Pasca Aksi 212, NU Sendirian Menghadapi Wahabi

MusliModerat.net - Hari ini sama gentingnya ketika Mbah Hasyim Asy’ari mencemaskan perkembangan Wahabi di Indonesia. Waktu itu masih ada Syaikhona Kholil, guru sekaligus pendamping yang mendorong untuk mendirikan jam’iyah untuk melawan wahabisasi. Lahirlah Nahdlatul Ulama tahun 1926.
Sejarah juga mencatat peristiwa berdarah di Minangkabau bernama Perang Paderi. Perang ini sebab utamanya karena aliran Wahabi masuk ke Sumatera Barat melalui tiga orang haji dari Makah, Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang. Dengan semangat pemurnian agama mereka melakukan banyak pelarangan, ajaran Wahabi yang mereka bawa mendapat perlawanan dari kaum adat. Terjadilah perang besar dengan sesama saudara. Perang itu menjadi semakin rumit dengan turut campurnya Belanda.
Setelah Zakir Naik, tokoh Wahabi yang doyan polemik itu menemui Arifin Ilham, ia juga mengunjungi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Jika membaca berita poros Wahabi di Indonesia, mereka menyebut Jusuf Kalla yang mengupayakan kedatangan sang orator asal India itu. Benar atau tidak, tentunya itu versi mereka. Dan ini kabar yang sebenarnya mengkhawatirkan.
Tak lama kemudian disusul terjadinya peristiwa Sidoarjo, ulama Wahabi, Khalid Basalamah dilarang memberikan pengajian. Karena menurut masyarakat, dalam hal ini Banser atau GP Anshor, isi ceramah Khalid seringkali menyerang amalan NU. Peristiwa pembubaran semacam itu tentu disayangkan. Namun adakah cara lain untuk menghadang wahabisme? Bukankah NU memang lahir untuk melawan gerakan ekstrem itu?
Hari ini, NU sedang diserang habis-habisan oleh Wahabi, baik secara langsung atau tidak. Website Sangpencerah (Muhamadiyah) menyambut peristiwa Sidoarjo sebagai tindakan intoleransi NU. Pembubaran pengajian itu adalah celah untuk menyerang NU. Diakui atau tidak, ada semacam persaingan halus antara dua organisasi itu. Jadi, jika NU yang selama ini terkenal toleran, menurut mereka berubah jadi intoleran.
Pasca Aksi 212 Semua peristiwa itu sungguh mengejutkan. Tiba-tiba saja wahabisme berani muncul dengan terang-terangan di Indonesia. Setelah puluhan tahun mengalami hibernasi. Di TV, medsos, masjid, bahkan istana Negara, Wahabi dan simbol kebesarannya leluasa berjingkrak-jingkrak.
Muhamadiyah sebenarnya tak beda jauh dengan Wahabi. Jika mereka mendukung ulama Wahabi (baik diakui atau tidak) tak jadi persoalan besar. Ajaran mereka banyak miripnya. Bedanya mungkin, Wahabi melakukan pemurnian dengan paksaan. Mereka suka mengkafirkan dan menyesatkan. Namun jika nahdliyin kultural juga ikut mendukung Wahabi, ini adalah bencana.
Banyak orang begitu mencintai Zakir Naik, bersimpati pada Khalid Basalamah secara berlebihan. Hari ini, wahabisme tidak lagi menakutkan. Padahal semua teroris di dunia berpaham Wahabi. Saudi Arabia mengharamkan paham lain di negaranya. Padahal dulu, pengajian antar mazhab adalah hal biasa di dua masjid suci. Sekarang semua itu dilarang, hanya ada satu ideologi negara, yaitu Wahabi.
Rasa takut atas ancaman Wahabi tiba-tiba lenyap. Terlebih ketika Raja Salman yang juga Wahabi itu jadi idola.
Kenapa Ketua Tanfidziah PBNU Said Aqil Siradj tidak hadir di Istana saat ada kunjungan Raja Salman? Menurut Made Supriatma, kehadiran Said Aqil tidak disukai pihak Arab Saudi. Karena Said Aqil, atau NU secara umum, memang anti Wahabi. Oleh sebab itu Said memilih absen meski diundang.
Perkembangan Salafi-Wahabi memang pesat. Jawa Timur dan Jawa Barat dipenuhi jamaah mereka, jumlahnya terus meningkat. Dan saya mengamati, afiliasi tokoh-tokoh Wahabi seringkali menggunakan jasa Muhamadiyah. Peristiwa Khalid Basalamah itu konon juga di masjid Muhamadiyah. Terlihat di sini, Muhamadiyah sering memfasilitasi kegiatan Wahabi. Jadi jika memang Muhamadiyah menunggangi atau melindungi gerakan wahabisme, friksi dengan NU tak dapat dielakkan lagi dalam waktu dekat.
NU kultural yang setia masih berjumlah puluhan juta. Fanatisme mereka pada organisasi jangan diragukan lagi. Jika wahabisme, yang jelas menyerang NU ini dibiarkan bergentayangan, akan ada konflik, bahkan mungkin banjir darah. Inilah yang paling menakutkan. Padahal selama ini NU dan Muhamadiyah telah saling memahami perbedaan.
Hari ini dalam hal perlawanan terhadap Wahabi, NU mungkin sendirian, karena Muhamadiyah tampaknya telah main mata. Apalagi ketika Jusuf Kalla juga agaknya telah membuka pintu bagi mereka. Genderang perang telah ditabuh lebih keras. Medan laga terhampar dan lasykar telah dipersiapkan.
Penerimaan terhadap masuknya wahabisme semakin nyata. Tidak saja sebagian orang yang mengaku nahdliyin, ulama seperti Arifin Ilham, Yusuf Mansur, termasuk Jusuf Kalla sebagai wakil Pemerintah. Kalau perlu patut sekalian kita ucapkan, selamat datang dan menggelar karpet merah, “Marhaban bikum, ya Wahabiyuun…”
Drama telah dimulai, mari kita tunggu eskalasi konflik selanjutnya. Semakin NU diusik dan diserang, semakin kuat pula mereka memberikan perlawanan. Karena tujuan NU lahir adalah untuk membendung wahabisme. Mereka tak mungkin duduk bersama, baik dengan Zakir Naik, Khalid Basalamah, bahkan Raja Salman sekalipun. Sementara di seberang,  agaknya Muhamadiyah justru memberikan dukungan pada mereka.
Ini memang hari yang dipenuhi kecemasan….

Kajitow Elkayeni [SW]


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: