Senin, 03 April 2017

Al-Qur’an Dipahami dari Terjemahan Sama dengan Orang Awam Praktik Dokter

MusliModerat.net - Ucapan kebencian, caci makian, cemoohan, dan bahkan hinaan begitu derasnya tersebar di dunia maya. Ada yang menggunakan bahasa-bahasa kotor seperti nama hewan. Ada yang menuduhnya dengan sebutan antek asing, aseng, liberal, syiah, dan lainnya. Hinaan tersebut dialamatkan kepada siapa saja yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka dan dinilai merugikan kelompoknya. 

Mereka tidak segan-segan untuk menyerangnya dengan berbagai macam cemoohan itu. Bahkan, ulama-ulama atau pakar-pakar keislaman yang puluhan tahun mengkaji dan belajar tentang Islam pun tidak lepas dari segala bentuk cacian tersebut. 

Terkait hal itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj atau yang akrab disapa Kiai Said mengajak kepada seluruh umat Islam untuk terus belajar dan memahami Islam dengan pemahaman yang benar. 

Ia mengkritik siapa saja yang menggunakan dalil Al-Qur’an dan Hadis sesuai dengan kepentingannya sendiri. “Jangan seenaknya sendiri menggunakan Al-Qur’an dan Hadis,” kata Kiai Said di gedung PBNU, Senin (3/4).  

Kiai kelahiran Cirebon tersebut menilai, memahami kitab suci umat Islam itu tidaklah gampang. Seseorang tidak bisa memahami Al-Qur’an secara utuh kalau hanya mengandalkan terjemahan. 

Kiai Said kemudian mencontohkan, orang yang memahami Al-Qur’an dengan modal terjemahan sama dengan orang awam yang membaca buku kedokteran, lalu ia membuka praktik. “Saya baca buku kedokteran, tetapi kemudian membuka praktik. Apakah itu boleh? Jangan ikut campur apa yang enggak kamu tahu!” lanjutnya.

Selain itu, alumni Universitas Umm al-Quro Mekkah ini menilai, butuh waktu yang tidak sebentar untuk memahami Al-Qur’an. Ia sangat menyayangkan banyak tokoh-tokoh yang puluhan tahun mempelajari Islam dan Al-Qur’an dicemooh bahkah dikafir-kafirkan hanya karena pemahamannya berbeda dengan mereka yang baru saja belajar tentang Islam.

“Pak Quraish, berapa puluh tahun,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi/NU Online 

Advertisement