mengetahui akhlak yang bagus. Mustahil kita mengerti itu semua tanpa mengikuti nabi, intinya maulid nabi ini bukan sedang berlebih-lebihan.
Banyak sekali keterangan di Al-Quran yang menerangkan kelebihan-kelebihan nabi, salah satu contohnya: qul in kuntum tuhibbunallaha faitabi'uni yuhbibkumullah; katakanlah, kalau engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku. Siapa 'aku' di sini? Dijawab; yaasiin wal quraanil hakiim innaka laminal mursaliina 'alaa shirotim mustaqiim. Dijawab: Ar-rohmaan, 'allamal Quran, kholaqol insaan, 'allamahul bayan. Maksud dari 'fattabi'uni' lagi: laqod jaa-akum Rosulun min anfusikum 'azizun alaihi ma 'anittum harisun 'alaikum bil mu'minina roufurr rohim. Atau ayat: qul innama ana basyarun mitslukum, jangan berhenti sampai sini, teruskan; yuukhaa ilayya.
Untuk perbandingan,wahyu itu tiada pembandingnya. Seperti halnya wahyu, basyarun pun tidak sama seperti manusia pada umumya. Nabi tidak tinggi, tidak pendek, tetapi luar biasa, ketika bersama orang Hijaz yang tingginya 190-210 cm beliau lebih tinggi 'sekilan'. Ketika bersama orang Yaman yang tingginya 160-180 lebih tinggi 'sekilan'. Hidung nabi mancung lurus seperti alif). Nabi tidak mempunyai sifat lupa. Nabi bisa menikmati hakikatnya lapar, dan lebih jauh lagi memikirkan bagaimana kalau umatnya lapar. Nabi itu mukhtarun wa ma'sumun wa mahfudzun wa nabiyun wa rosulun, bukan ukuran kita untuk membandingkan dengan beliau.
Ibnu 'Abbas menafsirkan ayat 'min anfusikum' dengan 'min anfasikum', manusia tidak sembarang manusia, bukan manusia biasa tapi manusia luar biasa. Lafad 'azizun pada ayat 'laqod jaakum..' ialah orang yang sempurna dalam maqomat ubudiyahnya, sempurna pula kemanusiaanya.
Allah memberikan julukan 'azizun, rouf, rohim kepada Nabi Muhammad, apakah itu berlebihan? Tidak. Siapa yang didapuk oleh Allah pada ayat 'fattabiuni' (ikutilah aku)? Ialah orang yang mempunyai pangkat tinggi seperti pada ayat 'subhanalladzi asro bi 'abdihi lailan'. Lafadz 'abdihi' di sini bukan sekedar hamba, tapi hamba yang mengerti dirinya hamba dan mengenal siapa Rabb-nya.
Saya tidak sependapat dengan keterangan bahwa Nabi dihilangkan kotorannya ketika mau Isro Mi'roj. Kalau Nabi punya kotoran, berapa kotoran kita? Namun ketika Nabi dibedah dadanya itu karena ditambah keluasan hatinya yang luar biasa, sebab akan menerima 'ilmullah, sirrullah fi kitabihil adzim, dipersiapkan Allah untuk menerima rahmat-Nya dan barokah-Nya. Allah tidak bertempat, tapi jaiz bagi Allah menempatkan Nabi dimanapun. Namun ketika nabi melihat-Nya, Allah tetap mukholafatul lil hawadisi. Nabi menghadap Allah Ta'ala dengan adab dan akhlak. Nabi berkata: attahiyyatul mubarokatuss solawatut thoyyibatu lillah (Ya Allah, segala penghormatan, keberkahan, sholawat dan kebaikan hanya milik-Mu ya Allah). Dijawab oleh Allah; assalamu 'alayka ayyuhannabiyyu warohmatullahi wabarokatuh (Wahai Nabi, salam sejahtera, semoga tercurah kepadamu, Rahmat dan Berkah Allah tercurah kepadamu).
Di sini nabi diberi oleh Allah rahmat dan berkah-Nya, lantas sujud kepada Allah dan memikirkan umatnya, sehingga beliau ingin membagi rahmat dan berkah kepada umatnya. Nabi menjawab; assalamu 'alayna (kesejaheraan atas kami -pada orang awam umatnya nabi) wa 'ala 'ibadillahis solihin (dan kepada hamba-hamba Allah yang soleh).
Siapa yang dimaksud soleh? Innama yakhsyalllaha min 'ibadihil 'ulama. Alaa inna auliaa-allahi la khoufun 'alaihim walaa hum yakhzanuun, yaitu pewaris para nabi. Adab dan akhlak Nabi, ketika menerima perintah solat yang awalnya 50, beliau tahu bahwa umatnya tidak mampu, namun dengan ketinggian akhlak dan adabnya, Nabi menerima titah tersebut.
Ketika Nabi bertemu Nabi Musa dan bolak-balik kepada Allah, disini ada rahasia. Setiap kali Nabi bertemu Allah, akan bertambah asror, nur, dan rahasia dari Allah, sehingga yang pertama kali kecipratan nur, asror, dan anugrah Allah melalui Nabi Muhammad ialah Nabi Musa.
Di kitab Jami' Karomatul Aulia, juz awal bab Ta'riful Wali halaman 66/67, keterangan inna aulia-allahi la khoufun 'alaihim walaa hum yahzanun, Allah membuat kepala ulama dan para wali yang disebut dalam tasawuf sebagai al-Quthbu / wali kutub, yang mana setiap zaman ada wali quthbil aqthab (kutubnya para wali kutub). Ada yang ghouts ada yang tidak. Ghouts ialah wali yang dijadikan rujukan umat dalam hal apapun, dan pecahan ghouts ini banyak.
Selanjutnya di bawah quthbil aqthab dan quthbil ghouts diantarnya ialah pembesar ulama thariqah. Imam Syafi'i termasuk qutbil autad, Sayidina Syekh 'Abdul Qodir al-Jailani qutbil ghouts, juga Syekh Ar-Rifa'i, dam Syekh Ibrohim Ad-Dasuki. Termasuk qutbil ghouts yang mashur di tanah Jawa ada 3, yakni Maulana Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Sultonul Ulama wal Aulia Syekh Ibrohim (Sunan Bonang), dan 'Abdul Fuqoro wal Masakin Maulana Qosim (Sunan Drajat). Estafet beliau di antaranya ialah Habib Husain bin Abu Bakar al-'Aydarus Luar Batang, Mbah KH. Minhajul 'Abidin Solo, Mbah KH. Muhammad Hanafi Njaha-Cirebon, Mbah Ahmad Anwarudin Krian-Cirebon (Syattariah).
Rahasia Nabi isro' 'minal masjidil harom' ialah; kenapa dari Masjidil Harom? Karena di situ banyak peninggalan sejarah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Siti Hajar. Di situ juga ada tempat kelahiran Nabi.
Coba tengok. Berapa sejarah kiai-kiai kita yang hilang? Contoh Mbah KH. Suhrowardi adik dari guruku Mbah Kiai Mansur Kalimati Tegal, beliau orang biasa yang luar biasa. Kita tidak boleh melupakan sejarah. Guru saya KH. Abdul Malik (Purwokerto) ialah orang yang ketika mau makan menggunakan pakaian lengkap, baju rapi, pakai kopyah dan sarung yang bagus.
Ketika saya bertanya, "kulo diajari adabe maem, Yai." Beliau menjawab, "Sega karo banyune kuwe makhluk, sega kuwe ikhtiar luruh wareg, nek diizini ya wareg, mbok mangan sewakul nek ora diizini Allah ya ora wareg. Aku kaya kie merga ngormati sing maringi rizki."
Kalau orang beri'tiqod nasi itu bikin kenyang, itupun termasuk syirik. Jangan melulu menyalahkan orang datang ke kuburan dengan tuduhan syirik, karena banyak di keseharian kita kalau tidak hati-hati menyebabkan syirik. Contoh: i'tiqod nek ora mangan mati, dokter lan pil marasake, dan sebagainya.
Tanpa disadari ketika kita makan itu muncul takabur, contoh ketika makan ada sebutir nasi yang jatuh kita meremehkan dan mengatakan, "Ah, mung sa' upa be, kayong diperhatikna nemen, emange gara-gara sa' upa aku mati?" Tanpa kita sadari kita sombong gara-gara satu butir nasi yang jatuh. Kalau tidak mampu, ya ambil dan dimakan lagi kalau masih layak, bukan gara-gara sebutir nasinya, tapi kita menghormati yang membuat karena kita tidak mampu untuk membuat meskipun hanya sebutir nasi. Di dalam sebutir nasi itu banyak yang andil; sing nandur, sing ngrabuki, sing njaga hama, pas panen, berapa tangan yang sudah andil? Belum lagi kompornya, apinya, airnya, pun ikut andil untuk menjadikan sebutir nasi.
Itu baru sebutir nasi. Lalu bagaimana dengan bangsa ini? Bagaimana dengan agama ini? Apa ulama cuma satu? Tidak! Banyak sekali yang telah ikut andil besar dalam menyiarkan syariat dan thariqat.
Ulama yang masuk ke Indonesia abad 16 M, di antaranya Maulana Jamaludin Husein tinggal di Pasai. Pada era Maulana Malik Ibrohim dan Maulana Ibrohim Asmoroqondi (ayah Sunan Ampel) ada 90 pimpinan ulama yang di sebut Al-Maghrobi. Beberapa ratus ulama yang disebut 'Al-Maghrobi', lebih dari 400 yang terpencar di seluruh indonesia, yang pertama kali turun di Semarang.
Pada zaman Walisongo sudah ada yang masuk ke Tegal, seperti contoh Sayyid Ahmad Al-Maghrobi, Maulana Ibrohim Al-Maghrobi di Suro Perlawen, belum lagi Al-Maghrobi yang lain seperti Sayyid Muhamad bin Abdurrohman yang terkenal dengan nama Kanjeng Sunan Panggung. Murid beliau yang terkenal di antaranya Ki Ageng Sebayu yang punya anak perempuan dan dinikah oleh Ki Ageng Hanggawana dan mendapat menantu Sayid Maulana Abdul Ghofar atau Adipati Romo yang terkenal ada di Kalisoka Tegal, dan beberapa keturunan Hanggawana yang menjadi ulama dan bupati di Tegal.
Tegal ini banyak sejarahnya, tapi mana? Mana catatan-catatan sejarahnya? Takut takabur kalau diketahui nasab kalian? Coba siapa tokoh di Danawarih Tegal selain Habib Zein Baraqbah? Sejarah Kiai Abdul Mu'ti Babakan? Kiai Hisyam? Kiai Abdul Malik? Kiai Umar Yomani? Kiai Chudori? Kiai Masyhuri? Kiai Siroj Lebaksiu? Kemana sejarahnya beliau? Kiai Romdlon? Kiai Abdullah Lemahduwur? Kiai Umar Kebasen? Kiai Ubaidah, Kiai Said, Kiai Mustofa, Kiai Maarif, Giren? Kiai Barmawi, Kiai Abu Su'ud, Kiai Muhamad Abdul Bari, Kiai Abdulloh Karangayar? Kiai Muhibin Randugunting? Kiai Hasan, Kiai Baydowi, atau Kiai Abdullah Keputihan yang merupakan awal mula Naqsyabandiah di Tegal? Di mana sejarahnya? Catat wahai kaum muda, catat!
Guru saya KH. Muhamad Ilyas Sokaraja saat beliau pulang dari Mekah di perintahkan gurunya untuk mampir dulu ke saudara seguru yaitu KH. Abdullah Keputihan Tegal. Siapa beliau? Beliau adalah mursyid naqsyabandi dari Sayyid Sulaiman Zuhdi dari Sayyid Sulaiman Al-Ghorimi dari Sayyid Abdulloh Afandi dari Maulana Kholil Mujadid dari Sayyidi Abdulloh Dahlawi dari Sayyidi Syamsuddin Habibullah Mudohir dari Sayyidi Syekh Muhamad Nuruddin dari Imam Saifudin Alfaruqi dari Syekh Muhamad Ma'sum Alfaruqi dan seterusnya.
Para pemuda harus mencatat sejarah para pendahulunya! Kalau tidak dicatat akan hilang ditelan zaman. Kalian jangan sembarangan, di Tegal ini gudangnya para ulama, para aulia, gudangnya habaib yang luar biasa. Namun tuntutan batiniah kita mengatakan; kemana para beliau? Jangan kalah sama yang lainnya, seperti kaum Buddha ketika ditanya sejarahnya maka ia akan menunjukan tempat semedi Buddha, bisa menunjukan bekas-bekas Trimurti, bekas-bekas candinya dulu, sampai Candi Ainta yang berumur 3000 tahun, dan bantalnya yang masih ada tersimpan di Himalaya. Hal itu, paling tidak, menambah keyakinan pengikutnya.
Peninggalan Nabi Muhamad dihancurkan dengan alasan yang dibuat-buat berupa syirik. Bagaimana generasi Islam ke depan kalau tidak ada bekas sejarahnya Nabi Muhammad? Maka Nabi Muhammad akan dianggap fiktif/dongeng belaka.
Saya malu melihat bendera Merah Putih berkibar, di mana kita ketika masa perjuangan kemerdekaan? Di mana kita pada masa kemerdekaan? Kita bangsa Indonesia dininabobokan dengan ribut-ribut, dipecah belah agar tidak bisa bersatu dan kompak, antara TNI-Masyarakat, pemerintah-masyarakat, Polri-masyarakat, agar terus meributkan perkara yang sepele. Padahal bersatunya seluruh elemen bangsa akan lebih dahsyat dari bom nuklir dan kekuatan apapun.
Tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita tergolong orang yang mengecewakan Nabi, mengecewakan para pahlawan?
Tanyakan pada diri kita masing-masing.
Inti dari peringatan maulid nabi ini adalah untuk mengkatrol dan membangkitkan semangat membangun bangsa ini. Buktikan! Jangan cuma di mulut saja.
*Artikel ini merupakan Ikhtisar Mauidzoh Hasanah Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan pada acara Maulid Nabi Muhammad di Majlis Sholawat Mahabbatul Mustofa PP. Al-Abror Yamansari Lebaksiu Tegal, 22 Desember 2015. Reporter: Ahmad Hasby Faqih Elyamani

Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: